Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menegaskan pendidikan tinggi harus melahirkan manusia berintegritas di era transformasi, saat memberikan orasi ilmiah pada acara wisuda di Universitas YARSI, Jakarta, Sabtu (25/4).
Sebab, kata dia, transformasi pendidikan tinggi tidak boleh berhenti pada penguasaan teknologi, tetapi harus menghasilkan manusia yang berpikir kritis, berintegritas, dan memiliki tanggung jawab sosial.
"Masa depan bukan hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, melainkan oleh mutu manusia yang menggunakannya," kata Yusril seperti dikonfirmasi di Jakarta, Senin.
Ia menggarisbawahi perubahan global yang dipicu oleh digitalisasi, revolusi industri 4.0, dan kecerdasan buatan menuntut perguruan tinggi beradaptasi secara mendasar.
Menurutnya, tantangan utama saat ini bukan lagi keterbatasan informasi, melainkan kemampuan untuk memilah dan menilai kebenaran di tengah banjir informasi.
Oleh karena itu, lanjut dia, kampus dituntut tidak sekadar menyampaikan kurikulum, tetapi juga membentuk ketajaman berpikir dan kedewasaan intelektual mahasiswa.
Dia memaparkan transformasi pendidikan tinggi harus berjalan dalam tiga dimensi utama, yakni epistemik, etik, dan kebangsaan.
Pada dimensi epistemik, mahasiswa perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan kebutuhan dunia kerja.
Sementara pada dimensi etik, Yusril mengingatkan kemajuan teknologi, termasuk penggunaan kecerdasan buatan, harus diiringi dengan tanggung jawab moral, agar tidak menimbulkan penyalahgunaan, bias, maupun pelanggaran nilai kemanusiaan.
Lebih lanjut, dia menekankan pentingnya dimensi kebangsaan dalam pendidikan tinggi. Yusril berpendapat perguruan tinggi tidak boleh terlepas dari kepentingan nasional.
"Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan harus mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat serta memperkuat keadilan dan kualitas kehidupan publik," tuturnya.
Dalam konteks itu, ia melihat keterkaitan erat antara pendidikan tinggi dan pembangunan negara hukum yang beradab.
Di hadapan para wisudawan, dia juga berpesan agar lulusan tidak berhenti belajar, menjaga integritas serta menggunakan teknologi secara bijak.
Yusril mengingatkan keberhasilan profesional tidak hanya diukur dari kemampuan teknis, tetapi juga dari cara seseorang menggunakan keahliannya secara bertanggung jawab.
Ia pun menyatakan kualitas perguruan tinggi pada akhirnya ditentukan oleh manusia yang dihasilkannya.
Dengan demikian, dia berharap lulusan Universitas YARSI mampu menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.





