TRIBUN-VIDO.COM - Raut kesedihan tampak di wajah Anto, salah satu orang tua siswa yang menjadi korban dugaan kekerasan dan penelantaran anak di Little Aresha Daycare.
Ia mengungkapkan adanya sejumlah kejanggalan selama anaknya dititipkan di tempat tersebut.
Ditemui usai pertemuan dengan Hasto Wardoyo di rumah dinas wali kota, Minggu (26/4/2026), Anto berharap Pemerintah Kota Yogyakarta memberikan perhatian serius terhadap pemulihan kondisi anak-anak korban.
Menurutnya, sang buah hati telah dititipkan di daycare tersebut sejak usia dua bulan dan sudah berlangsung selama kurang lebih tiga tahun.
Selama periode itu, ia mengaku mulai merasakan adanya hal-hal yang tidak wajar.
"Anak kami kebetulan sudah tiga tahun di sana, sejak usia dua bulan. Jadi dari usia dua bulan sudah kami titipkan di sana sampai kemarin kasus ini mencuat," ungkapnya seperti dikutip dari TribunJogja.
Anto menuturkan, kejanggalan yang dirasakan salah satunya adalah munculnya luka-luka fisik pada tubuh anaknya.
Meski pihak daycare kerap memberikan berbagai alasan, ia mengaku sempat mempercayai penjelasan tersebut.
Namun, ia kini merasa lega karena kasus tersebut akhirnya terungkap ke publik.
"Kami bersyukur hal ini bisa dibongkar, dalam artian anak kami tertolong. Memang ada beberapa kejadian berkaitan dengan luka-luka fisik yang tentunya kami selaku orang tua tidak mengharapkan itu," jelasnya.
Selain luka fisik, Anto juga menyoroti dampak terhadap tumbuh kembang anaknya.
Ia mengaku khawatir setelah melihat adanya penurunan berat badan yang cukup drastis selama anaknya berada dalam pengasuhan daycare tersebut.
"Itu kekhawatiran kami selaku orang tua pasti, ketika anak tidak sesuai dengan standar (berat badan) kan tentu ada kekhawatiran ke arah sana (stunting)," tambahnya.
Kini, para orang tua korban memfokuskan perhatian pada pemulihan kondisi psikologis anak-anak mereka agar trauma yang dialami tidak berkepanjangan.
Terkait proses hukum yang tengah berjalan di kepolisian, Anto menyampaikan apresiasi atas penetapan sejumlah tersangka dalam kasus ini. Ia berharap penanganan perkara dapat berjalan secara adil dan transparan.
"Kami sangat menghargai dan mengikuti proses yang ada di kepolisian. Apapun prosesnya kami ikuti. Harapan kami, Pemkot bisa memberikan titik terang, bantuan hukum, dan pengawalan proses hukum ini seadil-adilnya," pungkasnya.
Meski demikian, ia mempertanyakan kondisi para pengasuh dalam kasus ini.
Lita menilai, latar belakang pendidikan para pelaku justru menjadi ironi.
"Ini kalau saya lihat, orang-orangnya semua berpendidikan loh. tapi kenapa kayak begini, berarti mentalnya yang terganggu," ujarnya.
Ia pun menekankan pentingnya sistem rekrutmen yang ketat dalam pengelolaan daycare.
Menurutnya, calon pengasuh harus melalui serangkaian tes dan mekanisme seleksi yang jelas sebelum diterima bekerja.
“Jadi, untuk mengambil atau melihat atau merekrut karyawannya harus dalam kondisi yang memang bener-bener baik, harus dites dan harus ada mekanismenya. Tidak mudah loh punya daycare itu, jadi harus sistem pengawasannya harus jelas, dari pelatihnya harus jelas, dari pembinanya harus jelas, dari pemiliknya harus jelas dan semuanya harus terakreditasi. Jangan yang abal-abal," tegasnya.
Selain itu, Lita juga mengingatkan para orang tua untuk benar-benar siap secara lahir dan batin sebelum memutuskan memiliki anak.
Pasalnya, orang tua harus memiliki tanggung jawab penuh terhadap risiko yang ada.
"Jadi kepada orang tua, kalau memang anda belum siap punya anak, ya siap itu artinya kalian itu siap untuk berhenti bekerja, atau kalau memang belum ada uang usahakan kalau kita udah siap memiliki anak berarti kita juga harus siap lahir dan batin," ucapnya.
Ia juga menyarankan agar orang tua lebih selektif dalam memilih daycare, terutama memastikan tempat tersebut memiliki akreditasi yang jelas.
"Kalau bisa jangan dititipkan di daycare apalagi daycare-nya yang abal-abal, yang tidak terakreditasi. Ini pelajaran buat kita semua jangan sampai anak kita yang jadi korban, kasihan ya, itu parah ya,” lanjutnya.
Dalam kesempatan itu, Lita juga meminta aparat kepolisian untuk mengawal kasus ini hingga tuntas.
Ia bahkan secara khusus menyampaikan pesan kepada Kapolres Yogyakarta agar tidak melepas perhatian terhadap kasus tersebut.
"Kepada Kapolresta Yogyakarta, saya kenal dengan anda. Tolong ya saya kawal kasus ini jangan sampai ini lepas dari pantauan kita," katanya.
Lita menyoroti adanya dugaan pembiaran dalam kasus tersebut.
Ia menyebut, meski disebut sudah ada 13 orang yang dinyatakan bersalah, tetapi terkesan orang di sekitar lokasi daycare diam.
"Katanya sudah 13 orang dinyatakan bersalah. Bagus orang-orang di sana kok pada tutup telinga ya, kok enggak bisa melihat satu sama lain melihat melakukan kekerasan fisik dan verbal tapi kok diam-diam aja, berarti kongkalikong. Berarti satu sama lain sama dong," pungkasnya.
Sebelumnya, Daycare Little Aresha digerebek aparat kepolisian pada Jumat sore (24/4). Kasatreskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizki Adrian menjelaskan, diduga kuat beberapa oknum di dalamnya melakukan tindak pidana kekerasan terhadap anak.
Polisi mulanya mendapat laporan masyarakat terkait dugaan kekerasan dan diskriminatif yang dialami para anak-anak di sana.
Ada pula anak-anak selalu menangis setiap hendak diantar ke lokasi penitipan.
Hasil pendalaman pihak kepolisian, di antaranya total yang dititipkan di daycare tersebut ada 103 anak, namun yang benar-benar mendapat tindakan kekerasan sekitar 53 anak dengan rentang usia di bawah 2 tahun.
Polisi menemukan fakta bahwa terjadi perlakuan tidak manusiawi, mulai dari tindakan diskriminatif hingga kekerasan terhadap anak-anak.
Tindakan-tindakan itu di antaranya ada anak-anak yang diikat kakinya, tangannya diikat, dan beberapa dari anak mengalami luka-luka.
Adrian menuturkan berdasarkan lama kerja para pengasuh yang lebih dari satu tahun, diperkirakan tindakan kekerasan yang dialami anak-anak di sana berlangsung lebih dari satu tahun lamanya.
#viralvideo #medsos #regional #jogja #daycarejogja #jateng