Kematian Karim Picu Aksi Massa di Padang, Keluarga Pertanyakan Status ODGJ dari Dinsos
Rahmadi April 27, 2026 06:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Kematian seorang pengamen bernama Karim menyulut gelombang protes di Kota Padang, Sumatera Barat, Senin (27/4/2026). Puluhan massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Karim mengepung Kantor Dinas Sosial Kota Padang.

Pantauan di lapangan, aksi ini merupakan kelanjutan dari rangkaian protes yang sebelumnya juga dilakukan di depan Kantor Satpol PP Kota Padang. 

Massa bergerak mengawal kasus kematian seorang pengamen muda bernama Karim yang dinilai penuh kejanggalan.

Sekitar pukul 15.30 WIB, massa mulai memadati area pintu masuk Kantor Dinsos Padang. Ketegangan meningkat saat massa mulai menyulut api pada tumpukan ban bekas di tengah jalan sebagai bentuk protes keras terhadap instansi tersebut.

Asap hitam membumbung tinggi di depan kantor Dinsos, sementara teriakan tuntutan keadilan terus menggema dari pengeras suara. Massa mendesak agar pimpinan dinas segera menemui mereka untuk memberikan penjelasan transparan.

Baca juga: Demo Kematian Pengamen Karim di Padang Memanas, Massa Bakar Ban di Kantor Dinsos

Di tengah kerumunan massa, tampak sosok Rafles, ayah kandung dari almarhum Karim. Dengan wajah yang menyiratkan duka mendalam sekaligus amarah, ia berdiri di garis depan menuntut keadilan bagi putra tercintanya.

Fokus utama dalam tuntutan kali ini adalah mengenai status kesehatan mental Karim. Rafles secara tegas mempertanyakan dan menggugat pernyataan pihak Dinas Sosial yang menyebut anaknya mengidap Gangguan Jiwa (ODGJ).

"Kami ke sini untuk meminta keadilan. Saya sebagai ayahnya tidak terima dengan pernyataan yang menyebut anak saya ODGJ," ujar Rafles.

Rafles menegaskan bahwa selama hidupnya, Karim adalah sosok yang sehat secara mental dan jauh dari kriteria ODGJ sebagaimana yang diklaim oleh pihak dinas terkait pasca-kejadian.

Ia mencurigai adanya upaya stigmatisasi terhadap almarhum untuk mengaburkan fakta penyebab kematian Karim yang sebenarnya. Keluarga merasa label ODGJ hanyalah alibi untuk melepaskan tanggung jawab.

Baca juga: Ketua DPRD Padang Minta Penertiban Taplau, Larangan Parkir Tanpa Belanja Dinilai Tak Masuk Akal

"Karim bukan ODGJ. Kami minta Dinsos menjelaskan semuanya. Jangan asal memberi label tanpa bukti medis yang jelas hanya untuk menutupi masalah," tegas Rafles di sela-sela aksi.

Pihak keluarga meminta Dinsos Padang untuk membuka seluruh data dan kronologi sejak Karim diamankan hingga dinyatakan meninggal dunia. Kejelasan status ini dianggap krusial demi memulihkan nama baik almarhum.

Aksi unjuk rasa ini mendapatkan pengawalan ketat dari pihak kepolisian. Puluhan personel polisi tampak berjaga di sekitar lokasi untuk memastikan massa tidak melakukan tindakan anarkis lebih lanjut ke dalam gedung.

DEMO KEMATIAN KARIM - Suasana di depan Kantor Dinas Sosial (Dinsos) Kota Padang massa bakar ban pada Senin (27/4/2026) sore.  Puluhan massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Karim menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran.
DEMO KEMATIAN KARIM - Suasana di depan Kantor Dinas Sosial (Dinsos) Kota Padang massa bakar ban pada Senin (27/4/2026) sore.  Puluhan massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Karim menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Massa Bakar Ban

Suasana di depan Kantor Dinas Sosial (Dinsos) Kota Padang mendadak mencekam pada Senin (27/4/2026) sore. 

Pantaun Reporter Tribunpadang, Arif Ramanda sekitar jam 15.30 WIB. Puluhan massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Karim menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran.

