Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Benni Indo
TRIBUNJATIM.COM, MALANG – Sekretaris Organda Kota Malang, Purwono Tjokro Darsono mengungkapkan ada investor asal Kota Malang yang menawarkan pengembangan angkutan kota berbasis elektrik.
Namun Purwono belum berkenan menjelaskan detail nama investor yang ingin mengubah kendaraan angkutan kota berbahan minyak menjadi kendaraan elektrik.
“Kami ada investor yang menawari angkutan kota berbasis elektrik. Seharusnya ini disambut baik oleh Pemkot Malang,” ujarnya, Senin (27/4/2026).
Menurut dia, investor tersebut telah berdialog dengan Organda dan pelaku angkutan umum. Dalam dialog tersebut, Purwono mengungkapkan bahwa investor turut prihatin terhadap kondisi transportasi publik di Kota Malang.
Baca juga: Target RTH 30 Persen Masih Minim, DPRD Kota Malang Desak Inovasi Vertical Garden dan Asuransi Pohon
Investor tersebut banyak membantu pembenahan transportasi publik di luar Kota Malang. Namun karena masih belum adanya kejelasan regulasi tentang kendaraan angkutan kota menjadi feeder untuk Trans Jatim, investor pun masih menahan rencana tersebut.
Purwono menilai lambatnya pembenahan transportasi umum justru merugikan masyarakat luas. Jika sistem angkutan umum tertata baik, penggunaan kendaraan pribadi dapat ditekan dan kemacetan berkurang.
“Yang dirugikan masyarakat Kota Malang. Kalau tata kelola angkutan umum bagus, masyarakat akan mengurangi kendaraan pribadi,” katanya.
Ia berharap Pemprov Jawa Timur dan Pemkot Malang dapat memperkuat sinergi agar angkutan umum di Kota Malang benar-benar menarik minat masyarakat.
“Pemerintah Provinsi dan Pemkot Malang harus kerja sama menciptakan angkutan umum yang betul-betul menarik perhatian masyarakat,” pungkasnya.
Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang membuka peluang modernisasi angkutan kota dengan pemanfaatan kendaraan listrik. Selain itu, Dishub menegaskan skema angkutan pengumpan (feeder) menuju layanan Trans Jatim pada prinsipnya bisa segera dijalankan.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, mengaku belum mendengar langsung tawaran investor angkutan kota berbasis listrik. Namun ia menyambut positif gagasan tersebut.
“Belum mendengar, saya belum mendengar. Tapi pada prinsipnya lebih senang karena memang sudah saatnya teman-teman angkutan kota menyesuaikan teknologi, tidak menggunakan bahan bakar fosil,” ujarnya.
Menurut Widjaja, transformasi armada ke kendaraan ramah lingkungan menjadi langkah penting agar transportasi publik di Kota Malang semakin modern dan efisien.
Di sisi lain, Widjaja juga berbicara tentang program feeder yang menghubungkan angkutan kota dengan layanan bus Trans Jatim. Sekadar informasi, sejauh ini masih belum ada regulasi resmi operasional feeder oleh angkutan kota. Widjaja menilai tidak ada persoalan berarti dan bisa segera direalisasikan meskipun belum ada regulasi.
“Kalau feeder tidak ada masalah. Kami segera mungkin melakukan. Tidak harus menunggu aturan dan sebagainya,” katanya.
Ia menjelaskan, trayek angkutan kota di Malang sudah sangat lama tidak diperbarui, yakni terakhir pada tahun 1989. Karena itu, penyesuaian rute dinilai mendesak dilakukan mengikuti perkembangan kota.
Baca juga: Ada 2 Calon Jemaah Haji Malang dan Pasuruan yang Tunda Keberangkatan Jelang Terbang, Ternyata Sakit
“Trayek ini sudah lama, terakhir 1989. Artinya tidak berubah sama sekali. Kami sudah mengatakan berulang, kami akan menyesuaikan. Itu cepat kok,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi di lapangan sebenarnya sudah memungkinkan angkutan kota berfungsi sebagai feeder karena sebagian trayek beririsan dengan jalur Trans Jatim.
“Angkutan kota sebenarnya sudah bisa menjadi feeder karena ada yang berhimpitan, dan ada yang melewati jalur Trans Jatim. Sebenarnya itu sudah terbentuk, hanya formalnya belum,” jelasnya.
Selain feeder, Dishub juga memastikan program angkutan pelajar sedang dipersiapkan dan ditargetkan mulai beroperasi pada Mei 2026. Saat ini, Dishub Kota Malang sedang menghitung kebutuhan operasional termasuk jarak yang akan ditempuh angkutan pelajar.
“Angkutan pelajar bulan Mei ini operasi. Senin kami rapat kembali,” kata Widjaja.
Angkutan pelajar berbeda dengan feeder. Widjaja menerangkan, angkutan pelajar hanya diperuntukkan pelajar. Sedangkan feeder adalah angkutan umum yang berfungsi menjadi pengumpan untuk perpindahan penumpang ke Trans Jatim.