Achmad Firdaus Hasrullah
Mahasiswa Doktor Hubungan Internasional dari University People’s Friendship of Russia
HASIL pemilihan Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) untuk periode 2026–2030 baru saja memberikan sebuah pesan yang sangat kuat bagi dunia akademik Indonesia.
Dengan perolehan 23 dari 24 suara Majelis Wali Amanat, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., atau yang akrab disapa Prof. JJ, mendapatkan mandat legitimasi yang hampir mutlak.
Dari kacamata seorang akademisi yang saat ini sedang menempuh studi doktoral di Rusia, angka ini bukan sekadar statistik kemenangan biasa.
Dalam perspektif tata kelola perguruan tinggi modern, angka tersebut merupakan representasi dari sebuah konsensus besar atas keberlanjutan visi.
Jarak ribuan kilometer antara Moskow dan Makassar tidak menghalangi saya untuk melihat bahwa fenomena ini adalah sebuah sinyal positif bagi stabilitas institusi di tengah arus disrupsi global yang kian kencang.
Kemenangan ini harus dipandang sebagai sebuah kemenangan bersama bagi seluruh sivitas akademika.
Dalam tradisi universitas yang sering kali diwarnai oleh dialektika dan perbedaan pandangan, mencapai titik temu yang begitu masif adalah indikasi bahwa kepemimpinan pada periode pertama telah berhasil membangun fondasi kepercayaan yang solid.
Baca juga: Jadikan Unhas Arena Kontestasi Santun dan Panggung Eksekusi Nyata
Kepercayaan ini adalah modal utama bagi sebuah Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) untuk melakukan lompatan strategis.
Tanpa stabilitas internal, energi universitas akan habis terserap dalam dinamika politik kampus, namun dengan mandat kolektif ini, Unhas memiliki ruang gerak yang sangat luas untuk fokus pada akselerasi kualitas riset dan penguatan rekognisi internasional hingga tahun 2030.
Secara teoretis, kepemimpinan Prof. JJ dapat dianalisis melalui lensa transformational leadership yang dikembangkan oleh James MacGregor Burns.
Pemimpin transformasional bukan sekadar pengelola administratif, melainkan agen perubahan yang mampu meningkatkan motivasi dan moralitas seluruh elemen organisasi.
Selama periode pertama, kita melihat bagaimana atmosfer akademik di Unhas bergeser secara signifikan.
Dorongan terhadap publikasi internasional, peningkatan jumlah sitasi, dan penguatan jaringan kolaborasi global adalah bukti nyata dari upaya transformasi budaya kerja.
Beliau berhasil mengubah cara pandang dosen dan peneliti dari sekadar rutinitas mengajar menjadi dorongan untuk menghasilkan karya yang diakui dunia.
Mandat suara yang hampir bulat kemarin adalah bentuk "peer-review" kolektif yang menyatakan bahwa arah transformasi ini sudah tepat dan harus dilanjutkan.
Selain itu, keberhasilan beliau juga berkaitan erat dengan Social Capital Theory atau Teori Modal Sosial.
Robert Putnam menekankan bahwa keberhasilan sebuah sistem sangat bergantung pada tingkat kepercayaan dan jaringan di dalamnya.
Prof. JJ telah membuktikan kemampuannya sebagai seorang ilmuwan kelautan untuk menerapkan prinsip simbiosis ke dalam manajemen universitas.
Baca juga: Menyeimbangkan Visi dan Eksekusi: Kunci Transformasi Periode Kedua Unhas
Beliau tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi membangun jembatan komunikasi antara berbagai faksi dan lintas disiplin ilmu.
Kemampuan membangun jejaring ini pulalah yang sangat dirasakan oleh kami, para akademisi muda yang sedang berada di luar negeri.
Rekognisi global sebuah universitas sangat bergantung pada seberapa kuat nakhodanya mampu berdiplomasi di panggung internasional, dan dalam hal ini, Prof. JJ memiliki kapasitas yang sangat mumpuni.
Namun, di balik selebrasi kemenangan ini, tantangan besar telah menanti di cakrawala periode kedua.
