Keberhasilan ini tentu akan terasa lebih indah ketika buku-buku bermutu tidak hanya sampai di rak perpustakaan, tetapi juga menemui pembacanya dalam suasana hangat dan menyenangkan di seluruh penjuru negeri
Jakarta (ANTARA) - Membaca buku bagaikan upaya menjaga pelita tetap menyala. Di setiap halamannya, lembaran kertas menawarkan sebuah jeda. Saat aksara mulai membuka cakrawala, riuh di kepala perlahan mereda. Hanya ada keheningan dan ilmu yang menjelma semesta.
Setiap tanggal 23 April, kalender global menandai satu agenda besar, yakni peringatan Hari Buku Sedunia. Momentum yang dikenal sebagai World Book and Copyright Day ini salah satunya mengingatkan pentingnya membaca dan mengembangkan budaya literasi, mengingat buku adalah jendela dunia.
Bagi Indonesia, peringatan Hari Buku Sedunia menjadi momentum strategis untuk meningkatkan dan menguatkan literasi melalui bahasa dan sastra. Setidaknya, terdapat tiga alasan nilai strategis yang menjadi perhatian utama, yakni peran literasi sebagai fondasi karakter bangsa, pentingnya ketersediaan akses bacaan yang merata, serta transformasi bahasa sebagai kunci dalam meningkatkan daya saing sumber daya manusia.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Hafidz Muksin menegaskan bahwa ketiga alasan strategis tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjadikan literasi sebagai napas pembangunan.
Badan Bahasa menekankan bahwa kolaborasi antarlapisan masyarakat menjadi faktor penentu agar target penguatan literasi ini dapat tercapai secara maksimal.
Keberadaan buku berkaitan dengan konteks literasi dan bahasa. Dengan demikian, pengembangan dan akses buku yang mendukung literasi menuntut adanya ekosistem yang baik dan penguasaan kompetensi berbahasa yang mumpuni.
Kebiasaan membaca dan menulis yang merupakan bagian proses berliterasi membutuhkan media yang paling mendasar, yaitu buku. Pemikiran yang kritis juga dapat dihasilkan dari pembacaan buku yang baik dan berkelanjutan.
Selain itu, buku juga memberikan akselerasi budaya baca di tengah arus literasi digital. Buku merupakan media yang paling mendasar untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif.
Selanjutnya, literasi digital menjadi penguat pemahaman tersebut. Tanpa adanya basis pembacaan buku yang kuat tentu tidak akan menghasilkan kedalaman, terutama di tengah arus digital yang sangat kuat.
Hafidz Muksin berharap bahwa dasar literasi membaca yang berbasis buku bermutu menjadi dasar berliterasi di Indonesia. Literasi merupakan fondasi kebahasaan dan kesastraan yang diwujudkan dalam media buku.
Badan Bahasa berkomitmen mendukung dan mengembangkan ekosistem perbukuan melalui berbagai program pengayaan bahan literasi, baik dalam bentuk cetak maupun dalam bentuk digital.
Buku juga menjadi sarana pembentuk literasi inklusif dan kedaerahan untuk peningkatan pendidikan bermutu untuk semua. Melalui pengembangan buku yang berbasis pada kearifan lokal, diharapkan buku akan menjawab tantangan penguatan bahasa daerah yang perlu perhatian pada saat ini.
Guna mendukung visi tersebut, Badan Bahasa telah menjalankan langkah-langkah strategis dalam mendukung pemerataan akses buku melalui berbagai program.
Pertama, penyediaan bahan pengayaan literasi melalui sayembara penulisan buku bermutu, pendistribusian buku ke wilayah prioritas termasuk daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), penyediaan akses buku digital, serta penerjemahan buku asing dan daerah guna menambah variasi bacaan masyarakat.
Kedua, perluasan akses di ruang publik diwujudkan lewat penyediaan buku bacaan gratis di simpul-simpul transportasi massal yang secara bertahap akan menyentuh seluruh wilayah Indonesia secara serempak.
Ketiga, penguatan budaya baca diperkuat melalui pemberdayaan dan pemberian bantuan pembinaan kepada komunitas-komunitas literasi di berbagai daerah guna memastikan keberlanjutan gerakan literasi di tingkat akar rumput.
Solusi adaptif
Perspektif senada juga diungkapkan oleh Pengamat Komunikasi sekaligus Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Dr Edi Santoso. Dinamika literasi saat ini memerlukan pendekatan yang lebih segar dan relevan dengan perkembangan zaman, agar buku tetap memiliki tempat di hati masyarakat.
Salah satu hal yang perlu dikelola dengan bijak, menurut Edi, adalah dominasi konten digital yang sangat melekat pada keseharian generasi muda.
Kedekatan generasi Z dan Alfa dengan media sosial sebenarnya merupakan peluang yang dapat diselaraskan melalui pendekatan yang tepat, sehingga kedalaman pemahaman yang ditawarkan oleh buku tetap terjaga.
Tantangannya adalah bagaimana mengemas interaksi dengan buku agar terasa sama menariknya dengan arus informasi digital yang serba cepat.
Dengan pendekatan yang partisipatif, membaca tidak lagi dipandang sebagai sebuah keharusan formal, melainkan bagian dari gaya hidup yang menyenangkan, sarat makna dan inspirasi.
Pada akhirnya, literasi adalah tentang merawat harapan dan memperluas cakrawala masa depan. Berbagai langkah strategis yang telah diupayakan menjadi bukti bahwa semangat untuk mencerdaskan bangsa terus menyala.
Keberhasilan ini tentu akan terasa lebih indah ketika buku-buku bermutu tidak hanya sampai di rak perpustakaan, tetapi juga menemui pembacanya dalam suasana hangat dan menyenangkan di seluruh penjuru negeri.
Menutup momentum Hari Buku Sedunia ini, mari kita jadikan membaca sebagai bagian dari perjalanan menemukan hal-hal baru yang menginspirasi.
Cukup mulai dengan satu bacaan yang paling dekat dengan hati. Setiap buku yang dibuka adalah sebuah peluang untuk tumbuh, dan setiap cerita yang dibagikan adalah jembatan menuju hal yang lebih baik.
Mari bersama-sama menjaga nyala budaya baca ini agar terus memberikan warna bagi kemajuan bangsa.





