TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Pasuruan - Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Pasuruan terus menunjukkan geliat yang menjanjikan.
Hingga 2024, jumlahnya telah menembus lebih dari 248.000 unit usaha, didominasi sektor makanan-minuman, bordir, dan garmen.
Angka ini bukan sekadar deret data, melainkan denyut ekonomi rakyat yang menopang kehidupan ribuan keluarga.
Pemerintah daerah melalui Diskoperindag juga telah menggulirkan berbagai program penguatan di 2026.
Mulai dari pelatihan manajemen keuangan, digital marketing, hingga fasilitasi pembiayaan dan business matching.
Namun di balik itu, tantangan masih membayangi mulai dari keterbatasan akses pasar, permodalan, hingga rendahnya pemanfaatan teknologi digital.
Dalam Forum Jagongan Wakil Rakyat (JAWARA), anggota Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan Misto Leo Faisal menilai UMKM Pasuruan sejatinya sudah memiliki fondasi kuat.
Baca juga: Persiapan Matang untuk Naik Kasta Musim Depan, Persekabpas Pasuruan Launching Jersey Baru
Namun, ia mengingatkan bahwa jumlah besar belum tentu sebanding dengan kualitas.
“Secara kuantitas ini sudah bagus. Tapi yang naik ke level regional atau nasional masih sedikit. Artinya, kita harus dorong agar pelaku UMKM tidak berhenti di level bawah,” ujarnya, beberapa waktu lalu.
Ia menekankan, kunci utama agar UMKM naik kelas bukan semata pada modal, melainkan kemampuan menjual dan membaca peluang pasar.
Menurutnya, perubahan pola bisnis dalam dua dekade terakhir harus diikuti dengan adaptasi pelaku usaha, terutama dalam memanfaatkan platform digital.
Baca juga: Digitalisasi Pajak Restoran Digenjot, Bapenda Pasuruan Pasang Tax Mapper
“Sekarang cukup dengan satu ponsel, produk bisa dijual ke mana saja. Tapi masalahnya, banyak yang produknya bagus, tapi tidak bisa menjual,” tegasnya.
Misto juga mendorong pelaku UMKM untuk terus belajar dan membangun jejaring dengan pelaku usaha yang lebih maju.
Ia meyakini, kedekatan dengan ekosistem bisnis yang tepat akan mempercepat proses peningkatan kapasitas.
Sementara itu, anggota Komisi II DPRD lainnya Gaung Andaka Ranggi Purbangkara menilai akar persoalan UMKM terletak pada kualitas sumber daya manusia (SDM).
Menurutnya, selama SDM belum kuat, persoalan klasik seperti permodalan dan pemasaran akan terus berulang.
“Kalau SDM-nya sudah siap, dia akan tahu cara mengakses modal dan memperluas pasar. Jadi yang paling mendasar adalah peningkatan kualitas manusianya,” jelasnya.
Baca juga: 373 dari Total 1.634 Jemaah Haji Pasuruan Berangkat
Ia juga mengapresiasi pola pelatihan UMKM harus sepenuhnya tepat sasaran.
Ke depan, ia mengusulkan model pelatihan berbasis kompetisi terbuka, seperti lomba business plan yang disertai pendampingan hingga tahap implementasi.
“Harus transparan dan terbuka. Yang ikut benar-benar mereka yang punya niat dan kesiapan berusaha,” ujarnya.
Selain penguatan SDM, DPRD juga menyoroti pentingnya integrasi UMKM dengan potensi daerah.
Destinasi unggulan seperti Gunung Bromo dinilai belum dimaksimalkan sebagai etalase produk lokal.
“Pasuruan punya daya tarik kelas dunia. Kalau dikolaborasikan dengan UMKM, dampaknya luar biasa. Produk lokal harus hadir di setiap event dan destinasi wisata,” kata Gaung.
Baca juga: Lantik Pengurus KNPI, Mas Rusdi Pesan Jaga Kekompakan untuk Kontribusi Bangun Pasuruan
Ia menambahkan, kunci pemasaran modern bukan sekadar promosi, tetapi membangun pengalaman (experience) yang melekat di benak konsumen. Dari situlah produk akan dikenal dan dicari kembali.
DPRD pun mendorong pemerintah daerah untuk fokus pada tiga strategi utama: peningkatan kualitas SDM, penguatan branding daerah, serta perluasan konektivitas pasar melalui event dan kolaborasi lintas sektor.
Dengan langkah tersebut, UMKM Pasuruan diharapkan tidak hanya bertahan di tengah persaingan, tetapi mampu melompat lebih jauh, dari kekuatan lokal menjadi daya saing regional.
“Targetnya jelas, UMKM kita harus naik kelas. Bukan sekadar banyak, tapi juga kuat dan berdaya saing,” pungkasnya.