Walhi Jambi: Alat PETI Terseret Banjir di Sarolangun Bukti Nyata Pembiaran Kejahatan Lingkungan
Darwin Sijabat April 27, 2026 09:11 AM

 

TRIBUNJAMBI.COM – Bencana banjir yang menerjang Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi pada Sabtu (25/4/2026) mengungkap tabir gelap di hulu sungai.  

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jambi menyoroti tajam dugaan hanyutnya alat Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) atau dompeng yang terbawa arus banjir.  

Temuan ini dinilai sebagai bukti otentik adanya pembiaran terhadap perusakan alam yang terstruktur. 

Direktur Eksekutif Daerah Walhi Jambi, Oscar Anugerah, menegaskan fenomena ini tidak bisa dianggap sebagai bencana alam biasa.  

Ia menyebut peristiwa pilu ini sebagai bentuk nyata kegagalan negara dalam melindungi bentang alam di Jambi. 

Bukan Bencana Alam, Tapi Bencana Ekologis 

Dalam pandangan Walhi, masifnya aktivitas ilegal di hulu sungai menjadi pemicu utama meluapnya air yang menghantam pemukiman warga.  

Oscar menyebut ada korelasi langsung antara rusaknya hutan dengan intensitas banjir yang semakin parah. 

Baca juga: Warga Sumay Resah karena PETI: Sering Lapor Polsek, tapi tak Ditindak

Baca juga: Sosok Kaharuddin, Tokoh Muda Jambi Apresiasi Keberanian Jampidsus Berantas Korupsi

“Melainkan bencana ekologis akibat rusaknya bentang alam di hulu sungai yang diperparah oleh aktivitas ilegal yang sangat masif,” katanya, saat dikonfirmasi via pesan WhatsApp kepada Tribunjambi.com, Minggu (26/4/2026). 

Munculnya peralatan tambang di tengah arus banjir dipandang sebagai barang bukti tak terbantahkan bahwa hukum lingkungan sedang "mati suri" di wilayah tersebut.  

Walhi Jambi menilai masyarakat kini terpaksa menanggung beban ganda: kehilangan harta benda akibat banjir sekaligus ancaman keselamatan jiwa akibat kerusakan alam. 

Desak Penegakan Hukum Terhadap Aktor Intelektual 

Langkah mitigasi yang paling mendesak saat ini, menurut Oscar, bukanlah sekadar bantuan logistik pascabencana, melainkan tindakan tegas dari aparat penegak hukum.  

Walhi Jambi mendesak agar kepolisian mengejar para aktor atau pemodal di balik alat-alat PETI tersebut. 

“Masyarakat dipaksa menanggung beban ganda akibat kerusakan lingkungan dan ancaman keselamatan jiwa,” ujarnya. 

Walhi Jambi menegaskan bahwa penertiban sporadis yang selama ini dilakukan terbukti tidak menyentuh akar persoalan.  

Selama para "pemain besar" di balik bisnis dompeng tidak tersentuh hukum, bencana serupa akan terus menghantui masyarakat Batang Asai. 

Di akhir pernyataannya, Walhi Jambi turut menyampaikan simpati mendalam bagi para korban yang terdampak. 

“Semoga seluruh saudara kita di sana diberikan keselamatan dan dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa,” pungkas Oscar.

 

 

Baca juga: Psikolog Jambi Bedah Akar Pengeroyokan Sekolah: Agresi Jadi Jalan Pintas

Baca juga: Sosok Kaharuddin, Tokoh Muda Jambi Apresiasi Keberanian Jampidsus Berantas Korupsi

Baca juga: Banjir Bandang Merangin Jambi Terjang 2 Desa: 409 Rumah Terendam, 8 Roboh, Jembatan Putus

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.