Tragedi Bocah Hanyut di Pantai Ujung Karang Padang, Warga Ungkap Adanya Palung dan Karang Tajam
Rahmadi April 26, 2026 07:02 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Pantai Ujung Karang, Kelurahan Ulak Karang Utara, Kota Padang menjadi saksi hilangnya dua bocah yang hanyut terseret ombak saat berenang pada Sabtu (18/4/2026).

Di balik keindahan pemandangan pantainya, warga mengungkap adanya ancaman maut berupa terumbu karang tajam di bawah permukaan air.

Kondisi bawah laut di Pantai Ujung Karang, Kota Padang memang sangat mematikan bagi anak-anak maupun orang dewasa. 

Selain memiliki terumbu karang yang tajam, terdapat palung dalam di balik barisan karang yang seringkali tidak terlihat oleh wisatawan dari permukaan air.

Melihat risiko yang ada di Pantai Ujung Karang Padang, warga meminta pemerintah segera memasang plang peringatan di sepanjang tepi pantai.

Keberadaan plang tersebut dinilai penting sebagai pengingat visual agar orang tua lebih waspada dan tidak membiarkan anak-anak bermain air tanpa pengawasan.

PENCARIAN KORBAN HILANG - Warga sekitar, Sri Puji Astuti saat ditemui di atas batu Pantai Ujung Karang, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sabtu (24/4/2026) kemarin. Sri sebut plang tersebut berfungsi sebagai pengingat bagi pengunjung, karena larangan dari masyarakat tidak efektif.
PENCARIAN KORBAN HILANG - Warga sekitar, Sri Puji Astuti saat ditemui di atas batu Pantai Ujung Karang, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sabtu (24/4/2026) kemarin. Sri sebut plang tersebut berfungsi sebagai pengingat bagi pengunjung, karena larangan dari masyarakat tidak efektif. (TribunPadang.com/Muhammad Iqbal)

Baca juga: Borneo FC Tak Pernah Keluar 3 Besar Super League Sejak Agustus, Fabio Lefundes: Kami Jaga Motivasi

Permintaan ini disampaikan oleh sejumlah masyarakat, usai dua bocah hanyut saat berenang pada Sabtu (18/4/2026) siang lalu.

Hingga kini, jasad kedua bocah tersebut belum kunjung ditemukan. Sejak hari pertama hingga ketujuh pencarian oleh Tim SAR gabungan, belum juga membuahkan hasil.

Untuk itu, masyarakat meminta pemerintah setempat segera mendirikan plang larangan berenang di pantai, usai kejadian tersebut.

Masyarakat, Mayang mengatakan bahwa untuk antisipasi wisatawan atau warga dari daerah lain berkunjung ke Pantai Ujung Karang, hendaknya diberi peringatan menggunakan plang.

Baca juga: Borneo FC Tekuk Semen Padang FC 3-0, Pesut Etam Samai Poin Persib Bandung di Puncak Klasemen

Dengan begitu, pengunjung dapat membaca larangan tersebut dan berpikir dua kali untuk berenang.

"Kalau ada plang, pengunjung jadi tahu, dan tidak mau berenang atau membiarkan anaknya main air tanpa pengawasan," ucap Mayang saat dikonfirmasi, Minggu (26/4/2026). 

Kata dia, kondisi laut di Pantai Ujung Karang cukup berbahaya untuk aktivitas berenang. Hal ini dikarenakan banyaknya terumbu karang tajam dan palung di baliknya.

Selain itu, kondisi air laut juga keruh pasca material banjir bandang akhir November 2025 lalu menumpuk di dasar laut.

"Tentu kondisi ini sangat berbahaya, masyarakat sekitar saja tidak mau berenang, karena tahu bahayanya," ucapnya.

Baca juga: Calya Angkut 7 Orang Tabrak Mobil Parkir di Sungai Rumbai Dharmasraya, Satu Kendaraan Terbalik

Senada, Sri mengatakan plang tersebut harus didirikan di sepanjang Pantai Ujung Karang. Selain sebagai pengingat, pengunjung juga lebih berhati-hati saat bermain air laut.

Kata dia, jika hanya mengandalkan larangan dari masyarakat setempat tidak akan efektif.

"Kalau masyarakat melihat, bisa lah melarang, jika tidak ada yang melihat, tentu akan terjadi lagi," sebutnya.

Pantauan TribunPadang.com di lapangan, tidak terlihat plang peringatan dilarang berenang di sekitar Pantai Ujung Karang.

Kondisi pantai belakang UBH tersebut memang sering dijadikan objek wisata oleh masyarakat sekitar maupun luar daerah.

Sebab, kondisi tepi pantai yang rindang dan pemandangan sunset saat sore menjelang malam begitu indah.

Hanya saja, plang peringatan dilarang berenang di pantai tersebut tidak terpasang. Tentu, warga luar daerah tidak mengetahui kondisi laut di sana.

Begitu juga dengan permintaan masyarakat kepada pemerintah setempat, setelah dua bocah hanyut saat berenang di pantai tersebut.

Baca juga: BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Sumatera Barat Hari Ini: Hujan Lebat Intai 9 Wilayah

Bocah Tenggelam

Berawal saat piknik, Mayang bersaudara dan temannya menyaksikan dua bocah hanyut di Pantai Ujung Karang, belakang kampus UBH, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sabtu (18/4/2026) siang lalu.