Massa memulai pergerakannya sejak siang hari. Sebelum mendatangi Dinas Sosial, para pendemo terlebih dahulu mendatangi Kantor Satpol PP Kota Padang untuk menyuarakan tuntutan serupa terkait kematian tragis seorang pengamen bernama Karim.

Massa aksi tiba di Kantor Dinas Sosial Kota Padang sekitar pukul 15.30 WIB. Kehadiran mereka langsung disambut dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian yang sudah berjaga di lokasi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Ketegangan sempat meningkat saat massa mulai melakukan aksi bakar ban di depan pintu masuk kantor Dinsos. Kepulan asap hitam membubung tinggi ke langit, menjadi simbol kemarahan dan duka mendalam atas kepergian Karim.

Baca juga: Mantra Lokal Sajikan Cerita Masakan Nusantara Lewat Foodgraphic dan Kompetisi Memasak

Dalam aksi tersebut, hadir pula sosok Rafles, ayah kandung dari almarhum Karim. Dengan raut wajah penuh kesedihan namun tetap tegar, Rafles berdiri di barisan depan massa untuk menuntut keadilan bagi putra tercintanya.

Rafles menyampaikan orasi bahwa pihak keluarga hanya menginginkan transparansi dan keadilan yang seadil-adilnya atas kematian Karim yang terjadi beberapa waktu lalu.

"Kami datang ke sini hanya untuk satu hal, yakni keadilan. Kami ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada anak saya," ujar Rafles dengan suara bergetar di hadapan massa aksi dan petugas keamanan.

Ia juga secara tegas meminta pihak Dinas Sosial Kota Padang untuk memberikan penjelasan secara menyeluruh. 

Menurutnya, ada banyak kejanggalan yang masih menyelimuti peristiwa kematian pengamen muda tersebut.

Baca juga: Parkir Kawasan Pantai Padang Hak Publik, Dishub Tegaskan Pedagang Tak Boleh Larang Pengunjung

"Dinsos harus menjelaskan semuanya. Jangan ada yang ditutup-tutup secara sepihak. Kami sebagai keluarga berhak tahu kronologi sebenarnya hingga Karim kehilangan nyawanya," lanjut Rafles dalam tuntutannya.

Aliansi mahasiswa yang mendampingi Rafles turut menyuarakan agar pihak berwenang melakukan investigasi mendalam.

Mereka menilai kematian Karim adalah potret kelam penanganan masyarakat marginal di Kota Padang.

Aksi bakar ban yang dilakukan massa merupakan bentuk protes atas lambannya respon dari instansi terkait.

Mereka mengancam akan bertahan di lokasi sampai ada perwakilan dari Dinas Sosial yang menemui mereka dan memberikan jawaban pasti.

 Arus lalu lintas di sekitar lokasi pun sempat mengalami kemacetan akibat penumpukan massa.

Baca juga: Jelang Aksi Menuntut Keadilan untuk Karim, Petugas Gabungan Siaga di Kantor Satpol PP Padang

Puluhan Orang Datangi Kantor Satpol PP

Puluhan massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Karim mendatangi Kantor Satpol PP Padang, Senin (27/4/2026).

Kedatangan mereka bertujuan untuk menuntut keadilan terkait kasus kematian pengamen Karim yang hingga kini dinilai masih misterius.

Karim ini diketahui diangkut Satpol PP Padang pada 23 Maret 2026 lalu, dua hari berselang, Karim diketahui meninggal di RSJ HB Saanin Padang.

Pantauan TribunPadang.com di lapangan sekira pukul 14:18 WIB, massa datang dengan kendaraan roda dua ke Kantor Satpol PP Padang.

Di gerbang masuk, sejumlah petugas kepolisian dan Satpol PP Padang berjaga menyambut kedatangan massa.

Baca juga: Jelang Aksi Menuntut Keadilan untuk Karim, Petugas Gabungan Siaga di Kantor Satpol PP Padang

Massa membawa sejumlah spanduk bertuliskan "Copot Kasatpol PP Padang" "Usut Pembunuh Karim" dan lain sebagainya.

Massa juga kompak menggunakan pakaian hitam dengan pita merah saat datang ke Kantor Satpol PP Padang.

Hingga kini, sejumlah orator dari pihak keluarga dan mahasiswa hingga masyarakat bergantian orasi.

