TRIBUNTRENDS.COM - Kasus dugaan kekerasan terhadap anak di sebuah daycare di Umbulharjo, Yogyakarta, menarik perhatian kriminolog UI, Haniva Hasna, yang mencoba melihatnya dari berbagai sisi.
Penggerebekan yang dilakukan polisi pada Sabtu (25/4/2026) mengungkap fakta mencengangkan, dengan puluhan anak diduga menjadi korban.
Tak hanya itu, belasan orang yang sebagian besar merupakan pengasuh telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini.
Haniva kemudian menyoroti kemungkinan adanya kaitan antara tindakan para pengasuh dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku di tempat tersebut.
Ia menilai, para pekerja cenderung mengikuti aturan kerja, meskipun dalam praktiknya setiap individu memiliki batas moral yang berbeda.
Baca juga: Little Aresha Over Kapasitas Imbas Keserakahan Pengelola, Berujung Diikat, 1 Pengasuh Jaga 10 Anak
Dalam pandangannya, tidak semua pengasuh memiliki niat buruk sejak awal, tetapi kondisi kerja bisa mendorong mereka bertindak di luar nurani.
“Ada yang memang memiliki criminal mind (pikiran jahat). Ada yang memang menjadi orang baik, tetapi karena dia terikat dalam pekerjaan, misalnya SOP-nya memang seperti ini, kalau tidak, dia tidak bisa bekerja di sini,” kata dia.
Ia juga menambahkan bahwa faktor kebutuhan pekerjaan dapat membuat seseorang sulit keluar dari situasi yang sebenarnya bertentangan dengan hati nurani.
“Berarti ada hal-hal tertentu yang terkait dengan individu, misalnya kebutuhan pekerjaan sehingga dia tidak bisa melepaskan diri dari tempat ini.”
Selain itu, ia menduga tidak adanya keberanian untuk melapor dari dalam turut memperparah situasi, “Orang-orang yang berada di dalam kebingungan ketika mereka tahu sebetulnya ada sesuatu yang terjadi di dalamnya yang tidak sesuai dengan nurani,” kata dia.
Haniva berkata para pelaku diuntungkan karena anak-anak yang dititipkan belum bisa berbahasa dengan baik sehingga kesusahan menyampaikan apa yang telah terjadi.
Menurut dia, para pelaku sangat memanfaatkan celah ini.
“Tetapi bagaimanapun juga, sebetulnya yang bisa ditangkap itu bukan hanya kata-kata dari anak-anak, tetapi bahasa tubuhnya,” kata dia.
“Yang perlu diketahui orang tua adalah ketika pulang dari daycare itu atau sebelum berangkat, bahasa tubuh anak menunjukkan apa? Karena bagaimanapun juga, bahasa tubuh itu lebih dari seribu kata,” ucap kriminolog itu.
Dia mengimbau para orang tua untuk memperhatikan apakah anak berangkat ke daycare dalam kondisi riang gembira atau ketakutan atau mengalami sakit fisik, misalnya sakit perut.
Kondisi anak setelah pulang juga perlu diperhatikan, misalnya apakah dia justru tantrum atau menjadi pendiam.
“Bagaimana pola tidurnya? Apakah sering terbangun saat malam, sering menangis, berkeringat dingin? Bagaimana cara dia bersosialiasasi? Apakah permainannya selalu menunjukkan kekerasan, misalnya dengan mengikat benda-benda tertentu atau melakukan kekerasan terhadap binatang, boneka, atau anak lain?” kata Haniva.
Dia mengatakan jika anak menunjukkan tanda-tanda seperti itu, berarti anak berada di daycare yang tidak tepat.
Baca juga: Ketua Yayasan & Kepsek Perintahkan Ikat Anak di Little Aresha, Dibuka saat Makan untuk Laporan Ortu
Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol. Eva Guna Pandia mengungkapkan motif para pengasuh di Little Aresha mengikat kaki dan tangan anak-anak.
“Jadi, setelah didalami motifnya, pertama agar anak-anak tidak mengganggu temannya. Yang kedua, tidak membuat keributan sehingga kaki ataupun tangannya diikatkan ke pintu sehingga mereka tidak bebas pergi ke mana-mana,” kata Eva dalam program Metro Siang di Metro TV, Minggu, (26/4/2026).
Eva berkata sejumlah anak ditempatkan di ruang isolasi yang sirkulasi udaranya sangat minim sehingga memunculkan risiko kesehatan bagi anak.
“Para pengasuh ini intinya tidak mau repot mengurusi anak-anak tersebut,” ujar Eva.
Menurut Eva, Little Aresha sudah beroperasi sejak tahun 2021, tetapi belum memiliki izin.
Di samping itu, Eva menyebut daycare itu kurang berpengalaman dan kurang pengawasan.
Lalu, pengasuhnya juga kurang profesional dalam menangani anak-anak.
Eva menyebut jumlah anak yang ditangani Little Aresha terlalu banyak sehingga overload. Perlakuan pengasuh kepada anak-anak juga kurang manusiawi.
(TribunTrends/Tribunnews/Febri)