Kejadian itu tak pernah mereka duga, sebab saat piknik di batu pinggir pantai Ujung Karang, harus menyaksikan kejadian tragis tersbeut.

Empat orang ini merupakan saksi mata, mereka di antaranya Annisa Nurfenti (30), Mayang Permata Sari (28), Dian Milasari Eka Putri (37) dan Sri Puji Astuti (33).

Setiap Sabtu sore, mereka selalu duduk bersama sembari membawa anak-anak masing-masing untuk menikmati pemandangan pantai.

Mereka juga makan bersama, menyuapi anak di bawah pohon rindang dan angin sepoi-sepoi.

Baca juga: Meski Bumbu Dapur Naik, Harga Daging Sapi di Solok Selatan Masih Anteng

Saat piknik dan makan itulah, datang segerombolan bocah SD, dua di antaranya merupakan korban hanyut di Pantai Ujung Karang, yakni Rasyid (8) dan Zafran Al Malik Akbar (9).

Korban masih belum ditemukan hingga hari ketujuh pencarian oleh Tim SAR gabungan. Kemudian pada hari kedelapan, BPBD bersama nelayan setempat juga sempat melakukan pencarian.

Namun, keberadaan dua korban ini masih belum ditemukan. Sehingga, TribunPadang.com mencoba menggali informasi mengenai kronologi kejadian kepada saksi mata.

Berdasarkan pengakuan Mayang Permata Sari (27), bocah tersebut datang sebanyak enam orang ke Pantai Ujung Karang.

Merasa curiga gerombolan bocah tersebut ingin berenang, Mayang bersama teman-temannya lantas melarang mereka.

"Saya, kedua kakak serta teman sempat melarang mereka mandi-mandi, namun tidak didengarkan. Kami ketika itu duduk di batu, sembari menyuapi anak makan," kata Mayang saat ditemui di Pantai Ujung Karang, Sabtu (25/4/2025).

Baca juga: Siapkan 1.700 Agen Pendamping, Kota Padang Siap Jadi Percontohan Penyaluran Bansos Digital

Akan tetapi, gerombolan bocah itu tak mengindahkan dan langsung pergi ke tepi pantai untuk berenang.

Ketika itu ujar Mayang, kondisi laut memang sedang surut. Lantas, Mayang bersama saudara serta temannya lanjut makan.

Beberapa menit berselang, Mayang menyaksikan satu orang dari enam anak terseret ombang. Sebelumnya dua di antara mereka berenang di pinggir pantai.

Empat lainnya berenang sedikit ke bagian tengah dan hanyut saat tersapu oleh ombak.

Namun, ombak terus membesar hingga dua dari empat orang gerombolan bocah tersebut terseret ke bagian tengah.

Baca juga: Harlah Ke-92 GP Ansor di Sijunjung: Merawat Moderasi Beragama dan Stabilitas Sosial

Bahkan, makanan mereka terpaksa harus ditinggalkan. Pikiran mereka hanya terfokus untuk menyelamatkan korban.

Akan tetapi, besarnya ombak dan banyaknya karang, Mayang tak mampu menyematkan bocah tersebut. Sebab, posisinya semakin menjauh ke tengah laut.

"Saya ingin menyelamatkan, namun posisinya semakin ke tengah, banyak karang dan di balik karang airnya dalam. Saya tak sanggup, apalagi perempuan," sebutnya.

Sementara Annisa, Dian dan Sri meminta pertolongan warga sekitar hingga nelayan yang melaut untuk meminjam ban dalam.

Bantuan ban dalam sempat datang dari nelayan, namun, kedua korban sudah menghilang akibat air laut pasang saat kejadian.

Bahkan, bantuan dari mahasiswa UNP yang sedang berada di kampus UBH juga datang kata Mayang. Mereka berenang menyelamatkan korban hingga kakinya terluka.

Baca juga: Jadwal Pacu Jawi Tanah Datar Mei 2026, Digelar Setiap Sabtu di Sawah Gawuamg Padang Laweh

Namun korban tak berhasil diselamatkan, lantaran sudah tak nampak dari pandangan akibat terbawa arus ombak ke tengah laut.

"Mahasiswa UNP ini berenang untuk menyelamatkan, kaki mereka terluka karena karang. Selain itu, bantuan yang dicari Dian, Sri dan Annisa juga datang, nelayan setempat langsung berenang, namun korban sudah hilang, mungkin karena sudah kehabisan napas," ujarnya.

Hingga akhirnya, masyarakat satu persatu berdatangan ke pinggir pantai. Tak lama berselang, TIM SAR datang untuk melakukan pencarian.

Sampai pencarian hari ketujuh, korban tak kunjung ditemukan. Mayang beserta saudara dan temannya masih memikirkan mereka.

Ingin mencoba menyelamatkan, hanya saja kondisi laut yang tak memungkinkan. Hingga kini, mereka hanya berharap jasad mereka bisa ditemukan.

"Harapan saya dan yang lainnya bisa ditemukan jasad mereka, karena masih terbayang-bayang hingga sekarang," tambahnya.

Kesaksian yang sama juga diberikan oleh Dian, Annisa dan Sri saat ditemui di Pantai Ujung Karang pada Sabtu (25/4/2026).

Mereka mengungkapkan kisah yang sama dengan Mayang, mencoba menyelamatkan namun kondisi laut tak memungkinkan.

Mereka hanya mampu meminta tolong kepada warga dan nelayan setempat untuk membantu korban hanyut. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.