Anak yang Dititip di Little Aresha Daycare Tunjukan Perilaku Tak Biasa
Desy Selviany April 27, 2026 06:20 PM

WARTAKOTALIVE.COM - Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo perubahan perilaku anak-anak yang dititipkan di Little Aresha Daycare, Kota Yogyakarta.

Anak-anak tersebut menunjukan indikasi gangguan psikologis usai menjadi korban di tempat penitipan tersebut.

​Hal itu diungkapkan Hasto setelah bertatap muka selama lebih kurang 2,5 jam bersama sejumlah orangtua korban di rumah dinasnya, Minggu (26/4/2026) sore seperti dimuat TribunJogja. 

Dalam pertemuan tersebut, mantan Kepala BKKBN RI ini mendengar langsung kesaksian para orangtua mengenai kondisi buah hati mereka pascainsiden mencuat.

​"Mereka bersedih, kami juga sangat bersedih karena memang apa yang mereka ceritakan membuat kita sebagai orangtua itu bisa membayangkan seperti apa anak yang tidak bisa protes dan anak yang belum punya bargaining position seperti apa, tapi ada perlakuan-perlakuan seperti yang disampaikan itu," katanya.

Hasto menyoroti bahwa dampak dari kejadian di daycare tersebut bukan sekadar fisik, melainkan sudah menyentuh aspek psikis puluhan korbannya.

Menurut laporan para orangtua yang diterimanya, anak-anak mulai menunjukkan perilaku yang tidak biasa atau tanda-tanda yang kurang sehat secara psikologis.

Maka dari itu para orang tua meminta perlindungan psikis untuk anak-anak mereka yang menjadi korban kekerasan di Daycare tersebut.

​"Pada prinsipnya mereka yang pertama minta perlindungan untuk anaknya dibantu karena anak-anak yang sekarang ini dirasakan ada beberapa, ya secara psikologis anak-anaknya ada tanda-tanda yang kurang sehat secara psikologis," imbuhnya.

Merespons kondisi darurat ini, Hasto menyatakan telah berkoordinasi dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan dinas terkait untuk membentuk tim pendampingan khusus.

Tim lintas disiplin tersebut melibatkan psikolog anak, ahli tumbuh kembang, ahli gizi untuk memastikan asupan nutrisi korban kembali terjaga, hingga ahli parenting.

Tak hanya sang anak, Hasto menyadari bahwa para orangtua juga mengalami trauma dan tekanan mental yang hebat akibat kejadian nan memilukan ini. 

Ia merasakan betul, stres dan rasa terkejut yang begitu mendalam menyelimuti para orangtua sejak penggerebekan oleh Polresta Yogyakarta pada Jumat (24/4/2026) lalu.

​"Orangtua juga mengalami gangguan karena stres, kondisi seperti ini sangat mengejutkan. Tadi pun mereka menangis saat menyampaikan (keluh kesahnya). Mereka juga menginginkan ada pendampingan," jelasnya.

Baca juga: 75 Persen Keluarga Indonesia Butuh Daycare, Tapi Mayoritas Tak Berizin

Untuk menangani hal tersebut, Pemkot Yogyakarta telah menyiagakan 18 psikolog klinis yang tersebar di seluruh Puskesmas di 14 kemantren di Kota Yogyakarta. 

Deretan tenaga profesional ini, terang Hasto, siap sedia memberikan konseling bagi orangtua yang terdampak agar mentalitas keluarga bisa segera pulih.

"Itu kami mendengar dari semuanya tadi. Sehingga, sekarang tentu kami merespons dengan hal-hal yang kemudian jadi langkah-langkah selanjutnya," pungkasnya.

Sementara itu salah satu orang tua anak korban kekerasan di Little Aresha Daycare Anto tak menampik adanya beberapa kejanggalan yang dirasakan, seperti mendapati luka-luka fisik pada tubuh anaknya. 

Meski pihak daycare kerap memberikan alasan yang bervariasi untuk melegakan orangtua, dirinya merasa lega kasus ini akhirnya terungkap ke publik.

​"Kami bersyukur hal ini bisa dibongkar, dalam artian anak kami tertolong. Memang ada beberapa kejadian berkaitan dengan luka-luka fisik yang tentunya kami selaku orang tua tidak mengharapkan itu," jelasnya.

Selain luka fisik, Anto juga menyoroti kondisi tumbuh kembang anaknya karena perlakuan yang cenderung kurang manusiawi selama dititipkan di Little Aresha Daycare.

Ia mengaku khawatir terhadap risiko stunting lantaran adanya penurunan berat badan yang drastis pada sang anak selama berada dalam pengasuhan lembaga tersebut.

​"Itu kekhawatiran kami selaku orang tua pasti, ketika anak tidak sesuai dengan standar (berat badan) kan tentu ada kekhawatiran ke arah sana (stunting)," tambahnya.

​Kini, fokus utama para wali murid adalah pemulihan psikis anak-anak, agar trauma yang dialami tidak berkepanjangan dan bisa kembali tumbuh dengan normal.

​Terkait proses hukum yang tengah berjalan di Polresta Yogyakarta, Anto menyatakan apresiasinya atas penetapan 13 orang tersangka dalam kasus ini. 

​"Kami sangat menghargai dan mengikuti proses yang ada di kepolisian. Apapun prosesnya kami ikuti. Harapan kami, Pemkot bisa memberikan titik terang, bantuan hukum, dan pengawalan proses hukum ini seadil-adilnya," pungkasnya.

Sebuah daycare di Yogyakarta diberi garis polisi usai diduga menjadi lokasi penganiayaan terhadap anak yang dititip orang tua. 

Hal itu diketahui usai rekaman CCTV viral di media sosial. Sejumlah anak yang dititipkan terlihat diikat tubuhnya dan ditinggal di ruangan kosong. 

Bahkan salah satu orang tua menyebut bahwa anaknya sempat dibogor oleh daycare tersebut. 

Polresta Yogyakarta kini telah menetapkan 13 orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan kekerasan dan penelantaran anak ini 

Daycare tersebut memberikan harga yang murah yakni Rp 500.000 per bulan kala itu untuk layanan setengah hari—jauh di bawah rata-rata daycare lain di Yogyakarta yang mencapai Rp 700.000 hingga Rp 800.000. 

Namun di balik harga murah itu Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizky Adrian, mengungkapkan fakta mengerikan saat penggerebekan daycare Little Aresha. 

Polisi menyaksikan langsung perlakuan tidak manusiawi yang dilakukan pengasuh terhadap anak-anak di lokasi tersebut.  

“Ada yang kakinya diikat, tangannya diikat, dan sebagainya,” tegas Adrian saat ditemui di Mapolresta Yogyakarta, Sabtu (25/4/2026).

(Wartakotalive.com/Des/TribunJogja)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.