POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Kenaikan harga plastik yang mencapai 70 persen sejak dua minggu terakhir menjadi pukulan telak bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Belitung Timur, Minggu (26/4/2026).
Di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang, para pemilik usaha kini harus memutar otak agar bisnis mereka bisa tetap berjalan.
Satu di antara yang merasakan dampaknya adalah Awe (36), pemilik gerai Wajah Baru Coffee di Teras Manggar, Desa Mekar Jaya, Kecamatan Manggar.
Saat ditemui di kedainya pada Minggu (26/4/2026), pria ini nampak sedang sibuk menghitung kembali catatan modal di balik meja kasir.
Awe mengatakan kenaikan harga plastik ini bukanlah perkara sepele bagi kedai kopinya.
Sebagai pengusaha minuman, plastik adalah komponen utama dalam pengemasan produk, terutama untuk pelanggan yang memesan secara take away.
"Ya kalau kebijakan dari pusat, mau tidak mau kita harus ikut. Cuma kita harus menyesuaikan harga jual lagi," ujar Awe.
Awe merasa terjepit di antara kenaikan biaya produksi dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.
Di satu sisi, Awe harus merevisi Harga Pokok Penjualan (HPP) agar usahanya tidak merugi. Di sisi lain, ia khawatir jika harga kopi dinaikkan, pelanggannya perlahan akan mundur karena ekonomi yang sedang sulit.
Awe merasa jika ia menaikkan harga jual di saat daya beli masyarakat sedang turun adalah langkah yang sangat berisiko. Namun, membiarkan harga tetap sama di tengah lonjakan harga bahan baku juga bukan pilihan yang bijak bagi keberlangsungan usahanya.
"Bingung juga, apakah harus naik atau tetap dengan harga yang sama padahal semua bahan baku serba naik. Jadi ya sulit, semuanya sekarang terasa sulit," ucapnya.
Kebutuhan plastik di kedai milik Awe tergolong cukup tinggi. Dalam satu minggu, ia memerlukan sekitar 300-500 cup plastik untuk melayani pesanan minuman.
Awe membandingkan hitungan pengeluarannya sebelum dan sesudah kenaikan harga terjadi.
Dirinya yang semula menghabiskan anggaran sekitar Rp800 ribu hingga Rp1 juta, jadi harus mengeluarkan dana yang lebih besar sekitar Rp1,5 juta per minggunya untuk wadah plastik.
"Itu baru untuk cup saja, belum termasuk plastik untuk bungkus luar dan kebutuhan kemasan lainnya," ungkapnya.
Oleh karena itu, Awe sekarang lebih teliti dalam memberikan sedotan atau kantong plastik tambahan kepada pelanggan.
Sejauh ini, Awe masih berusaha mempertahankan harga lama di menu Wajah Baru Coffee.
Namun, ia tidak menjamin ini akan bertahan lama jika perhitungan modalnya sudah tidak lagi menemui titik impas.
Awe berharap harga plastik ini bisa turun walaupun sedikit. Ia mengatakan hal tersebut akan memberikan "nyawa" bagi usaha mereka untuk terus bertahan.
"Harapannya ya turun lah, kalo sama dengan harga sebelumnya ya lebih bagus lagi. Cuma yah untuk sekarang kita ga bisa apa-apa, nunggu doang," tutupnya.
(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)