POSBELITUNG.CO - Tragedi memilukan menimpa Noorman Windarto, salah satu orang tua yang menjadi korban malpraktik pengasuhan di Daycare Little Aresha, Kota Yogyakarta.
Noorman mengaku sama sekali tidak menduga bahwa buah hatinya akan mengalami kekerasan fisik dan psikis di tempat penitipan anak yang berlokasi di kawasan Sorosutan, Kemantren Umbulharjo tersebut.
Ia bahkan tidak ragu membandingkan kondisi mengerikan di dalam gedung itu dengan penjara militer paling tersohor di dunia karena perlakuan yang dianggap sangat tidak manusiawi terhadap puluhan bayi dan balita.
"Ternyata begitu pas tahu di sana ada 50 lebih ya anak yang usia bayi sampai balita itu, wah luar biasa, ternyata nggak manusiawi. Kalau sama Camp Guantanamo katanya lebih sadis kamp ini," tegas Noorman usai menemui Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, di teras Rumah Dinas Wali Kota pada Minggu (26/4/2026).
Awalnya, Noorman Windarto dan istrinya merasa sangat yakin menitipkan anak mereka di Daycare Little Aresha karena profil lembaga yang terlihat sangat profesional.
Di depan pintu masuk, terpampang daftar pengelola dengan gelar pendidikan S2 serta klaim fasilitas tenaga medis yang lengkap, mulai dari perawat hingga bidan.
Sosok pemilik yayasan juga dinilai sangat lihai membangun citra positif dan menenangkan kekhawatiran orang tua melalui komunikasi yang persuasif, namun belakangan diketahui hal tersebut hanyalah strategi kamuflase semata.
"Body language ibunya itu bagus, komunikatif sekali. Kita dibikin tenang terus. Ternyata fasilitas kesehatan yang dijanjikan itu tidak ada. Konyolnya, kami tidak pernah menanyakan berapa jumlah anak di dalam karena akses kami dibatasi hanya sampai depan," jelas Noorman mengungkapkan penyesalannya.
Kenyataan pahit terkait kondisi di dalam Daycare Little Aresha mulai terungkap secara gamblang saat Polresta Jogja melakukan penggerebekan pada 24 April 2026.
Noorman yang awalnya mengira hanya ada masalah administratif kecil, langsung merasa lemas setelah melihat rekaman video dari pihak kepolisian yang menunjukkan kondisi interior bangunan dua lantai tersebut.
uangan yang pengap tanpa pendingin udara (AC) itu menjadi saksi bisu bagaimana anak-anak diperlakukan layaknya benda mati oleh para pengasuh.
"Anak ditelanjangin, hanya pakai popok, kemudian diikat pakai kain (dibedong secara paksa). Tidurnya pun hanya di atas playmat, bukan kasur seperti yang dijanjikan. Ada yang masih berdiri diikat di cagak pintu," ucap Noorman dengan nada getir menggambarkan kekejaman yang dialami para korban.
Dampak dari buruknya sanitasi serta sirkulasi udara di Daycare Little Aresha ini diduga kuat menjadi pemicu gangguan kesehatan serius pada anak kedua Noorman yang sudah dititipkan sejak usia tiga bulan.
Selama ini, Noorman merasa heran mengapa anaknya sering jatuh sakit, hingga akhirnya mendapatkan diagnosa medis yang mengejutkan.
"Anak saya yang nomor dua itu setiap bulan masuk rumah sakit, divonis pneumonia sejak bayi. Kami tidak nyangka kalau kondisi di sanalah yang menjadi penyebabnya," tambahnya.
Selain masalah pernapasan, anak perempuannya juga mengalami trauma psikis yang berdampak pada kebiasaan mengompol yang tidak wajar.
Noorman menjelaskan bahwa setelah mencari referensi medis, ia menyadari bahwa perilaku tersebut merupakan respons psikologis akibat rasa takut yang mendalam.
Hingga saat ini, bekas luka fisik seperti lebam di punggung dan luka di bibir masih terlihat di tubuh anak-anaknya, di mana pihak daycare selalu berkilah bahwa luka tersebut sudah ada sejak dari rumah setiap kali dikonfirmasi.
Secara psikologis, trauma yang dialami keluarga Noorman sangat mendalam, di mana sang anak sering menangis histeris setiap kali akan dimandikan pada hari kerja karena teringat perlakuan kasar di tempat penitipan tersebut.
Noorman merasa sangat terpukul dan merasa gagal menjaga amanah dalam menitipkan anak-anaknya.
Kini, ia bersama orang tua korban lainnya menuntut keadilan agar para pelaku di Daycare Little Aresha dihukum seberat-beratnya, melebihi ancaman minimal 5 tahun penjara, sementara Pemkot Jogja melalui UPT PPA terus memberikan pendampingan psikologis bagi para korban.
"Kita menunggu jadwal untuk pendampingan. Alhamdulillah ini Pemerintah Kota Yogyakarta sangat cepat. Kami selaku orang tua butuh pendampingan, apalagi anak. Jadi, dua-duanya kita dapat fasilitas dari Pemerintah Kota Yogyakarta," pungkas Noorman menutup keterangannya. (Tribunnews)