Dari desa yang sempat terkendala jaringan, Setanggor perlahan bertransformasi menjadi kawasan yang lebih terhubung, sehingga semakin siap berkembang.

Jakarta (ANTARA) - Desa Setanggor di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, dikenal sebagai salah satu desa wisata yang paling berkembang di Pulau Lombok.

Bahkan, nama desa ini pernah masuk 75 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023, sebuah pengakuan atas potensi yang dimilikinya, seperti kekayaan budaya, kuliner khas, serta suasana pedesaan yang masih terjaga. Ragam kegiatan seni dan tradisi turut menjadi magnet bagi wisatawan yang datang berkunjung.

Namun, di balik potensi tersebut, desa itu sempat menghadapi kendala akses internet yang belum merata dan belum stabil.

Keterbatasan jaringan membuat promosi wisata berjalan kurang optimal, pelaku UMKM kesulitan memasarkan produk, dan sekolah belum leluasa memanfaatkan internet sebagai sarana pembelajaran.

Perubahan mulai terasa sekitar delapan bulan lalu, ketika Desa Setanggor menerima dukungan jaringan melalui Program Kampung Internet dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi). Program ini dirancang untuk mendorong pemerataan konektivitas hingga ke pelosok desa.

Sejak saat itu, akses internet kian meluas dan menjangkau lebih banyak titik di desa. Warga pun mulai memanfaatkannya untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mengembangkan usaha, menunjang pendidikan, hingga memperkuat promosi wisata desa.

Kepala Desa Setanggor, Kamarudin, mengatakan wilayahnya sejatinya telah lama dikenal sebagai desa wisata. Namun, promosi yang sebelumnya masih dilakukan secara manual membuat jangkauannya terbatas.

“Kita memang sudah dikenal sebagai desa wisata, tetapi waktu itu agak susah dalam hal promosi. Kegiatan wisata lebih banyak dipasarkan secara manual,” katanya.

Kegiatan belajar mengajar mata pelajaran komputer di SMPN 4 Praya Barat, Desa Setanggor, Lombok Tengah. (ANTARA/Farhan Arda Nugraha)

Ia menjelaskan, sejak akses internet hadir, promosi kegiatan desa menjadi jauh lebih mudah melalui media sosial dan berbagai platform digital.

Dampaknya mulai terlihat dalam berbagai kegiatan yang digelar desa. Bazar kuliner dan agenda wisata kini tidak hanya dikunjungi warga sekitar, tetapi juga mampu menarik masyarakat dari luar daerah.

Selain sektor wisata, manfaat internet juga dirasakan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang bergerak di berbagai jenis usaha, mulai dari kuliner, warung sembako, hingga kebutuhan rumah tangga.

Sebelumnya, banyak pelaku usaha hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung ke warung atau lapak. Promosi digital belum banyak dilakukan karena keterbatasan jaringan dan biaya paket data.

Kini, kondisi itu mulai berubah. Pelaku usaha memanfaatkan internet untuk menawarkan dagangan melalui WhatsApp, Facebook, dan Instagram. Sistem pembayaran non tunai melalui QRIS juga mulai digunakan.

Kamarudin menuturkan, kehadiran internet membantu pelaku UMKM memperluas pasar sekaligus mempermudah transaksi.

“Sekarang beberapa UMKM sudah memakai QRIS sebagai media pembayaran. Itu dulu cukup sulit dilakukan karena jaringan terbatas,” ujarnya.

Saat diresmikan tahun lalu, Program Kampung Internet menghadirkan 58 titik akses di Desa Setanggor. Seiring berjalannya waktu, pemerintah desa menambah enam titik secara mandiri, sehingga total kini mencapai 66 titik.

Manfaat tersebut dirasakan langsung oleh warga, salah satunya Isnawati Kamariah, pedagang buah dan sembako di desa itu.

