Fakta Anak-anak Korban Daycare Little Aresha Jogja: Luka, Ketakutan, Sakit-sakitan, BB Turun
Dedi Qurniawan April 27, 2026 01:36 AM

POSBELITUNG.CO - Kasus kekerasan di Daycare Little Aresha yang berlokasi di Umbulharjo, Kota Yogyakarta, kini menjadi sorotan tajam publik nasional.

Pihak kepolisian telah menetapkan total 13 orang sebagai tersangka setelah melakukan penggerebekan pada Jumat (24/4/2026) kemarin.

Tragedi ini menambah daftar panjang kekerasan terhadap anak di lingkungan yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi masa pertumbuhan mereka.

Banyak orang tua kini melaporkan berbagai kejanggalan yang dialami buah hati mereka selama dititipkan di lembaga tersebut.

Salah satu indikasi kuat adanya penyiksaan sistematis adalah kesamaan pola luka yang ditemukan pada tubuh beberapa anak yang berbeda.

Noorman, orang tua yang menitipkan dua anaknya sejak 2022 hingga 2025, mengungkapkan adanya kemiripan luka fisik yang mencurigakan.

"Kemudian ada beberapa luka di bagian badan, tapi kebetulan anak saya juga pernah mengalami luka tersebut," jelas Noorman kepada media.

Ia menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres ketika menemukan bahwa anak orang tua lain memiliki luka yang identik di lokasi tubuh yang sama.

"Dan luka tersebut ternyata sama dengan luka anak orang tua lain yang anaknya dititipkan di sana, jadi kita tahu bahwa ternyata lukanya sama," tambah Noorman.

Pihak daycare seringkali melakukan manipulasi dengan berdalih bahwa luka tersebut dibawa oleh anak dari rumah masing-masing.

Noorman menirukan ucapan pengelola saat ia mengonfirmasi luka di punggung anaknya, "Jadi mereka bilang ini luka dari rumah ya, bun."

Padahal, para orang tua sudah memastikan kondisi tubuh anak mereka bersih dan sehat sebelum berangkat menuju Daycare Little Aresha.

Selain luka fisik akibat kekerasan, kondisi kesehatan umum para balita di daycare ini juga dilaporkan sangat memprihatinkan dan sakit-sakitan.

Choirunisa menunjukkan bukti tangan anaknya yang melepuh, namun pihak pengelola hanya berkilah bahwa itu adalah gejala cacar air.

"Kayak gini (melepuh) ini pas hari Jumat juga, dua minggu lalu. Bilangnya kena cacar air atau gimana," ujar Choirunisa dengan penuh rasa kecewa.

Ia merasa jawaban tersebut tidak masuk akal karena luka melepuh hanya terkonsentrasi di kedua tangan tanpa gejala cacar pada umumnya.

"Tapi kalau kena cacar air, itu cuma bagian tangan sini sampai ini saja. Itu tangan dua-duanya, seperti melepuh," tegasnya lagi.

Anaknya yang masih berusia 1,5 tahun juga mengalami penurunan berat badan yang drastis serta menderita batuk hingga muntah berkepanjangan.

"Dia pilek sampai sekarang belum sembuh. Terus batuk, biasanya nggak pernah batuk. Batuknya sampai muntah-muntah terus," ungkapnya sembari menahan tangis.

Kondisi psikis anak-anak korban Daycare Little Aresha di Jogja ini pun menunjukkan tanda-tanda trauma yang sangat nyata saat di rumah.

Anak Choirunisa kini sering menangis histeris dan menolak tidur di kasur karena sudah terbiasa dipaksa tidur di lantai tanpa alas.

"Dia menangis minta tidur di bawah, kebiasan di daycare ternyata tidurnya di bawah," terang Choirunisa mengenai perilaku janggal anaknya.

Gelagat ketakutan juga ditunjukkan oleh keponakan HF yang baru memasuki hari kedua penitipan di tempat tersebut.

"Baru masuk satu hari, di hari kedua anak sudah ketakutan. Setiap mau berangkat selalu bilang tidak mau, enggak mau," tutur HF.

Keponakannya yang baru berusia 3,5 tahun menyebutkan dengan polos bahwa para pengasuh atau 'miss' di sana sangat galak.

"Katanya miss-nya (guru) galak-galak. Awalnya kami pikir karena belum penyesuaian saja, tapi ketakutannya tidak wajar," tambah HF.

Kejanggalan lain dilaporkan oleh Aldewa mengenai ketidakakuratan laporan harian makanan yang diberikan oleh pihak daycare.

Meskipun laporan mencatat anak selalu menghabiskan makan siang dan camilan, berat badan sang anak tidak pernah mengalami kenaikan.

"Hal janggal mungkin soal bekal ya yang katanya selalu habis tapi tiga bulan terakhir, BB (berat badan) stuck atau tidak bertambah," kata Aldewa.

Ia menyadari bahwa selama ini pihak sekolah memberikan data palsu untuk menutupi kondisi penelantaran anak di dalam gedung.

"Awalnya saya pikir biasa ya ternyata memang laporannya tidak akurat," pungkas Aldewa menyesali kepercayaan yang telah ia berikan. (Tribunnews)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.