Jejak Sejarah di Desa Ranggung, Rumah Ada Berbahan Kayu Berusia Ratusan Tahun Masih Berdiri Kokoh
Hendra April 27, 2026 03:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA — Jejak sejarah di Desa Ranggung, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan, tersimpan dan terjaga hingga saat ini.

Buktinya, tiga rumah adat tua berbahan kayu berusia ratusan tahun masih berdiri kokoh, bahkan masih tetap dihuni. Ini menjadi bukti ketangguhan kayu serta keahlian konstruksi masyarakat dulu.

Ketiga rumah tersebut dibangun dalam rentang waktu yang berdekatan. Bentuknya memiliki ciri khas yang hampir serupa dari segi material dan teknik pengerjaan. 

Seluruhnya menggunakan kayu nyatoh sebagai bahan utama serta mengandalkan metode sambungan tradisional pelideh, yakni sistem kunci antar papan tanpa celah.

Salah satu rumah berada tidak jauh dari kediaman Amrullah, sekitar empat rumah dari lokasi tersebut. Rumah itu kini dihuni oleh Rosmili bersama keluarganya dan masih berdiri kokoh dengan tiang panggung sebagai penopang utama.

Dari tampak luar, bentuknya menyerupai rumah Amrullah, dengan dinding papan yang disusun memanjang ke atas serta atap berbentuk limas menggunakan genteng tanah liat. Namun, rumah ini tidak memiliki teras depan dan ukurannya sedikit lebih pendek.

Meski telah mengalami beberapa renovasi, bentuk utama rumah masih terjaga. Di sisi kanan bangunan bahkan telah ditambahkan garasi menggunakan baja ringan yang menyatu dengan struktur rumah, sementara pagar mengelilingi bagian samping.

“Untuk rumah ini tidak memiliki teras karena masing-masing pemilik rumah punya selera berbeda, mengutamakan berbagai aspek mulai dari kebutuhan keluarga hingga fungsi,”kata tokoh adat Desa Ranggung, Zainuddin Jumat(27/4/2026).

Sementara itu, satu rumah lainnya yang berada sedikit lebih jauh berjarak 2 menit mobil, dihuni oleh Li. Rumah ini juga memiliki usia yang tidak jauh berbeda, namun memperlihatkan beberapa perbedaan mencolok.

Pada bagian depan, rumah tersebut memiliki teras yang memanjang, dengan ukuran yang tidak terlalu jauh berbeda dari rumah Amrullah yang memiliki panjang sekitar 13 meter dan lebar 7 meter. Namun, pada bagian struktur penopang, sebagian tiang menggunakan beton, terutama di bagian depan hingga tengah bangunan.

Meski demikian, bagian belakang masih mempertahankan penggunaan pasak kayu seperti rumah tradisional lainnya. Atap genteng tanah liat terlihat mulai mengalami kerusakan di beberapa bagian, begitu juga dengan beberapa papan dinding yang tampak mulai lapuk.

“Rumah ini sudah direnovasi belakangnya oleh pemiliknya sehingga beberapa bagian ada yang berubah, tetapi rumah utama tetap tegak dan papan dinding masih utuh,” jelas Zainuddin.

Ia menambahkan, meskipun memiliki kesamaan dari segi bahan dan teknik, ketiga rumah tersebut tetap menunjukkan perbedaan bentuk sesuai kebutuhan masing-masing pemilik.

“Model rumah berbeda-beda karena tergantung selera pemilik. Ada yang punya teras, ada yang tidak, ada juga yang rumahnya lebih tinggi atau lebih rendah, kamar-kamarnya juga berbeda,” katanya.

Zainuddin menegaskan, keberadaan tiga rumah ini menjadi bukti bahwa masyarakat terdahulu memiliki kemampuan tinggi dalam membangun hunian yang kuat dan tahan lama.

“Di Ranggung ini ada tiga rumah yang hampir sama. Dibuatnya tidak jauh beda tahunnya, dan semuanya pakai kayu nyatoh,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa ukuran kayu pada masa lalu jauh lebih besar dibandingkan sekarang. Bahkan, berdasarkan cerita turun-temurun, satu rumah bisa dibangun hanya dari satu batang pohon.

“Orang tua dulu bilang, satu rumah ini cukup sebatang kayu saja. Bayangkan besarnya seperti apa,” ungkapnya.

Kayu nyatoh yang digunakan dikenal memiliki daya tahan tinggi terhadap cuaca dan serangan rayap, sehingga mampu bertahan hingga ratusan tahun.

Namun, seiring perkembangan zaman, rumah berbahan kayu seperti ini semakin jarang ditemukan. Keterbatasan bahan baku serta tingginya biaya membuat masyarakat beralih ke material modern.

“Sekarang kayu sebesar itu sudah tidak ada lagi. Kalau pun ada, sangat sulit dan mahal,” kata Zainuddin.

Meski dua rumah lainnya telah mengalami renovasi, ketiganya tetap berdiri sebagai satu kesatuan warisan sejarah yang menunjukkan kualitas material dan teknik tradisional yang luar biasa.

Zainuddin berharap, tiga rumah adat tersebut dapat terus dijaga dan dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

“Ini bukan hanya rumah, tapi bukti keahlian orang dulu. Harapannya tetap dijaga, jangan sampai hilang,” ujarnya.

Sementara itu, Amrullah, penghuni rumah tertua di antara ketiganya, berharap rumah peninggalan keluarganya tetap dipertahankan dalam kondisi asli.

“Kalau masih bagus, biarkan tetap seperti ini. Ini peninggalan orang tua,” tutupnya.

(Bangkapos.com/Erlangga)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.