“Ini Ada Apa?” Jadi Ucapan Terakhir Nuryati, Korban Tewas Kecelakaan Kereta Bekasi
Dian Anditya Mutiara April 28, 2026 12:34 PM

 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - “Ini ada apa?” menjadi ucapan terakhir Nuryati (63), salah satu korban meninggal dunia dalam kecelakaan kereta antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam.

Ucapan tersebut disampaikan sesaat setelah Nuryati berhasil dievakuasi dari dalam gerbong, sebelum akhirnya pingsan dan meninggal dunia.

“Kebetulan mertua saya ini yang terakhir dievakuasi. Sempat setelah keluar dari kereta beliau mengucapkan, ‘Ini ada apa?’, lalu pingsan dan akhirnya meninggal dunia,” ujar menantu korban, Andi Ayubi (39), saat ditemui di rumah duka di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2026)

Korban diketahui tengah melakukan perjalanan dari Stasiun Bekasi menuju Cikarang untuk mengunjungi anaknya. 

Ia berangkat bersama anak dan cucunya yang masih berusia lima tahun.

"Jadi untuk kronologinya, Senin malam, ya, kebetulan saya sebagai menantu, dan mertua itu ada rencana ingin menengok anaknya, adek istri saya yang di Cikarang," tuturnya.

Baca juga: Korban Tewas Kecelakaan Kereta Bekasi Bertambah Jadi 14 Orang, 84 Luka Dirawat

"Cucunya itu usia 5 tahun, kalau adik istri itu mamahnya yang cucunya ini itu usia 30 tahun. Kalau mertua usianya 63 tahun," lanjut dia.

MENANTU KORBAN - Andi Ayubi (39), menantu korban kecelakaan KRL yang ditabrak Argo Bromo Anggrek saat diwawancarai di rumah duka, di Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2026) (Ramadhan L Q)
MENANTU KORBAN - Andi Ayubi (39), menantu korban kecelakaan KRL yang ditabrak Argo Bromo Anggrek saat diwawancarai di rumah duka, di Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2026) (Ramadhan L Q) (Warta Kota/Ramadhan L Q)

Menurut Andi, guncangan keras disertai padamnya listrik di dalam kereta membuat suasana menjadi gelap dan penuh kepanikan.

“Lampu dan kipas mati, penumpang panik dan berusaha menyelamatkan diri,” ujar Andi.

Dalam situasi tersebut, anak dan cucu korban berhasil dievakuasi lebih dulu.

Sementara korban yang berusia 63 tahun menjadi salah satu penumpang terakhir yang dievakuasi.

Meski selamat dari dalam gerbong, nyawa korban tidak tertolong. 

Keluarga Korban Trauma

Sementara itu, anggota keluarga yang selamat mengalami trauma akibat peristiwa tersebut.

Keluarga termasuk dirinya baru mengetahui kondisi korban sekitar satu jam setelah kejadian.

“Awalnya kami ditelepon, dibilang mama pingsan. Kami bingung. Sekitar satu jam kemudian baru ada kabar kalau beliau sudah meninggal,” ujarnya.

Perjalanan malam itu dipilih karena korban berencana menginap di rumah anaknya di Cikarang. 

Baca juga: Pesan Terakhir Bu Guru Ela Sebelum Tewas di Kecelakaan Kereta Bekasi Timur

Selain itu, ia mengira kondisi kereta pada malam hari akan lebih lengang.

"Untuk memilih perjalanan malam, mungkin tadinya mau menginap. Jadi di Cikarang, di rumah anak, eh adik istri saya gitu," kata dia.

"Rencananya malam mungkin keretanya bisa lebih lengang, seperti itu. Terus yang kedua kan ada rencana panjang buat menginap, seperti itu," sambungnya.

Jenazah korban rencananya dimakamkan di TPU Karet Tengsin usai salat Zuhur.

Informasi terbaru, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno akan datang ke rumah duka sebelum Zuhur. 

Sementara jenazah saat ini sedang dimandikan.

Hingga kini, pihak berwenang masih menyelidiki penyebab pasti kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo tersebut. (M31)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.