Jemaah Haji Embarkasi Solo Ini Tampil Nyentrik Pakai Caping, Ada Tulisan Lafaz Allah dan Muhammad
Vincentius Jyestha Candraditya April 28, 2026 04:16 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo 

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Di tengah ratusan jemaah calon haji kloter 23 di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, sosok Mustofa (66) langsung mencuri perhatian.

Kakek asal Kedung Ringin, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang itu tampil berbeda dengan mengenakan caping, penutup kepala tradisional dari bambu, saat bersiap berangkat ke Tanah Suci.

TAMPIL NYENTRIK - Mustofa (66), kakek asal Kedung Ringin, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang yang merupakan jemaah calon haji (JCH) kloter 23 dari Embarkasi Solo. Mustofa tampil nyentrik dengan mengenakan caping, penutup kepala tradisional dari anyaman bambu, saat bersiap berangkat ke Tanah Suci dari Asrama Haji Donohudan, Ngemplak, Boyolali.
TAMPIL NYENTRIK - Mustofa (66), kakek asal Kedung Ringin, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang yang merupakan jemaah calon haji (JCH) kloter 23 dari Embarkasi Solo. Mustofa tampil nyentrik dengan mengenakan caping, penutup kepala tradisional dari anyaman bambu, saat bersiap berangkat ke Tanah Suci dari Asrama Haji Donohudan, Ngemplak, Boyolali. (TribunSolo.com/Tri Widodo)

Sebagai Pengingat

Caping yang dikenakan Mustofa bukan sekadar pelindung dari panas.

Di bagian permukaannya tertulis lafaz Allah dan Muhammad serta sejumlah doa yang ia yakini sebagai pengingat diri.

“Untuk pengeleng-eling manah kulo (sebagai pengingat hati saya),” ujarnya dengan senyum, Selasa (28/4/2026).

Baca juga: Kisah Mustofa, Petani yang Jalan 12 Km ke Asrama Haji Donohudan Boyolali Demi Berangkat Haji

Penampilannya yang nyentrik kontras dengan jemaah lain yang umumnya memakai peci atau penutup kepala standar.

Sehari-hari Bekerja di Sawah

Namun, di balik itu, tersimpan kisah sederhana seorang petani yang terbiasa hidup bersahaja.

Sehari-hari, Mustofa bekerja menggarap sawah seluas empat patok dan merawat enam ekor sapi. Aktivitas fisik tersebut membuatnya tetap bugar di usia 66 tahun.

“Saya tani, ngarit karena juga pelihara sapi,” katanya.

Jalan Kaki 12 Kilometer

Kebiasaan itu pula yang membuatnya mampu berjalan kaki sejauh 12 kilometer dari rumah menuju Gedung IPHI Kecamatan Suruh sebelum berangkat ke asrama haji.

Ia berangkat pukul 22.00 WIB dan tiba sekitar pukul 01.00 WIB, lalu melanjutkan perjalanan ke Asrama Haji Donohudan pada pukul 04.00 WIB.

Baca juga: Suhu Arab Saudi Tembus 40 Derajat, PPIH Embarkasi Solo Imbau Jemaah Calon Haji Jaga Hidrasi Tubuh

Baca juga: Kabar Terbaru! 8 Jemaah Calon Haji Embarkasi Solo Tumbang, Dirawat di Sejumlah RS Solo

“Saya dari rumah jam 10 malam sampai sana (IPHI) jam 1. Berangkat ke sini jam 4,” tuturnya.

Mustofa mengaku sengaja berjalan kaki dan menolak diantar keluarga.

Baginya, berjalan kaki sudah menjadi kebiasaan, termasuk saat mengikuti manasik haji.

“Biasa mlampah. Pas manasik datang IPHI dulu juga jalan kaki,” imbuhnya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.