TRIBUNJATIM.COM – Tradisi Distrikan menjadi salah satu warisan budaya khas masyarakat Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur yang sarat nilai spiritual, sejarah, dan kearifan lokal.
Digelar di kawasan Danau Ranu Grati, ritual ini tidak hanya menjadi ungkapan syukur, tetapi juga simbol harmoni antara manusia, alam, serta nilai-nilai leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.
Sejarah Distrikan, Berakar dari Kehidupan Masyarakat Ranu Grati
Dikutip dari berbagai sumber, Tradisi Distrikan telah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat di sekitar Danau Ranu Grati.
Biasanya, tradisi Distrikan dilaksanakan oleh warga Desa Ranuklindungan pada setiap bulan Muharram (Suro).
Selain itu, tradisi ini juga berkaitan erat dengan perkembangan Desa Ranuklindungan yang sejak dahulu menjadi pusat aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya warga di kawasan tersebut.
Secara historis, Distrikan diyakini telah ada sejak tahun 1928 dan berakar dari kepercayaan masyarakat terhadap penguasa danau, yakni sosok naga Baru Klinting.
Ritual ini awalnya dilakukan sebagai bentuk permohonan perlindungan agar terhindar dari kecelakaan di perairan, sekaligus sebagai timbal balik melalui larung sesaji agar tidak ada lagi korban tenggelam.
Lebih dari itu, Distrikan juga tidak terlepas dari kekayaan sejarah dan budaya Ranuklindungan.
Tradisi ini turut diwariskan melalui legenda lokal seperti kisah Endang Sukarni, Begawan Nyampo, hingga sosok naga Baru Klinting.
Cerita-cerita tersebut diwariskan secara turun-temurun dan menjadi dasar lahirnya ritual Distrikan sebagai bentuk penghormatan terhadap penjaga danau.
Selain itu, kawasan ini juga memiliki nilai arkeologis yang tinggi.
Adanya temuan seperti beliung batu dan fragmen tembikar, menunjukkan bahwa wilayah ini telah dihuni sejak masa prasejarah, sekitar 10.000 hingga 5.000 SM.
Hal tersebut turut menegaskan perannya sebagai pusat kehidupan sejak zaman dahulu.
Tak hanya itu, Ranuklindungan juga menyimpan jejak sejarah perjuangan.
Pada masa penjajahan Jepang, wilayah ini menjadi tempat perlindungan warga dan pejuang yang bersembunyi di dalam danau dari serangan musuh.
Peristiwa tersebut kemudian melahirkan nama “Ranuklindungan” yang berarti “danau tempat berlindung”.
Sementara itu, istilah “Distrikan” sendiri berasal dari kata “distrik”, merujuk pada wilayah yang dahulu mencakup empat kecamatan, yakni Grati, Nguling, Lekok, dan Rejoso.
Tradisi ini pun berkembang sebagai bentuk tasyakuran masyarakat atas hasil alam yang melimpah, sekaligus doa untuk keselamatan dan kesejahteraan bersama.
Baca juga: Larung Sesaji Pantai Tambakrejo Blitar, Ritual Sakral Warisan Prajurit Diponegoro di Bulan Suro
Prosesi Sakral Larung Sesaji di Tengah Danau
Dilansir dari sidita.disbudpar.jatimprov.go.id, inti dari Tradisi Distrikan adalah prosesi larung sesaji, yakni menghanyutkan persembahan ke tengah Danau Ranu Grati sebagai ungkapan rasa syukur dan doa keselamatan.
Rangkaian acara diawali dengan kirab budaya yang melibatkan warga, tokoh adat, hingga pemerintah daerah.
Ribuan masyarakat biasanya memadati kawasan danau untuk menyaksikan arak-arakan yang diisi dengan karnaval budaya, penampilan tari tradisional, serta doa bersama yang dipimpin tokoh agama.
Para peserta, termasuk nelayan, mengenakan pakaian adat khas Jawa yang disiapkan khusus untuk momen tersebut.
Setelah kirab, prosesi dilanjutkan dengan pelarungan sesaji ke tengah danau menggunakan perahu hias berwarna-warni.
Sesaji yang dibawa beragam, mulai dari tumpeng berwarna (putih, kuning, hijau, dan hitam), hasil bumi, bunga, hingga hewan ternak seperti ayam dan bebek.
