TRIBUNNEWSMAKER.COM - Insiden penembakan yang mengguncang dalam acara makan malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih di Amerika Serikat terus menyita perhatian publik dunia.
Momen yang seharusnya berlangsung aman dan eksklusif itu mendadak berubah menjadi kepanikan setelah suara tembakan terdengar di lokasi.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang berada di tengah agenda tersebut, menjadi salah satu tokoh yang langsung dikaitkan dengan peristiwa mengejutkan itu.
Setelah situasi berhasil dikendalikan oleh aparat keamanan, Trump akhirnya angkat bicara mengenai kejadian tersebut.
Dalam pernyataannya, ia menyoroti sosok pelaku yang disebut memiliki latar belakang emosional yang kuat.
Trump bahkan mengungkapkan bahwa pelaku diduga menyimpan banyak kebencian yang menjadi pemicu tindakan nekat tersebut.
Pernyataan ini langsung memicu spekulasi luas terkait motif di balik aksi penembakan yang terjadi di ruang terbatas tersebut.
Sejumlah pihak pun mulai menyoroti kemungkinan adanya faktor ideologi, tekanan pribadi, hingga isu keamanan yang lebih luas.
Hingga kini, kasus tersebut masih dalam penyelidikan intensif, sementara publik menanti fakta sebenarnya di balik peristiwa yang mengejutkan ini.
Baca juga: Obama Angkat Bicara soal Insiden Penembakan Donald Trump: Kecam Aksi Teror, Singgung soal Demokrasi
Seperti diketahui, Donald Trump mengungkapkan bahwa pria bersenjata yang mencoba menyerang pejabat pemerintah dalam acara makan malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih memiliki manifesto anti-Kristen dan menyimpan “banyak kebencian”.
Insiden penembakan terjadi dalam acara White House Correspondents' Dinner di Washington Hilton, Sabtu malam (25/4/2026).
Pelaku berhasil dihentikan aparat keamanan sebelum mencapai ballroom tempat ribuan tamu berkumpul.
Melansir Reuters, Senin (27/4/2026), Trump menyebut pelaku sebagai individu yang mengalami gangguan mental.
Ia juga mengungkap bahwa keluarga pelaku sebelumnya telah menyampaikan kekhawatiran kepada aparat penegak hukum.
Tersangka diidentifikasi sebagai Cole Tomas Allen, warga Torrance, California, yang ditangkap di lokasi kejadian.
“Ketika Anda membaca manifestonya, dia membenci orang Kristen,” ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News.
Menurut pejabat penegak hukum, manifesto tersebut dikirim kepada keluarga pelaku sesaat sebelum aksi dilakukan.
Dalam tulisannya, pelaku menyebut dirinya sebagai “Pembunuh Federal yang Ramah”.
Isi manifesto juga mengkritik keamanan di lokasi acara. Pelaku bahkan mengklaim dapat masuk dengan membawa banyak senjata tanpa dicurigai.
Pelaku diketahui melakukan perjalanan panjang menggunakan kereta dari Los Angeles ke Chicago sebelum akhirnya tiba di Washington D.C.
Pelaksana Tugas Jaksa Agung AS, Todd Blanche, menyebut bahwa target utama pelaku diduga adalah Presiden Trump dan pejabat tinggi pemerintah lainnya.
Pelaku sempat melepaskan tembakan ke arah agen United States Secret Service di pos pemeriksaan keamanan.
Beruntung, agen tersebut selamat karena peluru mengenai rompi pelindung.
Trump, Ibu Negara Melania Trump, Wakil Presiden, serta pejabat kabinet langsung dievakuasi dari lokasi.
Sekitar 2.600 tamu yang hadir dilaporkan panik saat suara tembakan terdengar. Sejumlah pejabat bahkan dipaksa tiarap oleh petugas keamanan.
Juru bicara Secret Service, Anthony Guglielmi, menyatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya kekerasan politik di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir.
Beberapa kasus sebelumnya, seperti pembunuhan aktivis konservatif Charlie Kirk dan legislator Minnesota Melissa Hortman, memperkuat kekhawatiran publik terhadap eskalasi konflik politik.
Survei Reuters/Ipsos menunjukkan bahwa retorika politik yang semakin keras dinilai menjadi pemicu meningkatnya kekerasan.
Di seluruh dunia, para pemimpin mengutuk serangan itu dan menyatakan lega bahwa Trump dan semua yang hadir selamat.
Pemimpin NATO Mark Rutte menyebutnya sebagai serangan "terhadap masyarakat kita yang bebas dan terbuka" dan Para pemimpin menekankan bahwa kekerasan tidak memiliki tempat dalam demokrasi.
Kunjungan Raja Charles dari Inggris ke AS yang dijadwalkan dimulai pada hari Senin akan tetap berlangsung, kata Trump dan para pejabat Inggris.
Kedutaan Besar Inggris mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa diskusi sedang berlangsung mengenai apakah insiden tersebut dapat mempengaruhi perencanaan kunjungan tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump dievakuasi secara darurat dari acara makan malam White House Correspondents' Association Dinner pada Sabtu malam (25/4/2026) setelah seorang pria bersenjata mencoba menembus pengamanan.
Menurut pejabat berwenang, pelaku membawa senapan dan sempat melepaskan tembakan ke arah agen United States Secret Service. Agen tersebut terkena tembakan di bagian tubuh yang terlindungi perlengkapan keamanan sehingga tidak mengalami cedera.
Insiden terjadi di area pemeriksaan utama pintu masuk acara yang digelar di Washington Hilton. Juru bicara Secret Service, Anthony Guglielmi, menyatakan bahwa pihaknya tengah menyelidiki insiden penembakan tersebut.
Setelah suara tembakan terdengar, suasana di dalam ruangan yang dihadiri sekitar 2.600 tamu berubah menjadi panik. Para peserta acara langsung berteriak dan berlindung, sementara petugas keamanan segera mengamankan lokasi.
Sejumlah pejabat kabinet, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr dan Menteri Dalam Negeri Doug Burgum, terlihat dipaksa tiarap oleh petugas keamanan untuk menghindari risiko tembakan lanjutan.
Petugas keamanan bersenjata lengkap kemudian memasuki area panggung dan mengevakuasi Trump beserta istrinya.
Beberapa petugas juga mengambil posisi siaga dengan senjata terarah ke arah ballroom.
(TribunNewsmaker.com/Wartakota)