Ia mengaku sebelumnya harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk membeli paket data seluler agar bisa berjualan secara daring. Dalam sebulan, pengeluaran internetnya bisa mencapai lebih dari Rp200 ribu untuk kebutuhan promosi.

“Sebelumnya pakai data biasa. Kalau lagi ramai bisa sampai dua ratus ribu lebih. Sekarang jauh lebih hemat,” katanya.

Sejak mendapatkan akses internet, Isnawati semakin aktif mempromosikan dagangannya melalui media sosial seperti Facebook, WhatsApp, dan Instagram.

Pembeli pun kini dapat memesan dari rumah, lalu barang diantar langsung ke lokasi tujuan. Menurutnya, jumlah pelanggan terus bertambah seiring semakin banyak orang mengenal usahanya. Pesanan bahkan pernah datang dari luar wilayah, termasuk hingga ke Kota Mataram.

Tak hanya berjualan, Isnawati juga mulai aktif sebagai kreator konten dengan melakukan siaran langsung melalui Facebook.

Koneksi yang lebih stabil membuat aktivitas promosi berjalan lebih lancar. “Kalau dulu pakai data, kadang saat siaran langsung ada telepon masuk langsung terputus. Kalau sekarang lancar,” katanya.

Manfaat Program Kampung Internet juga terasa di sektor pendidikan. SMPN 4 Praya Barat yang berada di kawasan Desa Setanggor kini memiliki akses internet yang lebih stabil untuk mendukung kegiatan belajar.

Nuraid, guru matematika sekaligus penanggung jawab sarana dan prasarana sekolah, mengungkapkan bahwa sebelumnya sekolah hanya memiliki satu jaringan internet dengan kapasitas terbatas. Saat digunakan secara bersamaan, koneksi kerap tidak stabil dan mengganggu proses belajar mengajar.

Dengan dukungan jaringan dari Program Kampung Internet, kondisi tersebut kini berangsur membaik.

“Waktu pelaksanaan TKA (Tes Kemampuan Akademik) kemarin cukup lancar karena sangat dibantu internet ini,” katanya.

Jaringan internet kini dimanfaatkan para guru untuk mengakses modul pembelajaran, bahan ajar, hingga kebutuhan administrasi sekolah. Di sisi lain, siswa turut merasakan manfaat dari hadirnya digitalisasi dalam proses belajar mengajar.

Program Kampung Internet di Desa Setanggor pun tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur digital semata. Untuk menjaga keberlanjutan layanan, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) bersama mitra pelaksana menggelar pelatihan teknisi jaringan bagi warga dan pelajar setempat.

PT Jaringan Multimedia Indonesia (JMI) menjadi mitra dalam pelatihan tersebut. Perwakilan perusahaan, Johan, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menyiapkan tenaga lokal yang mampu melakukan perawatan jaringan secara mandiri.

“Tidak mungkin semua teknisi didatangkan dari jauh. Kami ingin memberdayakan masyarakat lokal supaya bisa merawat jaringan sendiri,” ujarnya.

Dalam pelatihan itu, peserta dibekali berbagai materi, mulai dari pengenalan perangkat, teknik penyambungan kabel fiber optik, penanganan gangguan jaringan, hingga praktik lapangan. Kegiatan ini diikuti puluhan peserta, sebagian besar pelajar SMK Islam Nurul Qolbi di wilayah Desa Setanggor.

Sejumlah peserta yang menunjukkan potensi juga berpeluang direkrut oleh perusahaan penyedia layanan internet setelah menyelesaikan pelatihan.

Bagi warga Desa Setanggor, kehadiran internet kini memberi dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Selain membantu promosi wisata dan pengembangan usaha, akses digital juga memperkuat sektor pendidikan sekaligus membuka peluang kerja baru.

Dari desa yang sempat terkendala jaringan, Setanggor perlahan bertransformasi menjadi kawasan yang lebih terhubung, sehingga semakin siap berkembang.