Sebagai nakhoda yang memiliki latar belakang keilmuan ekologi laut, Prof. JJ tentu memahami bahwa laut yang tenang tidak akan pernah melahirkan pelaut yang tangguh.
Tantangan pertama yang sangat krusial adalah menjaga keseimbangan antara Glocalism yakni menjadi pemain global namun tetap memberikan dampak lokal yang nyata.
Unhas tidak boleh terjebak dalam perlombaan peringkat dunia hanya demi angka-angka di atas kertas.
Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana ribuan publikasi dan sitasi tersebut dapat dihilirisasi menjadi solusi konkret bagi masyarakat Indonesia Timur.
Hilirisasi riset di bidang pangan, energi, dan kelautan harus menjadi wajah nyata dari kepemimpinan beliau ke depan, sehingga Unhas benar-benar menjadi "Menara Air" bagi peradaban, bukan "Menara Gading" yang terisolasi.
Tantangan berikutnya yang tak kalah berat adalah adaptasi terhadap Kecerdasan Buatan (AI) dan digitalisasi pendidikan.
Dunia perguruan tinggi sedang menghadapi pergeseran fundamental dalam cara memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan.
Unhas di bawah kepemimpinan Prof. JJ harus mampu merumuskan arah kebijakan akademik yang integratif terhadap teknologi tanpa kehilangan sentuhan humanis dan etika ilmiah.
Ini menuntut kepemimpinan yang adaptif, sebagaimana teori Adaptive Leadership dari Ronald Heifetz, di mana seorang pemimpin harus mampu mengajak orang-orang di sekitarnya menghadapi perubahan yang tidak memiliki solusi teknis sederhana.
Prof. JJ harus mampu memandu Unhas melewati transisi digital ini dengan tetap menjaga kualitas integritas akademik yang tinggi.
Aspek kemandirian sebagai PTN-BH juga menjadi ujian bagi daya tahan institusi. Kemandirian finansial harus dicapai tanpa mengorbankan inklusivitas pendidikan.
Universitas harus tetap menjadi rumah bagi talenta-talenta terbaik dari pelosok nusantara tanpa terhalang oleh kendala ekonomi.
Di sinilah kepemimpinan Prof. JJ akan diuji untuk menciptakan model bisnis universitas yang kreatif dan berkelanjutan melalui optimalisasi aset intelektual dan kerja sama industri yang strategis.
Pengalaman beliau dalam memimpin berbagai lembaga penelitian akan menjadi modal berharga untuk mengubah Unhas menjadi pusat inovasi yang mandiri dan berdaya saing global.
Terakhir, regenerasi sumber daya manusia harus menjadi prioritas utama dalam periode 2026–2030.
Mandat yang beliau terima harus digunakan untuk mempersiapkan stok pemimpin dan peneliti muda yang handal.
Pengembangan kapasitas dosen muda dan pemberian ruang bagi diaspora untuk kembali berkontribusi ke almamater adalah langkah krusial untuk memastikan bahwa kemajuan yang dicapai saat ini tidak berhenti pada sosok beliau saja.
Keberhasilan seorang pemimpin sejati bukan hanya dilihat dari apa yang ia capai selama menjabat, melainkan dari seberapa banyak pemimpin baru yang ia lahirkan.
Dari perantauan saya di Moskow, saya melihat pelantikan kembali Prof. JJ esok hari sebagai sebuah awal dari perjalanan panjang yang penuh harapan.
Kita tidak hanya melantik kembali seorang figur, tetapi sedang meneguhkan komitmen untuk membawa Unhas melampaui batas-batas cakrawala yang ada saat ini.
Kemenangan mutlak ini adalah amanah besar untuk terus bekerja dengan data, integritas, dan keberanian.
Dengan dukungan kolektif yang begitu kuat, kita optimis bahwa Unhas akan terus berlayar menjadi mercusuar peradaban dunia, membuktikan bahwa dari Timur Indonesia, cahaya ilmu pengetahuan akan terus memancar dan memberi manfaat bagi kemanusiaan secara luas.
Selamat bekerja kembali, Sang Nakhoda; tantangan di depan memang besar, namun visi yang konsisten dan dukungan bersama akan menjadi angin segar yang membawa kapal ini menuju pelabuhan kejayaan.(*)