Simulasi Tsunami di Lumajang, 300 Warga Dilatih Evakuasi Cepat Ancaman Megathrust
Haorrahman April 28, 2026 06:53 AM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Lumajang - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur menggelar simulasi evakuasi tsunami di Pantai Bulu, Desa Tegalrejo, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang, 25–26 April 2026. Kegiatan ini menyasar wilayah pesisir terpencil yang dinilai memiliki risiko tinggi terhadap ancaman gempa megathrust yang berpotensi memicu tsunami.

Simulasi ini melibatkan sekitar 300 warga dari berbagai kelompok usia, termasuk perempuan dan kelompok rentan. Program tersebut juga mendapat dukungan dari Pemerintah Australia melalui Program SIAP SIAGA, kemitraan bilateral dalam pengelolaan risiko bencana.

Sekretaris BPBD Jawa Timur, Andhika Nurrahmad Sudigda, menjelaskan bahwa simulasi dimulai dengan skenario gempa berkekuatan magnitudo 9,1 yang terjadi pada pukul 09.00 WIB.

“Goncangan gempa dirasakan pula di Desa Tegalrejo. 26 menit kemudian, perangkat desa menerima informasi dari BMKG Stasiun Geofisika Malang bahwa gempa menimbulkan potensi tsunami di Desa Tegalrejo,” ujarnya, Senin (27/4/2026).

Baca juga: Berniat Dahului Bus, 2 Orang Berboncengan Motor Tabrak Truk Parkir di Lumajang, 1 Tewas

Setelah menerima peringatan, perangkat desa segera mengumumkan ancaman tsunami melalui pengeras suara di musala. Warga kemudian diarahkan untuk melakukan evakuasi mandiri menuju zona aman atau blue zone di kaki Gunung Kursi.

“Seketika warga keluar rumah dan berlari ke arah zona aman tsunami atau blue zone yaitu di kaki Gunung Kursi,” tambah Andhika.

Baca juga: 6 Kecamatan di Pantai Selatan Jember Berpotensi Terdampak Bencana Megathrust

Risiko Tinggi

Desa Tegalrejo memiliki sekitar 3.690 jiwa dan berada di kawasan pesisir selatan yang dikelilingi pegunungan. Kondisi geografis ini menjadikannya salah satu wilayah paling terpencil di Kabupaten Lumajang sekaligus rentan terhadap bencana.

“Melalui simulasi ini, kami berharap risiko bencana bisa ditekan, sehingga dampak ekonomi dan sosial tidak signifikan,” jelas Andhika.

Ia juga menekankan pentingnya membangun budaya sadar bencana di masyarakat agar kemampuan evakuasi mandiri dapat diterapkan dan ditularkan ke lingkungan sekitar.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang, Ricko Kardoso, menyebut Desa Tegalrejo berada tepat menghadap sumber gempa megathrust.

“Berdasarkan pemodelan tsunami, desa ini berpotensi mengalami gempa hingga 6 MMI yang dapat merusak bangunan, serta rendaman tsunami setinggi 15 meter sejauh kurang lebih 3 kilometer dari garis pantai,” jelasnya.

Baca juga: Heboh Megathrust, Raperda RTRW Jember Justru Tidak Memuat Mitigasi Bencana 

Menurut Ricko, kondisi tersebut menuntut respons cepat dari masyarakat karena waktu kritis untuk menyelamatkan diri hanya sekitar 20 menit.

“Mereka harus mampu melakukan evakuasi mandiri, sebab waktu kritis (golden time) untuk menyelamatkan diri ke tempat aman berkisar 20 menit,” tegasnya.

Kepala Desa Tegalrejo, Nyono, menilai simulasi ini sangat bermanfaat bagi warga, sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional yang jatuh pada 26 April.

“Simulasi tsunami ini bermanfaat besar bagi warga, supaya kami siap menghadapi situasi darurat dan dapat melakukan evakuasi mandiri,” ujarnya.

Baca juga: Kurir Paket Dibegal di Lumajang, Motor Dirampas saat Antar Barang

Dukungan juga datang dari perwakilan Konsulat Jenderal Australia di Surabaya, Christine, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak, termasuk pembentukan buddy system di tingkat komunitas.

“Inisiatif menunjuk pemimpin di setiap lingkungan sebagai penanggung jawab sangat penting untuk memperkuat mitigasi,” katanya.

Program Partnership Implementation Manager SIAP SIAGA Jawa Timur, Mambaus Suud, mendorong pemerintah desa menyusun strategi evakuasi hingga tingkat dusun.

“Setiap dusun perlu menunjuk satu orang untuk mengidentifikasi sumber daya yang bisa dioptimalkan saat evakuasi,” ujarnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.