TRIBUNNEWS.COM - Kasus kekerasan terhadap anak di Daycare Little Aresha berdampak pada kesehatan mental anak dan juga orang tua.
Kasus ini terungkap setelah polisi menggerebek tempat penitipan anak (TPA) Little Aresha di Kota Jogja, DI Yogyakarta pada pekan lalu.
Puluhan anak yang dititipkan mendapat kekerasan seperti kaki diikat saat tidur.
Hal tersebut pun membuat korban dan orang tuanya mengalami tekanan psikologis.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo pun mengatakan pihaknya bakal memberikan pendampingan bagi korban dan orang tuanya.
Selain itu, Hasto juga menyebut pihaknya akan memberikan jalan keluar bagi ratusan anak yang mendadak kehilangan tempat penitipan, sementara para orang tua harus tetap bekerja.
"Ini bagaimana besok pagi hari Senin anaknya mau dititipkan di mana? Ini saya kira suatu hal yang urgensi dan emergensi karena orang tuanya pada umumnya kerja, sehingga pemerintah daerah harus hadir," ujarnya, selepas menemui orangtua korban Little Aresha Daycare, di Rumah Dinas Wali Kota Yogyakarta, Minggu (26/4/2206).
Hasto juga menginstruksikan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Jogja serta dinas terkait untuk bekerja sama dengan Komisi Perlindungan Anak (KPAI).
Kerja sama tersebut berupa pemetaan tempat penitipan anak alternatif.
"Kami akan segera mengidentifikasi daycare-daycare lainnya yang amanah, yang aman, yang baik, dan yang sehat,"
"Sore ini diidentifikasi supaya mana yang bisa akhirnya menampung yang stop dari daycare yang kemarin itu," jelasnya, dikutip dari TribunJogja.com.
Baca juga: Orang Tua Korban Daycare Jogja Khawatir Anak Alami Stunting, Pemkot Berikan Pendampingan Ahli Gizi
Selain itu, pihak Pemkot Jogja juga telah mengantongi data-data semua daycare di Kota Pelajar.
Dari data tersebut, pihak Pemkot Jogja akan melakukan pengecekan terkait dokumen-dokumennya.
"Hari ini sudah masuk data semua daycare yang ada di Kota Yogyakarta, kemudian kita akan cek satu persatu besok pagi. Saya kira dalam waktu singkat, paling lama dua hari kita sudah tahu semua status daycare yang ada," tegasnya.
Hasto juga mengungkapkan adanya gangguan psikologis yang dialami oleh anak-anak yang jadi korban.
TribunJogja.com mewartakan, dari laporan para orang tua korban, anak-anak mulai menunjukkan perilaku yang tak biasa.
"Pada prinsipnya mereka yang pertama minta perlindungan untuk anaknya dibantu karena anak-anak yang sekarang ini dirasakan ada beberapa, ya secara psikologis anak-anaknya ada tanda-tanda yang kurang sehat secara psikologis," imbuhnya.
Ia pun lantas berkoordinasi dengan Komisi Perlindungan Anak (KPAI) dan dinas terkait untuk membentuk tim pendampingan khusus.
Pendampingan melibat psikolog, ahli tumbuh kembang, hingga ahli gizi untuk menjaga anak tetap ternutrisi dengan baik.
Bahkan, pihaknya juga akan memberikan pendampingan kepada orang tua korban.
"Orangtua juga mengalami gangguan karena stres, kondisi seperti ini sangat mengejutkan. Tadi pun mereka menangis saat menyampaikan (keluh kesahnya). Mereka juga menginginkan ada pendampingan," jelasnya.
Baca juga: Anggota DPR Sebut Kekerasan Daycare di Yogyakarta Bentuk Kegagalan Sistem Perlindungan Anak
Sebanyak 18 psikolog klinis di seluruh Puskesmas juga telah disiagakan.
"Itu kami mendengar dari semuanya tadi. Sehingga, sekarang tentu kami merespons dengan hal-hal yang kemudian jadi langkah-langkah selanjutnya," pungkasnya.
Diketahui, pengasuh Daycare Little Aresha melakukan kekerasan terhadap 53 anak dari 103 anak yang dititipkan.
Korban diikat kakinya dan dibaringkan di lantai tanpa pakaian, hanya mengenakan diapers atau popok saja.
Kasus ini terungkap setelah ada salah satu pengasuh yang menyuarakan adanya tindak kekerasan anak di Little Aresha hingga berujung penggerebekan dan penetapan 13 orang jadi tersangka.
(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto)(TribunJogja.com, Azka Ramadhan)