Laporan Wartawan Tribunnews.com langsung dari Makkah, Sri Juliati
TRIBUNNEWS.COM - Layanan bus shalawat bagi jemaah haji asal Indonesia selama tinggal di Makkah dipastikan dapat diakses secara gratis tanpa dipungut biaya apa pun.
Sehingga jemaah haji tidak perlu membayar, termasuk memberikan tip kepada sopir.
Kepala Bidang Transportasi PPIH Arab Saudi 2026, Syaiful Rahman menegaskan, seluruh sopir bus shalawat telah digaji oleh perusahaan penyedia layanan sesuai kontrak.
Oleh karena itu, tidak ada kewajiban bagi jemaah untuk memberikan tambahan uang, baik dalam bentuk tip atau pembayaran lainnya.
"Seluruh layanan bus shalawat gratis. Jadi jemaah tidak perlu membayar atau memberikan tip kepada sopir," kata Syaiful kepada tim Media Center Haji (MCH), Minggu (26/4/2026).
Imbauan ini juga ditujukan kepada keluarga jemaah di Tanah Air agar turut mengingatkan hal tersebut.
"Seluruh layanannya itu bersifat gratis. Tidak ada istilah membayar," tegasnya.
Selama ini, lanjut Syaiful, jemaah haji Indonesia dikenal memiliki kebiasaan baik dengan berbagi rezeki, termasuk kepada sopir bus.
Namun, dalam konteks layanan transportasi haji, kebiasaan tersebut justru dikhawatirkan menimbulkan ketergantungan atau perlakuan tidak adil dari oknum tertentu.
"Jemaah haji hampir setiap kali shalat ke masjid, menyisihkan sebagian uangnya lalu diberikan ke sopir bis. Menurut kami, tidak perlu karena sopir sudah dibayar oleh perusahaan," ujarnya.
"Kami menghindari hal-hal yang sopirnya kalau enggak dikasih tip, kemudian males," tambah Syaiful yang juga menjabat sebagai Kepala Subdirektorat Transportasi Haji Direktorat Pelayanan Haji Luar Negeri Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
Hal ini, kata Syaiful, juga berlaku untuk layanan bus jarak jauh (AKAP) yang mengantarkan jemaah haji dari Madinah ke Makkah atau sebaliknya.
Baca juga: Peta Halte Bus Shalawat di Makkah, Berjarak Kurang dari 100 Meter
Syaiful juga menjelaskan, layanan bus shalawat akan beroperasi selama 24 jam setiap hari untuk mengantar jemaah dari hotel menuju Masjidil Haram dan sebaliknya.
Khusus pada hari Jumat, jadwal operasional dapat mengalami penyesuaian. Hal ini mengikuti kebijakan otoritas Masjidil Haram terkait penutupan akses menuju terminal di sekitar masjid.
Penutupan tersebut bisa berbeda setiap pekannya. Misalnya dimulai pukul 10.00 pagi, 09.00 pagi, atau bahkan lebih awal.
"Kita harus nunggu dulu pengumuman dari otoritas Masjidil Haram. Kemudian kita umumkan ke seluruh jemaah yang ada di hotel-hotel," pungkas Syaiful. (*)