Ibu Kapten Kapal yang Disandera Perompak Somalia: Pak Prabowo, Bantu Anak Saya
Edi Sumardi April 28, 2026 10:22 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - Selasa malam, 21 April 2026, tepat sepekan lalu, seharusnya menjadi malam biasa bagi Santi Sanaya (26). 

Namun, sebuah pesan suara (voice note) yang masuk ke ponselnya mengubah segalanya.

Di ujung sana, suara suaminya, Capt Ashari Samadikun (33), terdengar terburu-buru di tengah kebisingan.

"Suami saya bilang kapalnya diserang bajak laut," tutur Santi dengan nada suara bergetar.

Di balik rekaman itu, Santi mendengar bunyi beruntun yang menghantam kaca ruang kemudi (bridge) kapal tanker MT Honour 25, mirip adegan dalam film Captain Philips (2013).

Bunyi itu pendek dan tajam, menyerupai letupan popcorn.

Belakangan ia sadar, itu bukan suara jagung meletup, melainkan rentetan peluru yang diletuskan perompak Somalia untuk memaksa nakhoda asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan itu menyerah.

Setelah hari-hari penuh kesunyian dan ponsel yang tidak aktif, sebuah panggilan video pada Jumat (24/4/2026) malam membawa sedikit napas lega, sekaligus ketakutan baru. 

Melalui layar ponsel, Santi bisa melihat wajah suaminya.

Baca juga: Kapten Ashari dari Gowa ke Perompak Somalia: Saya Muslim, Jangan Tembak

Ashari, alumnus Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar tersebut, mengabarkan bahwa dirinya masih bertahan hidup.

Namun, kabar itu dibumbui ancaman maut.

Di atas kapal yang berlayar dari Oman tersebut, nyawa 17 kru—termasuk empat warga negara Indonesia—berada di ujung tanduk.

Para perompak tak segan memberikan tenggat waktu yang mengerikan.

"Kemarin dulu dia sempat bilang, 'Kalau tidak ditebus malam ini, kami akan dieksekusi'," kata Santi menirukan ucapan suaminya.

Kalimat itu bagaikan petir bagi Santi dan ibu mertuanya yang setia menunggu di kediaman mereka.

Ashari bukan satu-satunya orang Sulawesi Selatan di kapal itu.

Bersamanya, ada seorang Mualim III asal Barru yang juga menjadi sandera.

Sisanya adalah pelaut dari Pakistan, Myanmar, Sri Lanka, dan India.

Mereka terkurung di atas kapal tanker yang kini dikuasai kelompok bersenjata.

Hingga saat ini, belum ada angka pasti mengenai tebusan yang diminta.

Baca juga: Diberondong Peluru, Detik-detik Kapten Kapal Asal Gowa Diserang Perompak Somalia

Pihak perusahaan di Uni Emirat Arab dikabarkan masih melakukan negosiasi alot dengan para pembajak.

Walau perusahaan pemilik kapal dari UEA, namun kapal itu berbendera Palau.

Palau adalah negara di Samudera Pasifik, 200-an Km di utara Papua Barat Daya, Indonesia.

Di sisi lain, ruang tamu keluarga Ashari di Makassar terasa semakin luas dan sepi.

Seharusnya, bulan depan Ashari sudah menanggalkan seragamnya, menyelesaikan kontrak yang dimulai sejak Januari, dan pulang ke rumah.

Bagi Santi, waktu kini terasa berjalan sangat lambat.

Setiap detik adalah pertaruhan antara hidup dan mati.

Di tengah ketidakpastian negosiasi perusahaan, ia hanya bisa berharap pada satu tangan: Pemerintah Indonesia.

"Suami saya minta tolong melalui saya. Dia suruh pemerintah bantu. Saya hanya ingin dia pulang dengan selamat, tidak kurang satu apa pun," tuturnya penuh harap.

Kini, keluarga Kapten Ashari hanya bisa menatap layar ponsel, menunggu dering yang membawa kabar baik. 

Minta Tolong ke Prabowo

Ibunda Ashari, Siti Aminah (57), juga tak kuasa menahan kecemasan.

“Saya minta tolong ke Pak Prabowo, bantu anak saya,” ucapnya lirih.

Perompakan di Somalia mulai muncul sejak tahun 1990-an, menyusul pecahnya Perang Saudara Somalia yang menyebabkan runtuhnya pemerintahan pusat.

Selain itu, faktor kemiskinan utamanya di kalangan nelayan juga jadi pemicu karena sulitnya menangkap ikan.

Masalah ini mendorong masyarakat Somalia mencoba berbagai cara untuk menghasilkan uang.

Para mantan nelayan bekerja sama dengan milisi dan pemuda pengangguran, untuk membajak kapal dan meminta uang tebusan.

Dari sinilah, pembajakan Somalia dimulai.

ABK (anak buah kapal) dari Indonesia pun sering jadi korban.

SBY Bebaskan ABK Indonesia

Tujuh belas tahun lalu, kapal MV Sinar Kudus yang membawa nikel milik PT Aneka Tambang Tbk senilai Rp 1 triliun lebih pernah dibajak perompak Somalia di perairan Teluk Aden, Somalia.

Peristiwa pembajakan terjadi pada Rabu (16/3/2011) ketika MV Sinar Kudus yang membawa 20 ABK dalam perjalanan menuju Belanda.

