Laporan jurnalis TribunBekasi.com, Rendy Rutama Putra
TRIBUNBEKASI.COM, TAMBUN SELATAN- Kabar duka menyelimuti perkara teror air keras yang terjadi di Perumahan Bumi Sani Permai (BSP) RT 01 RW 14, Desa Setiamekar, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.
Sebab, satu orang korban, yakni laki-laki lanjut usia (Lansia), Tri Wibowo (60), dikabarkan meninggal dunia usai sempat dirawat intensif di Rumah Sakit (RS) pasca kejadian sejak Senin (30/3/2026).
Tri yang merupakan anggota Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Kabupaten Bekasi itu menghembuskan napas terakhir pada Minggu (26/4/2026) pagi.
”Korban meninggal kemarin (Minggu 26/4/2026) akibat pendarahan setelah menjalani operasi pencangkokan kulit di RSCM Jakarta,” kata Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (27/4/2026).
Andi menjelaskan, kabar duka ini meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga besar KSPSI.
Ditambah, sosok almarhum semasa hidup merupakan sosok yang aktif dan berdedikasi dalam perjuangan organisasi pekerja.
Baca juga: Direndahkan Saat Hidup Susah Jadi Alasan Pengusaha Jok Otaki Penyiraman Air Keras di Tambun Bekasi
Baca juga: Polres Metro Bekasi Tangkap Pelaku Penyiraman Air Keras di Tambun Bekasi
Selanjutnya, jajatan KSPSI menegaskan akan mengawal proses hukum kasus ini hingga tuntas.
KSPSI mendesak agar para pelaku mendapat hukuman maksimal atas tindakan yang menyebabkan hilangnya nyawa korban.
“Proses hukum harus berjalan tegas. Pelaku harus dihukum seberat-beratnya,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Tri menjadi korban penyiraman air keras saat hendak menunaikan salat subuh pada Senin (30/3/2026) sekira pukul 04.50 WIB.
Seorang saksi mata, Ning, mengaku awalnya mendengar suara rintihan dari luar rumahnya saat suasana masih gelap menjelang subuh.
“Saya posisi lagi di luar rumah, terus si korban ini mau ke musala salat subuh, saya dengar kok ada suara merawung-merawung,” kata Ning kepada Tribun Bekasi saat ditemui di lokasi, Selasa (31/3/2026).
Merasa curiga, Ning kemudian mencari sumber suara tersebut.
Betapa terkejutnya Ning ketika melihat korban sudah dalam kondisi tubuh basah dan tampak meringis kesakitan.
“Pas saya lihat, kondisi tubuhnya sudah basah semua sembaru merawung-merawung gitu,” jelasnya.
Ning lalu meminta bantuan anaknya untuk menghampiri korban.
Saat mencoba menolong, korban tidak mampu berbicara dan hanya terus mengerang kesakitan.
Korban juga sempat kesulitan berjalan akibat luka yang dialami hingga sempat terjatuh di pinggir got sebelum dievakuasi.
Melihat kondisi korban dan pakaian yang tampak rusak, Ning langsung menduga kalau Tri menjadi korban penyiraman air keras.
“Saya curiga, jangan-jangan bapak ini disiram air keras, soalnya bajunya rusak, terus basah, dan pegangin muka sambil kayak nunjukin kesakitan,” ujarnya.
Ning pun meminta anaknya berhati-hati saat mengevakuasi korban karena khawatir cairan tersebut masih berbahaya.
Tak berselang lama pasca kejadian, warga sekitar yang mendengar teriakan minta tolong dari anaknya Ning langsung berdatangan dan membantu mengevakuasi korban.
Warga kemudian membawa korban untuk mendapatkan penanganan medis.
Hanya saja Ning mengaku tidak mengetahui kondisi terbaru korban setelah dibawa dari lokasi.
"Saya lihat itu baju rusak, setelah dibawa ke rumahnya sama warga, saya tidak tahu lagi, tapi infonya sekarang dirawat di Rumah Sakit (RS) Primaya," imbuhnya. (M37)