Sirene ‘Meraung’ di Sejumlah titik
mufti April 27, 2026 10:38 AM

“Kesiapsiagaan bukan lagi pilihan melainkan kebutuhan." ILLIZA SA’ADUDDIN DJAMAL, Wali Kota Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Sirene tanda peringatan bahaya bencana ‘meraung’ keras dari sejumlah titik di kawasan Kota Banda Aceh dan Aceh Besar, tepat pukul 10.00 WIB, Minggu (26/4/2026).

Bunyi peringatan bahaya tersebut sengaja diaktifkan sebagai tanda peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 yang dipusatkan di Kota Banda Aceh. 

Kegiatan tahunan yang mengusung tema “Bersatu Dalam Siaga, Tangguh Menghadapi Bencana” itu digelar sebagai upaya meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana yang bisa datang kapan saja.

Pantauan Serambi di sejumlah titik, saat sirene tanda bahaya berbunyi, masyarakat di kawasan Kota Banda Aceh dan Aceh Besar tidak ada yang panik, mereka tetap beraktivitas seperti biasa. 

Hal itu karena dua hari sebelumnya, BPBD Kota Banda Aceh sudah menginformasikan bahwa akan dibunyikan sirene bencana sebagai tanda peringatan HKB 2026.

Khusus di Kota Banda Aceh, acar puncak HKB 2026 diwarnai dengan sejumlah kegiatan, salah satunya latihan mitigasi bencana dan simulasi evakuasi yang dilakukan di dua titik, yaitu di kawasan Kecamatan Baiturrahman dan area car free day (CFD) Kota Banda Aceh.

Selain raungan sirene, peringatan HKB 2026 juga diwarnai pemukulan rapai serentak yang dilakukan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto didampingi Sekretaris Utama dan Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal didampingi Sekretaris Daerah. Kegiatan itu berlangsung di Pendopo Wali Kota.

Kegiatan HKB 2026 juga berlangsung secara virtual dan interaktif, diikuti 34 provinsi, 214 kabupaten/kota, 574 kecamatan dan 1.090 kelurahan.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada BNPB atas kepercayaan untuk menjadi tuan rumah acara ini. Dan sekaligus meresmikan EWS sebagai alat untuk mendeteksi potensi bencana seperti banjir dan tsunami.

"Terima kasih juga atas bantuan lima titik Early Warning System (EWS). Terima kasih untuk BNPB yang selalu hadir di tengah-tengah masyarakat. Semoga dengan dukungan ini kami menjadi tempat pembelajaran dan menjadi kota tangguh terhadap bencana," ungkapnya.

"Tema ini bukan hanya slogan, merupakan ajakan untuk setiap hari siap, siap memahami risiko, jalur evakuasi dan siap menyelamatkan diri dan keluarga. Karena kesiapsiagaan bukan lagi pilihan melainkan kebutuhan," kata Illiza.

Sementara itu, Kepala BNPB, Suharyanto, berpesan bahwa agar EWS yang sudah ada nantinya berfungsi dengan baik dan diharapkan masyarakat sadar dan peduli akan peringatan tersebut.

"Pemberian EWS kepada Pemerintah Kota Banda Aceh sudah direncanakan sebelum terjadinya bencana. Kita tidak terlepas dari bencana, namun bisa memitigasinya karena pentingnya keselamatan masyarakat bergantung seberapa siap kita bertindak sebelum bencana datang," tutupnya.

Acara puncak peringatan HKB 2026 juga dirangkai dengan pemberian santunan kepada 10 anak yatim, penandatanganan prasasti peresmian EWS dan pemberian satu paket peralatan EWS banjir, satu unit mobil rescue Isuzu d-max, tiga unti sepeda motor trail dan satu unit perahu katamaran berserta mesin.(ra)

BNPB Tanam 2.257 Bibit Pohon

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menanam sebanyak 2.257 aneka bibit pohon dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026, yang dipusatkan di Kota Banda Aceh, Sabtu (25/4/2026).

Adapun jenis pohon yang ditanam pada kegiatan itu antara lain pohon Tabebuya, Mangga, Cemara Laut, Ketapang dan Jeumpa. Secara simbolis, pelaksanaan penanaman bibit pohon dilakukan di wilayah Simpang Mesra, Kecamatan Syiah Kuala. 

Kegiatan itu dipimpin Sekretaris Utama BNPB Rustian, bersama jajaran pejabat tinggi di lingkungan BNPB dan Illiza Sa'aduddin Djamal selaku Walikota Banda Aceh serta jajaran Forkopimda di lingkungan Pemerintah Kota Banda Aceh.

Pada kesempatan itu, Rustian menyampaikan, sejumlah bencana yang terjadi, dapat dikurangi dampaknya apabila wilayah tersebut masih banyak ditanami pepohonan. “Banyak terjadi bencana tsunami dan banjir. Salah satu cara untuk menghambat laju air dan material yang datang adalah dengan adanya pepohonan,” ujarnya.

Sebagai contoh, pengurangan dampak bencana dengan berbasi vegetasi adalah bencana banjir dan longsor yang terjadi pada akhir November 2025 lalu di wilayah Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.

“Di mana pohon yang banyak ditanam, kerusakan tidak begitu parah, dibandingkan dengan (pemukiman) yang langsung terbuka tidak ada pohonnya sehingga sebabkan kehilangan harta benda dan nyawa,” imbuhnya.

Harapannya dengan kegiatan penanaman ini, masyarakat dapat turut berperan aktif melakukan penanaman pohon dan merawatnya. "Jumlah bibit 2.257 batang pohon yang diberikan ini adalah pemicu, harapan kami penanaman pohon ini bisa terus berlanjut, setidaknya satu pohon per tahun per keluarga, agar upaya mitigasi jangka panjang terbangun dari lingkup keluarga dan komunitas," jelasnya.

Sementara itu, Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal, mengungkap, sejarah membuktikan banyaknya pohon yang ditanam berguna sebagai pelindung dan dapat mengurangi tekanan arus gelombang tsunami yang terjadi pada tahun 2004 yang lalu.

“Kita ingat betul pohon-pohon ini bagian dari risiko pengurangan bencana, seperti adanya mangrove dan pohon-pohon yang tegak ketika gempa tsunami," ucapnya.

Illiza menambahkan, Kota Banda Aceh sudah memiliki gampong pro-iklim, di mana dalam pengelolaannya Illiza mengajak para perempuan untuk tangguh terhadap bencana seperti menanam pohon, mengelola sampah dan sebagainya.

“Karena menjaga lingkungan bukan lagi pilihan melainkan keharusan. Vegetasi hari ini bukan sekadar penghijauan, tapi benteng alami kota yang menjaga keseimbangan ekosistem, mengurangi risiko bencana serta warisan bagi generasi yang akan datang,” ungkapnya.(ra)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.