MV Sinar Kudus beserta ABK baru bisa dibebaskan dari tangan perompak pada Minggu (1/5/2011) setelah pasukan TNI yang tergabung ke dalam Satuan Tugas (Satgas) Merah Putih dikerahkan ke lokasi.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang pada saat itu menjabat sebagai Presiden disorot publik, karena pemerintah butuh waktu 1,5 bulan untuk membebaskan para sandera.

Pembajakan MV Sinar Kudus bermula ketika melintasi perairan Somalia, tepatnya di 320 mil timur laut Socotra di lembah Sungai Somalia.

SBY mendapat kabar bahwa kapal tersebut dibajak pada Kamis (17/3/2011), atau sehari setelah pembajakan.

Kemudian, ia memberikan mandat pada Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto untuk melakukan penyelamatan kapal dan ABK MV Sinar Kudus.

Rapat yang dipimpin SBY langsung kala itu membahas sejumlah alternatif untuk membebaskan kapal dan ABK MV Sinar Kudus yang disandera para perompak.

Hasil rapat menyepakati, pembebasan kapal dan ABK MV Sinar Kudus dilakukan dengan operasi militer khusus.

Pemerintah juga memutuskan mengirim Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Abdul Halim Perdanakusumah dan Yos Sudarso, dua kapal fregat, pasukan khusus, dan satu helikopter.

SBY juga menyetujui pasukan yang dikerahkan untuk membebaskan kapal dan ABK MV Sinar Kudus berasal dari unsur Marinir, Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Komando Pasukan Katak (Kopaska), dan Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) milik TNI.

Setelah mengantongi persetujuan, TNI membentuk Satgas Merah Putih di bawah pimpinan Kolonel Laut (P) M Taufiqurochman.

Pada saat itu, Letjen (Purn) Doni Monardo yang menjabat sebagai Wakil Komandan Jenderal (Wadanjen) Kopassus ditunjuk menjadi Wakil Komando Satgas pembebasan MV Sinar Kudus.

Tugas tersebut diberikan secara langsung oleh SBY. Pasukan kemudian melakukan persiapan pada Minggu (20/3/2011), dengan pengarahan pemaparan operasi oleh Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono pada Senin (21/3/2011).

Pada saat itu, SBY memutuskan untuk memberangkatkan pasukan dari Jakarta menuju Kolombo, Sri Lanka.

Dua hari berikutnya, dua KRI dan helikopter bertolak dari Jakarta untuk mendukung operasi penyelamatan.

Pasukan baru tiba di Kolombo pada Selasa (29/3/2011) sambil bersiap, termasuk melakukan pengisian ulang perbekalan atau logistik.

Pasukan kembali ke perairan Somalia pada Rabu (30/3/2011).

Pada saat yang bersamaan, pemerintah mendapat informasi bahwa MV Sinar Kudus menurunkan jangkar.

Satgas Merah Putih tiba di perairan Somalia pada Senin (4/4/2011).

Pasukan segera melakukan pengumpulan data untuk menyusun rencana cadangan.

Ada beberapa catatan yang menjadi bahan pertimbangan pada saat itu, yakni: Hasil deteksi helikopter menunjukkan MV Sinar Kudus telah melakukan lego jangkar atau berlabuh dengan menggunakan jangkar di laut.

Belum ada negara lain yang melakukan operasi penyelamatan ketika kapal sudah melakukan lego jangkar.

ABK MV Sinar Kudus sering dipindah sehingga jumlahnya tidak pernah lengkap.

Setiap kapal yang disandera dijaga pasukan khusus.

Pada saat itu, terdapat 15-20 kelompok perompak.

Tiap-tiap kelompok perompak terorganisasi dan beranggotakan sekitar 30 orang.

Dua hari kemudian, pasukan bergerak ke Salalah, Oman yang menjadi pangkalan AJU atau pangkalan sementara yang dibangun di dekat zona operasi militer, untuk melakukan pengisian perbekalan.

Mereka kemudian kembali ke perairan Somalia pada Selasa (12/4/2011) lalu melakukan negosiasi dengan para perompak.

Jalannya negosiasi cukup alot karena para perompak sempat meminta kenaikan uang tebusan yang nominalnya diperkirakan lebih dari Rp 40 miliar.

Setelah negosiasi tebusan selesai, pasukan melakukan dropping uang tebusan di atas MV Sinar Kudus pada Sabtu (30/4/2011).

Butuh 20 jam bagi para perompak menghitung uang tebusan tersebut.

Pasukan kemudian mengejar para perompak pada Minggu (1/5/2011) setelah mereka meninggalkan MV Sinar Kudus.

Pasukan dan perompak sempat terlibat baku tembak, beruntung pada saat itu ABK MV Sinar Kudus selamat.

Baku tembak tersebut membuat empat perompak tertembak dan jatuh ke laut.

Dengan pengawalan KRI Yos Sudarso dan KRI Abdul Halim Perdanankusuma, kapal MV Sinar Kudus kemudian bergerak meninggalkan perairan Somalia dan tiba di Oman pada Rabu (4/11/2011).

ABK MV Sinar Kudus yang telah diselamatkan tiba di Indonesia pada Sabtu (7/5/2011) dalam kondisi sehat.(tribun-timur.com/kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.