SURYA.CO.ID, SURABAYA - Mohammad Mahfud Mahmodin atau Mahfud MD menyoroti lemahnya penerapan merit system dalam tata kelola nasional, saat menjadi narasumber kuliah tamu di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya, Jawa Timur (Jatim), Senin (27/4/2026).
Dalam paparannya, Mahfud menilai persoalan utama tata kelola nasional tidak terlepas dari konfigurasi politik yang memengaruhi berbagai kebijakan publik.
“Masalah utama tata kelola itu pada konfigurasi politik, karena banyak hal diselesaikan secara politik, bukan oleh profesional,” ujarnya.
Mahfud menegaskan, bahwa lemahnya merit system berdampak langsung pada terganggunya sistem birokrasi dan kualitas pelayanan publik.
Ia menekankan pentingnya penguatan demokrasi melalui penegakan konstitusi sebagai langkah awal perbaikan.
“Kuncinya memperbaiki konfigurasi politik agar kembali ke konstitusi dan penegakan hukum,” tegasnya.
Selain tata kelola, Mahfud juga menyoroti pentingnya sikap tegas pemerintah dalam menjamin keselamatan prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian dunia.
“Pemerintah harus memastikan ada jaminan keselamatan yang jelas bagi prajurit kita,” katanya.
Ketua STIESIA Surabaya, Prof Dr Nur Fadjrih Asyik, menyebut kuliah tamu ini menjadi bagian penting dalam pengayaan keilmuan mahasiswa.
Menurutnya, kehadiran praktisi membantu menjembatani teori dan praktik dalam dunia nyata.
“Ini bagian dari pengayaan agar mahasiswa memiliki perspektif lebih luas dalam tata kelola organisasi,” ujarnya.
Kegiatan yang merupakan rangkaian Dies Natalis ke-54 STIESIA ini diikuti sekitar 500 peserta dari berbagai kalangan, mulai mahasiswa hingga alumni.