SURYA.CO.ID - Aipda Purnomo atau yang lebih dikenal publik sebagai "polisi baik" menjadi wisudawan Magister Ilmu Hukum di Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), Minggu (26/4/2026)m
Purnomo selama ini mendedikasikan hidupnya untuk merawat ratusan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Pada saat wisuda di Dyandra Convention Center, Purnomo mengenakan seragam polisi ditutup toga wisuda.
Purnomo menceritakan memori tentang kerasnya hidup di jalanan Surabaya.
Jauh sebelum menyandang gelar S2, ia merupakan seorang penjual soto di periode 1999–2000.
Setiap hari, ia bergelut dengan asap dapur dan cucian piring demi membantu ekonomi keluarga yang sedang terpuruk.
Purnomo tidak malu menceritakan bagaimana masa remajanya habis untuk bekerja di warung kopi milik ibunya, hingga sering menjadi bahan ejekan teman-temannya.
"Keluarga saya dulu terlilit banyak utang. Sebelum berangkat dan pulang sekolah, saya wajib bantu Ibu jualan. Saya melihat sendiri betapa getirnya hidup dalam himpitan ekonomi," cerita Purnomo.
Pengalaman pahit itulah yang kemudian menjadi bahan bakar pengabdiannya di kepolisian.
Setelah berhasil menjadi anggota Polri, ia memegang teguh janjinya untuk membantu sesama yang terpinggirkan.
Melalui yayasan yang didirikannya, ia kini tidak hanya menangani hukum, tetapi juga memanusiakan mereka yang dibuang oleh lingkungan.
Baginya, gelar Magister ini bukan untuk gagah-gagahan, melainkan pengingat bahwa hidup harus memiliki muara pengabdian yang jelas.
Baca juga: Pesan Maia Estianty ke El Rumi di Hari Pernikahan: Jangan Sakiti Hati Syifa, Itu Melukai Ibunya
Inilah kisah awal mula Purnomo membantu banyak orang, dikutip dari Kompas.com.
Perjalanan Ipda Purnomo membantu ODGJ bermula saat bertugas di Polsek Babat sebagai Bhabinkamtibmas di Kelurahan Banaran.
"Awalnya itu, saat saya masih dinas di Polsek Babat, dan jadi Bhabinkamtibmas di Kelurahan Banaran."
"Melihat ada ODGJ keliaran jadi kasihan, makanya muncul inisiatif menolongnya," kata Pak Pur.
Aksi tersebut terus berlanjut hingga mendapat dukungan sang istri.
"Bulan Maret besok itu, tahun kesembilan (menekuni menolong ODGJ), yayasan masuk tahun kelima."
"Istri mendukung, saat awal itu sampai ikut memandikan ODGJ yang saya bawa pulang ke rumah," katanya.
Ia juga menggunakan uang pribadi untuk merawat ODGJ, meski sempat mengalami kendala saat hendak menitipkan pasien.
"Oleh pihak rumah sakit ditolak, karena enggak ada KTP keluarga."
"Kemudian saya ditawari, agar ditaruh di yayasan swasta dengan biaya Rp 3,5 juta per bulan."
"Saya langsung dimarahi sama istri," kenang Pak Pur.
Dari situ, ia mendirikan yayasan sendiri.
"Kemudian, istri usul kepada saya agar bikin sendiri (mendirikan yayasan)," katanya.
"Awalnya itu disuruh ikut bernaung di bawah Dinas Kesehatan karena merawat ODGJ butuh obat."
"Tapi, karena tidak sekadar obat dan butuh keperluan lain yang dibutuhkan ODGJ, maka disarankan untuk ikut Dinas Sosial," ujar Pak Pur.
Saat ini, yayasannya merawat ratusan ODGJ dan mendapat tambahan pemasukan dari YouTube.
"Saya itu sedih namun bahagia. Sedih ketika melihat ODGJ dipasung seperti di Blitar, yang hendak saya ajak tapi ibunya menolak."
"Namun bahagia, ketika anak itu akhirnya sembuh dan memeluk ibunya saat dijemput di Lamongan," kata Pak Pur.
Selain itu, ia juga membantu 39 guru PPPK dengan total Rp 11,7 juta.
"Semoga dengan bantuan ini bisa memberikan keringanan kepada mereka. Dan bisa untuk membeli kebutuhan masuk bulan puasa ini," kata Purnomo.
"Alhamdulillah hari ini saya serahkan apresiasi ke pada 39 guru yang tidak diperpanjang SK mengajarnya," katanya.
“Semoga bantuan ini bisa sedikit meringankan beban dan menjadi penyemangat bagi para guru untuk terus berkarya,” ujarnya.
Ia juga membantu pemulung bernama Muntama dengan mengantar pulang dan memberi uang kebutuhan.
"Saya terenyuh dan saya beri Rp 1 juta untuk belanja keperluan selama Ramadan," kata Purnomo.