TRIBUNGAYO.COM - Menunaikan ibadah haji bukan hanya menuntut kesiapan spiritual, tetapi juga kesiapan fisik yang prima.
Hal ini penting karena rangkaian ibadah haji di Tanah Suci berlangsung padat, dengan aktivitas yang menguras tenaga, mulai dari thawaf, sa’i, hingga wukuf di Arafah.
Kondisi tersebut semakin menantang ketika dipadukan dengan cuaca ekstrem di Arab Saudi yang bisa mencapai suhu sangat tinggi.
Kombinasi antara aktivitas fisik yang intens dan paparan cuaca panas berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan.
Risiko ini semakin besar bagi jemaah yang memiliki riwayat penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, atau gangguan pernapasan.
Tanpa persiapan yang memadai, jemaah bisa mengalami dehidrasi, kelelahan, hingga komplikasi serius yang mengganggu kelancaran ibadah.
Dokter spesialis kedokteran olahraga, dr Andi Kurniawan Sp KO, mengingatkan kondisi tersebut berpotensi memperburuk penyakit kronis yang sudah ada.
"Penyakit yang sering muncul atau kambuh meliputi diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit jantung koroner," ujarnya, Minggu (12/4/2026).
Berikut lima hal yang harus diwaspadai para jemaah haji:
Lonjakan aktivitas selama haji dapat berdampak langsung pada kadar gula darah, baik menurun drastis maupun melonjak tinggi.
Hipoglikemia terjadi saat kadar glukosa turun di bawah 70 mg/dL.
Kondisi ini umum dialami penderita diabetes, meski bisa juga terjadi pada orang tanpa riwayat penyakit tersebut.
Sebaliknya, hiperglikemia muncul ketika kadar gula darah melonjak di atas 300 mg/dL.
Situasi ini sering dipicu oleh stres dan pola makan yang tidak terkontrol selama ibadah.
Tak hanya gula darah, tekanan darah juga rentan meningkat selama ibadah haji.
Kombinasi kelelahan fisik, dehidrasi, serta paparan suhu tinggi menjadi faktor utama pemicunya.
Kondisi ini berbahaya, terutama bagi jemaah dengan riwayat hipertensi atau gangguan jantung.
"Aktivitas fisik yang mendadak berat pada jamaah dengan faktor risiko metabolik juga dapat memicu serangan jantung akut," kata dr Andi.
Agar ibadah berjalan lancar, persiapan fisik sebelum keberangkatan sangat penting.
Pemeriksaan kesehatan menyeluruh dan latihan fisik dianjurkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Bagi jemaah dengan penyakit penyerta, kesiapan obat juga wajib diperhatikan.
Dr Andi menyarankan agar jemaah yang rutin mengonsumsi obat membawa persediaan lebih banyak dari kebutuhan normal.
Setidaknya, obat dibawa sebanyak 1,5 kali dari durasi perjalanan dan disimpan di tempat yang mudah dijangkau.
Langkah ini penting untuk mengantisipasi keterlambatan atau kondisi darurat selama menjalankan ibadah.
Ibadah haji memang menuntut fisik yang prima. Namun, mengenali batas kemampuan tubuh menjadi hal yang tidak kalah penting.
Mengabaikan sinyal tubuh bisa berujung pada kondisi serius yang justru mengganggu kelancaran ibadah. (*)
Baca juga: 13 WNI Dicegat di Dua Bandara Usai Coba Berangkat Haji Tanpa Visa Resmi
Baca juga: Lengkap! Doa Berangkat Haji dengan Teks Arab, Latin dan Artinya
Baca juga: Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Pastikan Kesiapan Avtur untuk Penerbangan Haji 2026