Kakek Eks Kuli Bangunan di Lampung Menabung untuk Naik Haji, Yang Lain Beli mobil Saya Pilih Ibadah
soni yuntavia April 26, 2026 10:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Di balik riuhnya keberangkatan ratusan jemaah Kloter JKG 07 di Asrama Haji Rajabasa pada Minggu (26/4/2026), terselip beragam kisah inspirasi dari para jemaah.

Di balik seragam batik jemaah haji yang dikenakan, terdapat cerita perjuangan bakti seorang anak kepada almarhum orangtuanya, hingga keteguhan hati para pekerja kasar demi menunaikan rukun Islam kelima di Tanah Suci.

Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Muhammad Rafif Endi (17), Remaja asal Bandar Lampung ini tercatat sebagai jemaah haji termuda di kelompok terbang (Kloter) JKG 07. 

Keberangkatannya tahun ini merupakan misi mulia, yakni menggantikan posisi almarhum ayahnya.

Sang ayah wafat pada tahun 2021 setelah menanti antrean haji selama sejak 2013. 

Kini, Rafif melangkah menuju Makkah bersama sang ibunda untuk menuntaskan impian almarhum.

"Awalnya gantiin ayah yang meninggal tahun 2021. Senang dan bersyukur sekali bisa berangkat di usia muda," ujar Rafif. 

Selain mendoakan almarhum ayahnya, Rafif membawa doa khusus di depan Kakbah.

"Doanya mau lulus SNBT, rencananya mau kuliah di ITERA," tambahnya.

Kisah tak kalah menyentuh datang dari Ngadimin (70), teman rombongan dengan Rafif di Kloter JKG 07. 

Pria yang bekerja sebagai buruh bangunan sejak tahun 1975 ini membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang.

Pendaftaran awal tahun 2013, ia tak menyerah hingga akhirnya bisa berangkat bersama istri, anak, dan menantunya.

"Saya terharu, saya kuli bangunan kok bisa berangkat. Yang lain mungkin beli mobil, tapi saya tidak mau. Saya pilih untuk ibadah," tegas Ngadimin. 

Total tabungan yang ia kumpulkan.merupakan hasil dari menyisihkan uang Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu dari setiap sisa upah kerjanya.

Senada dengan Ngadimin, Ismanto (76), rekan sekloternya, juga merupakan mantan kuli bangunan yang baru pensiun tahun 2023. 

Niat sucinya yang muncul sejak 2013 sempat diragukan sang istri karena masalah biaya.

Namun, Ismanto membuktikan keyakinannya. Selain dari kerja bangunan, ia menabung dari hasil berjualan sawi dan kangkung di pasar.

"Nabung pelan-pelan, jual sayur-sayuran. Hasilnya sedikit-sedikit ditabung, sisanya buat makan anak istri saja," kenang Ismanto.

Kisah Rafif, Ngadimin, dan Ismanto menjadi potret nyata bahwa panggilan ke Tanah Suci adalah tentang keteguhan niat, kesabaran dalam menanti, dan besarnya pengorbanan.


 ( Tribunlampung.co.id / Hurri Agusto )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.