Sesampainya di tengah danau, doa kembali dipanjatkan sebelum sesaji dilarung sebagai simbol persembahan kepada Sang Pencipta sekaligus penghormatan terhadap penjaga alam.
Ritual ini juga dipercaya sebagai permohonan keselamatan agar masyarakat, khususnya nelayan, terhindar dari berbagai marabahaya.
Menariknya, setelah prosesi selesai, warga diperbolehkan mengambil atau berebut sesaji yang telah dihanyutkan.
Hal tersebut dimaknai sebagai simbol harapan agar rezeki yang diperoleh masyarakat juga melimpah dan membawa berkah dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Larung Ketupat Pantai Bajul Mati Malang, Tradisi Simbol Syukur dan Kebersamaan Warga Pesisir
Tradisi Leluhur Sarat Makna dan Kepercayaan
Mengutip pasuruankab.go.id, Tradisi Distrikan tidak hanya menjadi ritual budaya, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap leluhur serta kepercayaan masyarakat setempat.
Salah satu kepercayaan yang masih hidup adalah sosok Baru Klinting, yang diyakini sebagai penjaga Danau Ranu Grati.
Meski mayoritas masyarakat beragama Islam, tradisi ini tetap dijalankan sebagai warisan budaya turun-temurun dari nenek moyang.
Selain itu, ritual ini juga menjadi ungkapan rasa syukur masyarakat, khususnya nelayan keramba, atas hasil alam yang mereka peroleh, sekaligus doa agar diberikan keselamatan, keberkahan, dan hasil tangkapan yang melimpah.
Lebih dari itu, Distrikan juga memiliki makna sosial yang kuat. Tradisi ini menjadi sarana mempererat kebersamaan warga, menjaga hubungan harmonis dengan alam, serta melestarikan nilai-nilai budaya leluhur.
Bahkan, dilansir dari kompasiana.com, masyarakat meyakini bahwa ritual ini turut menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan dunia tak kasat mata di kawasan Ranu Grati.
Baca juga: Tradisi Larung Sembonyo Prigi Trenggalek, Ritual Sedekah Laut Warisan Leluhur yang Tetap Lestari
Dari Ritual Sakral Menjadi Daya Tarik Wisata
Seiring perkembangan zaman, Tradisi Distrikan di kawasan Danau Ranu Grati mengalami berbagai penyesuaian.
Jika pada masa lalu ritual ini kental dengan unsur mistis, kini pelaksanaannya dipadukan dengan nilai religius seperti doa bersama, istighosah, dan tasyakuran tanpa menghilangkan esensi budayanya.
Tradisi ini sempat dihentikan pada tahun 1978 karena dianggap kurang sesuai dengan ajaran agama.
Namun, pada tahun 2000, para pemuda setempat berinisiatif menghidupkannya kembali dengan pendekatan yang lebih Islami.
Mantra-mantra lama pun digantikan dengan doa-doa keselamatan yang selaras dengan nilai keagamaan masyarakat.
Kini, Distrikan tidak hanya berfungsi sebagai ritual budaya, tetapi juga berkembang menjadi agenda tahunan yang didukung pemerintah daerah.
Ribuan warga dan wisatawan kerap memadati lokasi untuk menyaksikan kirab budaya, pertunjukan seni, hingga prosesi larung sesaji, menjadikannya sebagai salah satu daya tarik wisata budaya unggulan di Pasuruan.
Baca juga: Tradisi Ngarak Jolen Lumajang, Filosofi Ojo Lali dalam Ritual Berebut Berkah Hasil Bumi
Harmoni Budaya, Alam, dan Warisan Leluhur
Tradisi Distrikan di kawasan Danau Ranu Grati bukan sekadar upacara adat, melainkan cerminan hubungan erat antara manusia, alam, dan nilai-nilai leluhur yang telah terjalin sejak lama.
Sebagai tradisi turun-temurun, Distrikan menjadi simbol identitas masyarakat setempat yang memadukan unsur budaya, spiritualitas, dan lingkungan.
Ritual ini juga menyimpan nilai sejarah yang panjang, mulai dari jejak prasejarah, legenda lokal, hingga peran danau sebagai sumber kehidupan warga.
Dengan dukungan masyarakat dan pemerintah, Tradisi Distrikan diharapkan terus lestari dan berkembang sebagai warisan budaya sekaligus daya tarik wisata yang memperkaya identitas budaya di Kabupaten Pasuruan.