SURYA.co.id – Surabaya diperkirakan akan mengalami cuaca yang cukup dinamis pada Senin, 27 April 2026.
Berdasarkan prakiraan cuaca per jam, kondisi langit cenderung berawan di pagi hari, disusul hujan ringan pada siang dan malam hari.
Warga diimbau untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan.
Suhu udara di Kota Pahlawan berkisar antara 25 hingga 31 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan cukup tinggi, yakni 68 hingga 95 persen.
Sementara itu, angin bertiup dari arah barat laut dengan kecepatan sekitar 5 km/jam.
Pada pagi hari, Surabaya diprediksi berada dalam kondisi berawan sejak dini hari hingga pukul 07.00 WIB.
Cuaca relatif stabil tanpa indikasi hujan, sehingga aktivitas pagi seperti berangkat kerja atau sekolah diperkirakan berjalan lancar.
Namun, kelembapan udara yang cukup tinggi dapat membuat udara terasa lebih lembap dari biasanya.
Memasuki siang hari, potensi hujan ringan mulai muncul pada pukul 10.00 hingga 13.00 WIB.
Kondisi ini dapat memengaruhi mobilitas masyarakat, terutama di jam-jam sibuk.
Pengendara di jalan raya diimbau untuk berhati-hati karena jalanan bisa menjadi licin akibat hujan yang turun meski dalam intensitas ringan.
Baca juga: Cuaca Surabaya Hari Ini Minggu 26 April 2026: Dominan Berawan, Waspada Hujan Petir Sore Hari
Pada sore hari sekitar pukul 16.00 WIB, cuaca kembali berawan.
Kondisi ini cenderung lebih stabil dan relatif mendukung aktivitas luar ruangan, meski langit tetap tertutup awan tebal di beberapa wilayah Surabaya.
Pada malam hari, cuaca diperkirakan kembali berubah.
Pukul 19.00 WIB kondisi masih berawan, namun hujan ringan berpotensi turun kembali pada pukul 22.00 WIB.
Masyarakat yang beraktivitas malam hari atau hendak bepergian disarankan untuk membawa perlengkapan hujan sebagai antisipasi.
Dengan kondisi cuaca yang berubah-ubah sepanjang hari, kewaspadaan dan persiapan menjadi kunci agar aktivitas tetap berjalan lancar di Kota Surabaya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan langkah mitigasi mandiri menghadapi potensi cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan melanda sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya Jawa Timur.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Jumat, menekankan pentingnya kesiapsiagaan tersebut berkaca pada kejadian banjir bandang di Kota Pasuruan dan angin kencang yang merusak tujuh rumah warga di Desa Semen, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur belum lama ini.
"BNPB mengimbau masyarakat untuk menjauhi pohon besar, papan reklame, atau struktur bangunan yang rapuh saat terjadi angin kencang guna menghindari risiko tertimpa material yang roboh," kata dia, dikutip SURYA.co.id dari ANTARA.
Dia menjelaskan bahwa warga yang bermukim di daerah rawan bencana hidrometeorologi basah perlu mengenali jalur evakuasi yang aman dan tidak ragu untuk melakukan evakuasi mandiri jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi yang lama.
Dicontohkan misalnya bagi masyarakat yang tinggal di daerah bantaran sungai, BNPB meminta adanya pemantauan tinggi muka air secara rutin sebagai deteksi dini potensi luapan air yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
"Kami juga mendorong masyarakat untuk terus memperbarui informasi cuaca dari lembaga resmi seperti BMKG agar setiap langkah antisipasi bisa dilakukan lebih awal dan tepat sasaran," katanya.
Abdul menambahkan bahwa peran pemerintah daerah sangat krusial dalam memastikan sistem peringatan dini berfungsi dengan baik serta memberikan arahan yang jelas kepada warga di titik-titik rawan.
Kewaspadaan adalah kunci utama maka, dengan mengetahui potensi bahaya di lingkungan masing-masing, kita dapat meminimalisir risiko jatuhnya korban jiwa maupun kerugian materiel akibat bencana.
BNPB melaporkan bahwa Kabupaten Ngawi, Jawa Timur dilanda cuaca ekstrem, Rabu (22/4) sore pukul 14.50 WIB dipicu oleh tingginya intensitas hujan yang disertai angin kencang sehingga menyebabkan atap beberapa rumah warga rusak.
Peristiwa ini terjadi di Desa Semen, Kecamatan Paron, tercatat sebanyak tujuh kepala keluarga (KK) dan tujuh unit rumah rusak dihantam angin kencang.
Sehari sebelumnya, sebanyak 100 Kepala Keluarga (KK) di Kota Pasuruan, Jawa Timur, terdampak banjir akibat meluapnya Sungai Welang setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut.
Tim reaksi cepat BPBD Kabupaten Ngawi dan Pasuruan sudah berada di lokasi kejadian untuk melakukan kajian cepat dampak bencana seperti mendata warga terdampak, barang kebutuhan pokok, dan mitigasi potensi bencana susulan.