TRIBUNTRENDS.COM - Seorang wanita bernama Dina Dwi Septiyani ikut terkena imbas kasus dugaan penganiayaan di daycare Little Aresha, Umbulharjo, Yogyakarta.
Ia ikut terseret lantaran memiliki nama yang sama dengan salah satu pegawai di daycare Little Aresha.
Imbas nama yang sama, ia pun diteror hingga data pribadinya tersebar di media sosial.
Struktur organisasi daycare Little Aresha beredar luas di media sosial.
Naman-nama pengurusnya pun terpampang jelas lengkap dengan foto wajahnya.
Salah satu nama yang ikut terpampang yakni Dina Dwi Septiyani, S.I.P.
Baca juga: Diyah Kusumastuti Ketua Daycare Little Aresha Yogyakarta Mantan Napi? Diduga Pernah Terjerat Korupsi
Dalam struktur organisasi yang beredar, Dina Dwi Septiyani, S.I.P. merupakan admin sekolah di daycare tersebut.
Foto wajahnya terlihat jelas dalam poster yang beredar.
Pemilik akun Threads @dinadwiseptiyani pun menjadi sasaran teror.
Banyak yang menuduh ia lah sosok admin sekolah daycare Little Aresha tersebut.
Nomor WhatsApp miliknya bahkan tersebar di Threads.
Dina Dwi Septiyani menegaskan bahwa ia bukanlah pengurus Daycare Little Aresha.
Gelar pendidikan yang ia miliki pun beda dengan yang tertera.
Sosok yang tertera di poster memiliki gelar pendidikan S.I.P.
Sedangkan Dina Dwi Septiyani memiliki gelar pendidikan S.K.M.
Dina Dwi Septiyani juga mengungkap tempatnya bekerja yakni di Dinas Kesehatan.
Imbas dari nomor ponsel yang tersebar, banyak umpatan menghampirinya.
Dina Dwi Septiyani pun meminta pelaku yang menyebarkan segera bertaubat.
Ia sendiri turut prihatin atas kasus ini dikarenakan anaknya juga dititipkan di daycare.
@dinadwiseptiyani : "Haloo izin menginfokan bahwa saya BUKAN salah satu pengurus di Daycare Little Aresha, gelat saya S.K.M. bukan SIP dan saya bekerja di Dinas Kesehatan bukan di daycare. Mohon berhenti ngatain-ngatain melalui WA momor saya xxx470 yang sudah tersebar di thread. Semoga ygmenyebarkanm sgeera bertaubat.
Saya turut prihatin thd peristiwa ini, krn anak saya jg saya titipkan di daycare."
Baca juga: Trauma Psikis, Kondisi Anak yang Pernah Dibekap di Daycare Little Aresha, Pendiam Tak Berani Cerita
Bantahan Dina Dwi Septiyani ini juga diperkuat dengan pengakuan orang-orang yang mengenalnya.
Mereka yang mengenal Dina Dwi Septiyani membocorkan kalau beliau bekerja di Dinas Kesehatan Bantul, Yogyakarta.
Dina Dwi Septiyani pun mencoba menelusuri akun Threads yang pertama kali menyebar informasi bohong ini.
Sayang, unggahan akun Threads tersebut sudah dihapus.
@dinadwiseptiyani : "@asunder.staple ini akun yang nyebarin data saya kak, tp sepertinya postingan sudah dihapus karena saya report dan teman-teman saya banyak yg komen jg."
Hal ini membuat Dina Dwi Septiyani cukup trauma karena banyak yang menuduhnya.
Akun tak bertanggung jawab tersebut bahkan juga menyebarkan alat rumahnya.
"Nggak pernah buat utas di threads sebelumnya. Sekalinya buat utas malah utas klarifikasi. Foto⊃2; di threads pun ada karena memang connect dengan instagram itu pun jadi saya archive karena jujur jadi takut dan trauma main sosmed. Perkaranya ada akun anonim tidak bertanggung jawab yang seenaknya menyebar data pribadi saya mulai dari nama, TTL, alamat rumah, alamat email dan nomor WA. Akun ybs saya inbox di threads juga tidak ada balasan. Tidak ada kata minta maaf," tulis Dina Dwi Septiyani.
Dian Dwi Septiyani pun berterima kasih pada semua yang sudah mau membantunya klarifikasi.
"Padahal saya sendiri pun jg prihatin dgn peristiwa ini karena saya jg ibu pekerja yg menitipkan anak di day care.
Terima kasih untuk teman-teman baik yg kenal saya atau tidak sudah bersedia repost postingan saya, report dan komen di akun penyebar data saya. Semoga Allah membalas kebaikan teman-teman semua. Salam hangat," pungkasnya.
Little Aresha digerebek oleh polisi hari Sabtu, (25/4/2026). Di sana terdapat total ada 53 anak yang mengalami dugaan kekerasan. Adapun total anak yang dititipkan berjumlah 103 orang.
Menurut Kasatreskrim Polresta Yogyakarta Kompol Rizki Adrian, penggerebekan itu bermula dari polisi yang menerima laporan masyarakat tentang dugaan kekerasan dan diskriminatif.
Salah satu wali murid, Hita, mengaku tidak pernah membayangkan kondisi sebenarnya di dalam daycare berbeda jauh dari yang dijanjikan. Dia baru mengetahui fakta tersebut setelah penggerebekan dilakukan aparat kepolisian.
“Kami diperlihatkan video dan foto, lalu dipersilakan masuk ke dalam. Ternyata fasilitasnya tidak sesuai dengan brosur yang ditawarkan,” ujarnya, dikutip dari Tribun Jogja, Minggu (26/4/2026).
Menurut Hita, sejak awal pihak daycare menjanjikan berbagai fasilitas pendukung tumbuh kembang anak, mulai dari ruangan ber-AC, tempat tidur, hingga mainan edukatif.
Namun kenyataannya, kondisi di lapangan jauh dari ekspektasi tersebut. “Yang dijelaskan lengkap, ada AC, kasur, mainan, bahkan makan dan mandi. Tapi kenyataannya tanpa AC, tanpa kasur, hanya matras puzzle,” katanya.
Sebanyak 13 orang telah ditetapkan tersangka dalam kasus dugaan kekerasan dan penelantaran anak di Little Aresha. Penetapan ini merupakan tindak lanjut dari pengamanan 30 orang yang dilakukan sejak Jumat (24/4/2026).
Selain jumlah tersangka, polisi juga mengungkap kondisi fasilitas yang sangat tidak layak bagi tumbuh kembang anak di dalam tempat penitipan tersebut.
Kombes Eva Guna Pandia berkata bahwa 13 tersangka tersebut terdiri dari jajaran struktural yayasan hingga tenaga teknis di lapangan. Rinciannya adalah 1 orang kepala yayasan Little Aresha, 1 orang kepala sekolah, dan 11 orang pengasuh.
Para tersangka dijerat dengan pasal berlapis dalam UU Perlindungan Anak terkait tindakan diskriminatif, penelantaran, hingga kekerasan fisik.
(TribunTrends/Ninda)