Ritus Longkangan ke-177 di Munjungan, Larung Kepala Kerbau Warisan Budaya Tak Benda 
Wiwit Purwanto April 28, 2026 02:32 PM

 

Ritus Adat Longkangan ke-177 Bentuk Rasa Syukur Masyarakat Munjungan Trenggalek Tetap Lestari

 

SURYA.CO.ID  TRENGGALEK -  Ritual Pahargyan Adat Longkangan ke-117 berjalan khidmat di Kecamatan Munjungan Kabupaten Trenggalek.

Ritual ini rutin dihelat pada Bulan Selo penganggalan Jawa sebagai bentuk rasa syukur dan menyiratkan pesan untuk tetap menjaga alam.

Ada dua gunungan yang diarak dari Kantor Kecamatan Munjungan menuju Pantai Blado. Yaitu Gunungan tumpeng besar berupa nasi kuning dan kepala kerbau yang sudah disembelih sebelumnya.

Ketua Panitia Pahargyan Adat Longkangan, Agus Setiawan menerangkan Adat Longkangan tahun ini memasuki yang ke-177 tahun.

Bentuk Syukur Masyarakat Munjungan, Trenggalek

Sebagai kearifan lokal, masyarakat Munjungan sebagai bentuk rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Baca juga: Tradisi Sakral Cethik Geni, PG Ngadiredjo Siap Giling 2026 

"Bagaimana masyarakat Munjungan baik nelayan, petani, dan juga seluruh elemen masyarakat mewujudkannya tasyakuran dengan menyembelih kerbau. Kepala kerbaunya dilarung ke laut," ujar Agus Setiawan, Selasa (28/4/2026).

Agus menambahkan untuk filosofi Longkangan sendiri sebagaimana seperti adat orang Jawa adalah bagaimana masyarakat itu harus menjaga alam.

"Makanya ada dari Patirtan seperti sumber ireng. Dimana kita merawat sumber-sumber mata air, kelestarian alam khususnya di lautan," imbuhnya.

Untuk yang di larung sendiri selain kepala kerbau, menurut Agus ada sesajen seperti biasa dan juga tumpeng nasi kuning dikelilingi sayur mayur. Lalu, untuk malamnya berlanjut rangkaian puncak onang-onang bedil muni.

"Jadi di situ ada perjamuan. Karena kita itu, filosofi longkangan harus saling menjaga. Saling menghormati dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan," katanya.

Baca juga: Tradisi Ngideri Cermee Bondowoso Bertahan 5 Abad, 11 Pria Keliling Desa Tanpa Alas Kaki 

Pria yang juga sebagai Kepala Desa Munjungan ini mengaku Pahargyan Adat Longkangan mengaku diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat. 

Tradisi Menjaga Alam

Melalui tradisi ini, ia berharap bagaimana kearifan lokal ini bisa terus dilestarikan. Lalu, menumbuhkan kesadaran kepada generasi muda bahwa alam memang harus dijaga.

"Kita hidup berdampingan dengan alam harus kita jaga dan kita lestaritarikan," tambahnya.

Sementara, Asisten Administrasi Umum Sekda Pemkab Trenggalek, Edif Hayunan mengapresiasi atas terselenggaranya Pahargyan Adat Longkangan ke-177. 

Edif berpesan untuk selalu menjaga alam. Salahs satunya dengan menanam pepohonan hingga buah-buahan. Karena dengan menjaga alam hari ini dari kerusakan, bisa mewariskan anak cucu kelak.

"Karena hidup tidak hanya hari ini tapi harus mewarikan anak cucu kita. Kalau kita rakus apa yang akan kita wariskan ke anak cucu kita," kata Edif.

Ia mewakili pemerintah Trenggalek mengucapkan terima kasih. Ritus ini juga sebagai kepedulian sosial dan tidak sekadar rutinitas, tetapi ini adalah budaya yang harus dilestarikan.

"Mari agar budaya yang sudah baik kita lestarikan ke anak cucu kita. Insyaallah dampaknya besar Ekonomi, kesejahteraan masyarakat," pungkasnya.

Pengamatan penulis di lapangan, masyarakat cukup antusias berduyun-duyun menyaksikan mulai awal hingga pelarungan. Pahargyan Adat Longkangan ini sudah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Kebudayaan. 

Penetapan sekaligus penyerahan WBTB sudah dilakukan di Taman Krida Budaya Malang, Minggu (22/2/2026) silam. Dan nanti malam, piagam akan diserahkan langsung oleh Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin ke Camat Munjungan. (Madchan Jazuli)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.