AKSI UNJUK RASA - Penampakan massa yang berdatangan di Kantor Satpol PP Padang, Senin (27/4/2026). Massa tuntut keadilan atas kematian Karim.
AKSI UNJUK RASA - Penampakan massa yang berdatangan di Kantor Satpol PP Padang, Senin (27/4/2026). Massa tuntut keadilan atas kematian Karim. (TribunPadang.com/Muhammad Iqbal)

Petugas Berjaga

Sejumlah petugas gabungan sudah berjaga di Kantor Satpol PP, Jalan Tan Malaka, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang menjelang aksi dari Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Karim, Senin (27/4/2026).

Semulanya, aksi bakal diadakan sekira pukul 13:00 WIB, akan tetapi hingga pukul 14:04 WIB, massa belum mendatangi Kantor Satpol PP.

Baca juga: Tabrakan Pikap vs Wuling di Batang Anai Padang Pariaman, Satu Mobil Terbalik di Pinggir Jalan

Di lokasi, terlihat sejumlah petugas kepolisian dan Satpol PP sudah berjaga di lokasi, untuk menyambut kedatangan massa.

Tak hanya itu, di lokasi terlihat mobil Raisa milik kepolisian sudah berada di dalam Kantor Satpol PP.

Selain itu, juga ada ambulance, kendaraan pengangkut petugas hingga kendaraan milik Satpol PP lainnya.

Untuk diketahui, aksi ini bertujuan untuk menuntut keadilan terhadap almarhum Karim, seorang pengamen yang meninggal dunia usai diamankan Satpol PP pada 23 Maret 2026 lalu.

Hingga kini, kasusnya belum menemukan titik terang, hingga sebulan pasca kematian pengamen tersebut.

Baca juga: BBM Naik, Gubernur Mahyeldi Harap Harga Bahan Pokok di Sumbar Tetap Stabil Jelang Idul Adha

Bahkan, sejumlah awak media juga terlihat sudah bersiap-siap di lokasi, menantikan jalannya aksi.

Kematian Karim

Kasus yang memicu kemarahan keluarga ini bermula pada 23 Maret 2026, saat petugas mengamankan Karim (32) di kawasan Pasar Raya Padang.

Karim, yang sehari-hari bekerja sebagai pengamen, dibawa menggunakan mobil operasional menuju Kantor Satpol PP Padang untuk menjalani proses pendataan.

Namun, proses penertiban tersebut berubah menjadi duka mendalam bagi pihak keluarga hanya dalam waktu singkat.

Setelah diamankan di Kantor Satpol PP Padang, petugas mengirim Karim ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) HB Saanin Padang pada hari yang sama.

Petugas beralasan bahwa pria berusia 32 tahun tersebut menunjukkan indikasi gangguan jiwa, meski keluarga menegaskan bahwa Karim dalam kondisi sehat secara mental sebelum ditangkap. 

Baca juga: Daftar Harga Sembako di Padang Panjang April 2026, Daging Sapi Tembus Rp 153 Ribu per Kg

Rentetan peristiwa menjadi semakin gelap ketika pada 25 Maret 2026, pihak rumah sakit menyatakan Karim meninggal dunia.

Keluarga yang menjemput jenazah menemukan kondisi fisik yang tidak wajar pada tubuh korban.

Terdapat sejumlah luka lebam di bagian wajah dan tubuh yang memicu dugaan adanya kekerasan selama proses pengamanan di Kantor Satpol PP Padang.

LBH Padang yang mendampingi kasus ini mengungkapkan fakta bahwa hasil otopsi menunjukkan adanya perdarahan otak yang sangat parah.

Hingga memasuki tanggal 27 April 2026, atau tepat satu bulan lebih sejak kejadian, belum ada satu pun pihak yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kematian pengamen Karim.

Ketiadaan transparansi ini membuat massa dari Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Karim turun ke jalan. Mereka menilai ada upaya menutupi fakta sebenarnya di balik kematian pengamen Karim.

Baca juga: 3 Kloter Embarkasi Padang Dipimpin Petugas Haji Perempuan, Layani Jemaah Lansia Secara Humanis 

Massa menuntut polisi segera memeriksa oknum petugas yang terlibat dalam penangkapan tanggal 23 Maret tersebut.

Aksi yang berlangsung di depan Kantor Satpol PP Padang Senin (27/4/2026) kelanjutan respons warga atas lambannya proses hukum terhadap kematian pengamen Karim. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.