Baca juga: Hujan Lebat Tengah Malam, Ratusan Rumah di Muratara Sumsel Terendam Luapan Air Sungai
SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi (Staklim) Sumatera Selatan mengimbau pemerintah daerah, pelaku industri pangan, hingga masyarakat untuk mewaspadai dampak musim kemarau tahun 2026. Berdasarkan prediksi, kemarau tahun ini akan datang lebih cepat dan memiliki sifat yang lebih kering dibandingkan biasanya.
Kepala Staklim Sumsel, Dr. Wandayantolis, memberikan klarifikasi terkait informasi yang beredar di masyarakat mengenai fenomena "El Nino Godzilla". Ia menegaskan bahwa istilah tersebut tidak tepat dan dapat memicu kepanikan yang tidak perlu.
"Bukan El Nino Godzilla. Yang terjadi adalah variasi kategori lemah hingga kuat, bukan istilah yang mengerikan tersebut," tegas Wandayantolis, Minggu (26/4/2026).
Musim kemarau diprediksi mulai memasuki wilayah Sumatera Selatan pada akhir Mei 2026 dengan puncak kekeringan jatuh pada bulan Agustus.
BMKG memperingatkan bahwa sifat kemarau tahun ini berada di bawah normal (lebih kering), sehingga potensi kekeringan, kemunculan titik panas (hotspot), hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) harus diantisipasi sejak dini.
Hingga akhir April 2026, peluang curah hujan rendah (di bawah 40 persen) diprediksi masih terjadi di sebagian kecil wilayah OKI bagian selatan.
Sementara itu, peluang curah hujan menengah (di atas 80 % ) masih mendominasi sebagian besar wilayah Sumsel.
Adapun peluang curah hujan tinggi hanya sebesar 30 % , terbatas di sebagian kecil wilayah Musi Rawas Utara bagian barat.
Sinergi antara pemerintah dan BMKG diharapkan dapat mendampingi para petani dalam menjaga target produksi pangan agar kebutuhan pasar tetap terpenuhi meski di tengah tantangan cuaca ekstrem.
Baca juga: Setubuhi Remaja 13 Tahun Sebanyak 3 Kali, Pemuda di Prabumulih Mendekam Dalam Sel Tahanan Polisi