TRIBUNTRENDS.COM - Hita menjadi salah satu orang tua yang mempercayakan anaknya untuk dititipkan di Daycare Little Aresha.
Namun, kepercayaan itu berubah menjadi keterkejutan ketika penggerebekan dilakukan di lokasi pada Jumat sore (24/4/2026).
Dalam momen tersebut, ia bersama sang istri dan orang tua lain akhirnya diperbolehkan masuk ke dalam ruang penitipan oleh pihak kepolisian.
Dari situlah kenyataan mulai terungkap.
Apa yang selama ini dijanjikan oleh pihak daycare ternyata jauh berbeda dari kondisi sebenarnya.
Menurut Hita, pihak orang tua diperlihatkan berbagai dokumentasi sebelum akhirnya diizinkan melihat langsung kondisi di dalam.
“Dilihatin semua video-video dan foto-foto dan akhirnya dipersilakan masuk ke daycare-nya yang tidak sesuai fasilitasnya dengan brosur yang ada. Ada juga security-nya daycare dan beberapa pengasuh juga yang otomatis kena cecaran dan pertanyaan,” tuturnya.
Baca juga: Sesal Noorman Windarto, 2 Anaknya jadi Korban Daycare Little Aresha, Idap Pneumonia, Trauma Psikis
Hita sendiri telah menitipkan anaknya sejak usia 3,5 bulan pada tahun 2024. Kini, anaknya telah berusia dua tahun.
Keputusan untuk memilih daycare tersebut bermula dari rekomendasi rekan kerja sang istri, yang lebih dulu merasakan manfaat layanan di sana.
Saat itu, anak dari rekan istrinya dinilai menunjukkan perkembangan yang baik selama berada di daycare tersebut.
Ditambah lagi, lokasi Little Aresha yang dekat dengan tempat kerja istrinya menjadi pertimbangan utama.
“Ada rekan kerja istri (anaknya dititipkan) di situ juga dan anaknya jadi pintar dalam arti mudah bergaul, bisa baca doa-doa tertentu, ceria, dan lain-lain tapi usianya sudah empat tahun. Ketika itu posisinya (anak rekan istri) keluar karena pindah kota, baru anak saya masuk,” bebernya.
Namun, harapan yang dibangun sejak awal ternyata tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Hita mengaku dijanjikan berbagai fasilitas lengkap, mulai dari pendingin ruangan, tempat tidur, hingga mainan anak.
Kenyataannya, fasilitas tersebut tidak ditemukan saat dilakukan pengecekan langsung.
“Fasilitas yang dijelaskan lengkap yaitu ada AC, kasus, mainan, dapat makan di usia dua tahun, mandi, dan lain-lain. Yang kenyataannya tanpa AC, tanpa kasur, hanya matras puzzle,” tuturnya.
Kekecewaan tidak berhenti di situ. Hita juga menyebut adanya janji terkait pendidikan tambahan untuk anak, seperti pengenalan agama dan pembelajaran bahasa.
Hal tersebut sempat menjadi daya tarik utama yang membuatnya yakin untuk memilih daycare ini.
“Agamis, ada pengajaran tiga bahasa dan basic agama di usia dua tahun plus. Bahasa Jawa, Indonesia, Inggris (juga diajarkan). Agama yang diajarin, ya, seperti doa mau makan, ucapan hamdallah, dan lain-lain,” tuturnya.
Dari sisi biaya, Hita mengungkapkan bahwa ia awalnya membayar Rp1 juta per bulan untuk penitipan anaknya.
Namun, pada tahun ini biaya tersebut mengalami kenaikan menjadi Rp1,2 juta per bulan.
Pihak daycare berdalih bahwa kenaikan itu disebabkan oleh peningkatan biaya pendidikan.
Baca juga: Kata Warganet Interview Kerja di Daycare Little Aresha Yogyakarta, Ijazah Ditahan, Deposit Rp 3 Juta
Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizky Adrian, mengungkapkan fakta mengerikan saat penggerebekan daycare Little Aresha.
Polisi menyaksikan langsung perlakuan tidak manusiawi yang dilakukan pengasuh terhadap anak-anak di lokasi tersebut.
“Ada yang kakinya diikat, tangannya diikat, dan sebagainya,” tegas Adrian saat ditemui di Mapolresta Yogyakarta, Sabtu (25/4).
Salah satu orang tua korban, Aldewa, mengaku baru mengetahui praktik keji tersebut melalui video yang beredar di media sosial pada Jumat sore.
Ia sempat curiga karena menemukan luka lebam di kaki anaknya saat dijemput, namun semula ia mengira luka tersebut akibat jatuh saat bermain.
“Saya baca jam 5 sore, ada ibu jemput katanya lihat di video sudah posisi diikat dan segala macam. Terakhir kemarin dijemput mbahnya itu ada luka lebam di kaki. Istri saya bilang kayaknya jatuh, jadi saya tidak tanya pihak sekolah,” ujar Aldewa dengan nada menyesal.
Praktisi Psikologi dan Pemerhati Perkembangan Anak, Dr. Shinta, M.Si., M.A., memperingatkan bahwa kekerasan pada usia dini dapat mengubah cara pandang anak terhadap dunia.
Meninjau dari kacamata teori Jean Piaget, Dr. Shinta menjelaskan bahwa anak berkembang melalui tahapan kognitif di mana pengalaman lingkungan membentuk cara mereka memahami dunia.
"Kekerasan dapat mengganggu proses dia (korban) dalam beradaptasi, sehingga anak membentuk persepsi bahwa dunia adalah tempat yang tidak aman baginya," ungkap Shinta.
Praktisi psikologi yang dikenal luas sebagai Bunda Cinta ini mengatakan dampak persepsi ini dapat menghambat perkembangan kognitif anak, termasuk kemampuan dalam berpikir logis dan pemecahan masalah.
Sebagai ibu sekaligus pendidik, ia mengaku merasakan sangat sedih, perih hatinya mendengar kasus kekerasan di daycare ini
Apalagi mendapati kenyataan, bahwa lokasi daycare tidak jauh dari rumahnya, hanya sekira satu kilometer.
Secara psikososial, merujuk pada teori Erik Erikson, kata Dr. Shinta, kekerasan yang dilakukan oleh figur otoritas seperti guru, sosok yang ditemui setiap hari, dapat menghancurkan rasa percaya atau trust.
Dampaknya pun cukup fatal. Anak kehilangan kemandirian, didera rasa malu, ragu, hingga memiliki harga diri yang rendah.
Kerusakan ini mencakup aspek kognitif, emosi, hingga kepribadian secara menyeluruh.
Bagi para orang tua korban, Dr. Shinta menyarankan pendekatan yang berfokus pada pemulihan rasa aman melalui teori keterikatan John Bowlby.
Orang tua harus hadir secara hangat dan responsif agar anak kembali merasa terlindungi.
"Berikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya melalui cerita, bermain, atau menggambar tanpa paksaan. Jangan menuntut anak segera pulih," tegas Dr. Shinta.
Ia juga menyarankan orang tua untuk menciptakan rutinitas yang stabil dan segera mencari bantuan profesional seperti psikolog anak jika muncul gejala trauma yang menetap.
(TribunTrends/TribunJogja)