Pelaku Usaha RI Diajak Lebih Tangguh Hadapi Guncangan Ekonomi Pasca-Blokade Selat Hormuz
Choirul Arifin April 26, 2026 08:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di tengah lanskap ekonomi global yang diwarnai memanasnya tensi geopolitik di jalur vital Selat Hormuz, para pelaku usaha Indonesia dituntut memiliki ketangguhan tinggi agar tetap survive.

"Ketika Selat Hormuz bergejolak, dampaknya instan ke dompet pengusaha di Indonesia melalui kenaikan harga BBM non-subsidi. Pemimpin bisnis harus memiliki 'kuda-kuda' yang kuat dan kecerdasan geopolitik untuk menavigasi kapalnya agar tetap berdampak," kata Ketua Dewan Pembina Gemantara Indonesia, Fahmi di acara Halal Bihalal 2026 yang diselenggarakan Gemantara Indonesia, Minggu (26/4/2026).

Fahmi menyoroti kerentanan sistem energi dunia saat ini sejak gejolak di Timur Tengah terjadi. 

Dengan harga minyak mentah dunia yang menembus angka psikologis USD 100 per barel akibat gangguan di Selat Hormuz, pengusaha Indonesia kini menghadapi ancaman nyata pada struktur biaya logistik dan produksi.

Selat ini menjadi alur bagi pengiriman 25 persen pasokan minyak ke berbagai negara.

Presiden Gemantara Indonesia, Puguh Wiji Pamungkas, menambahkan, kenaikan harga BBM per 18 April 2026 (di mana harga Dexlite mencapai Rp23.600 dan Pertamina Dex Rp23.900 di wilayah Jawa) harus disikapi dengan kalibrasi ulang misi bisnis agar tetap relevan dan resilien.

Baca juga: Alotnya Negosiasi 2 Kapal Pertamina di Hormuz, Pakar Singgung Catatan Merah RI di Mata Iran

Direktur Utama PIP DJBP Kemenkeu, Ismet Saputra, memaparkan peluang pembiayaan pemerintah di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi regional Asia Timur yang diprediksi Bank Dunia turun ke level 4,2 persen pada 2026.

Sekjen Gemantara Indonesia, Firdaus Usman, turut meluncurkan tiga program strategis sebagai langkah "Reaktivasi Misi" tahun ini, yakni Leadership Camp: membentuk pemimpin yang mampu mengubah kerapuhan (brittle) menjadi kekuatan.

Kedua, CCG Business Visit to China: mencari alternatif rantai pasok dan peluang pasar di tengah ketidakpastian jalur perdagangan Barat.

Ketiga, Kurban Raya Gemantara: aksi nyata kepedulian sosial untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah inflasi energi.

Baca juga: Indonesia Masuk Survival Mode, Purbaya: Nggak Ada Lagi Main-Main

"Ketiga program ini adalah manifestasi dari nilai inti kami. Kami ingin memastikan setiap member Gemantara tidak hanya 'bertahan' secara ekonomi, tapi tetap 'berdampak' bagi bangsa meskipun badai geopolitik melanda," tutur Firdaus.
 
Gemantara Indonesia adalah Collaborative Ecosystem Builder, wadah kolaborasi pengusaha nasional yang berfokus pada pengembangan kapasitas bisnis, kepemimpinan, dan kontribusi sosial berbasis nilai-nilai kebangsaan dan profesionalisme.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.