Tanggung Biaya Kursi Pijat, Gubernur Kaltim Rudy Masud juga Coret Nama Adik: Tiadakan Keterlibatan
ninda iswara April 27, 2026 08:38 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Gubernur Kalimantan Timur, Rudi Mas’ud, mengambil langkah tegas dengan meniadakan keterlibatan keluarga dalam jabatan strategis di lingkungan Pemerintah Provinsi Kaltim.

Kebijakan ini muncul di tengah sorotan publik terkait polemik renovasi rumah jabatan (rujab) senilai Rp25 miliar.

Rudi menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan upaya untuk menjaga kepercayaan masyarakat dan memastikan pemerintahan berjalan secara profesional.

"Mulai esok, kami meniadakan keterlibatan keluarga dalam posisi strategis yang berkaitan dengan pemerintah provinsi," ujarnya melalui akun Instagram h.rudymasud, Minggu (26/4/2026).

Ia juga menyoroti posisi wakil ketua tim ahli gubernur untuk percepatan pembangunan (TAGUPP) yang sebelumnya menjadi perhatian publik.

"Termasuk (posisi) wakil ketua tim ahli gubernur untuk percepatan pembangunan," kata dia.

Baca juga: Soal Rumah Dinas Gubernur Kaltim Rp5 M, Rudy Masud Minta Maaf, Ganti Kursi Pijat Pakai Uang Pribadi

Menurutnya, kebijakan ini penting untuk mencegah potensi konflik kepentingan sekaligus memperkuat penerapan prinsip meritokrasi dalam pemerintahan.

Rudi menekankan bahwa arah kebijakan ke depan akan lebih fokus pada transparansi dan akuntabilitas.

"Kami juga akan membuka ruang transparansi yang lebih luas agar setiap kebijakan bisa dipahami dan diawasi bersama," ujarnya.

Dengan langkah tersebut, ia berharap tata kelola pemerintahan di Kalimantan Timur semakin bersih, terbuka, dan dipercaya publik.

Minta Maaf

Rudi juga memberikan klarifikasi terkait pernyataannya sebelumnya yang sempat membawa-bawa pimpinan di tingkat nasional.

Pernyataan tersebut sempat memicu beragam penafsiran di masyarakat dan menjadi sorotan di ruang publik. Rudi menyampaikan permohonan maaf atas hal tersebut dan menegaskan bahwa tidak ada maksud membandingkan pihak mana pun.

"Tidak ada maksud sedikitpun untuk membawa dan membandingkan pihak manapun dalam konteks yang tidak semestinya. ke depan saya akan lebih berhati-hati dalam bertutur kata agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru,"  kata dia.

Tanggung Biaya Renovasi

Terkait perencanaan renovasi rumah dinas Rp25 miliar, Rudy mengatakan perencanaan tersebut sudah ada sebelum dia menjabat.

Rudy mengatakan kan menanggung sendiri biaya yang tidak berhubungan dengan fungsi kedinasan yakni kursi pijat dan akuarium laut.

"Saya akan menanggung secara pribadi item biaya renovasi rumah dinas di luar fungsi kedinasan termasuk kursi pijat dan akuarium air laut, seluruh item dalam renovasi akan kami evaluasi dan audit secara ulang secara terbuka agar masyarakat dapat melihat dengan jelas dan ikut mengawasi," kata dia.

Baca juga: Dugaan KKN dan Renovasi Rumah Dinas, Gubernur Kaltim Rudy Masud Pastikan Diaudit: Ini Rumah Rakyat

Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud
Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud (Tribun Kaltim)

Seret Nama Adik Presiden

Kontroversi mencuat ketika Rudy menyinggung nama Hashim Djojohadikusumo dalam menjawab pertanyaan soal keberadaan adiknya, Hijrah Mas’ud, yang masuk dalam struktur TAGUPP sebagai wakil ketua.

Hal itu terjadi saat bincang santai bersama awak media di Hotel Atlet, Kamis (24/4/26), 

Gubernur beralasan, penunjukan tersebut berkaitan dengan kebutuhan tertentu yang bersifat privat dan membutuhkan kepercayaan penuh.

"Semua adalah hak prerogatif Presiden Prabowo. Sama halnya dengan dirinya sebagai kepala daerah memilih tim ahli Gubernur Kaltim. Tentu, akan menunjuk orang-orang yang bisa bekerja dan berkomunikasi baik dengan saya," tuturnya.

Pernyataan tersebut kemudian memantik reaksi cukup keras dari kader Partai Gerindra.

Bendahara  DPD Gerindra Kaltim, Sabaruddin Panrecalle menilai perbandingan antara peran Hashim di lingkup nasional dengan posisi Hijrah di daerah tidak bisa disamakan.

Menurut Sabaruddin, posisi Hashim yang dipercaya oleh Presiden Prabowo Subianto merupakan bagian dari hak prerogatif Presiden sebagai kepala negara.

Oleh karena itu, membandingkannya dengan kebijakan kepala daerah dinilai kurang tepat,  bahkan berpotensi menimbulkan tafsir keliru di tengah masyarakat.

“Tidak apple to apple, kalau bandingkannya ke Presiden. Beliau simbol negara. Kalau mau
membandingkan, bandingkan gaya kepemimpinan, cara mengambil keputusan, atau bagaimana
merespons masyarakat. Jangan menyentuh hak prerogatif Presiden,” tegas Sabaruddin, Sabtu (25/4/2026).

Ia mengaku tersinggung dengan pernyataan tersebut, terlebih disampaikan dalam forum terbuka di hadapan media.

Sabaruddin mengingatkan, setiap pernyataan pejabat publik memiliki dampak luas, sehingga harus disampaikan dengan kehati-hatian dan pertimbangan matang.

“Saya pikir kepala daerah perlu lebih hati-hati berkomentar, apalagi membawa nama tokoh nasional atau partai. Ini bisa menimbulkan kegaduhan. Masyarakat melihat dan menilai,” ujarnya.

(TribunTrends/Tribunnews)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.