SRIPOKU.COM - Situasi di Timur Tengah masih misteri meski saat ini perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel gencatan senjata.
Dampak dari perang tersebut memengaruhi pasokan dan harga minyak dunia yang membuat sejumlah negara menjerit.
Dua negara NATO, Jerman dan Prancis, terang-terangan kecewa akan sikap AS karena memulai perang terlebih dahulu bersama Israel.
Baca juga: Trump Dijauhi Dua Raksasa NATO Soal Blokade Selat Hormuz, Militer Iran : Itu Sikap Ilegal
Kanselir Jerman, Friedrich Merz, mengkritik Washington karena memasuki perang tanpa apa yang ia sebut sebagai strategi.
“Masalah dengan konflik seperti ini selalu sama: Ini bukan hanya tentang masuk. Anda juga harus bisa keluar,” kata Merz.
Di Paris, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot mengkritik semua pihak, tetapi menekankan bahwa krisis baru dimulai setelah AS dan Israel menyerang Iran tanpa tujuan yang jelas dengan cara yang melanggar hukum internasional.
Barrot mengecam Teheran karena menutup jalur tersebut.
“Selat ini adalah arteri dunia. Ini bukan milik individu mana pun,” katanya.
Dalam pernyataan bersama yang dipimpin oleh Bahrain, puluhan negara mengulangi seruan untuk membuka jalur air penting tersebut pada hari Senin, tepat ketika Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa korban kemanusiaan semakin meningkat.
“Tekanan-tekanan ini berdampak pada tangki bahan bakar yang kosong, rak-rak yang kosong — dan piring-piring yang kosong,” katanya.
Baca juga: Tiga Negara NATO Ogah Bersekutu Dengan Amerika Serikat Lawan Iran, Perintah Trump Dilawan
Sementara itu, Iran mendesak AS segera menyepakati proposal damai yang mereka ajukan pada 26 April 2026.
Petinggi Iran merasa AS saat ini sudah tidak bisa lagi mendikte Iran untuk mengikuti kemauan mereka.
“Amerika Serikat tidak lagi berada dalam posisi untuk mendikte kebijakannya kepada negara-negara merdeka,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan Reza Talaei-Nik, menurut televisi pemerintah, mengutip arabnews.com.
Ia menambahkan bahwa Washington akan menerima bahwa mereka harus meninggalkan tuntutan ilegal dan tidak rasionalnya.
Sekadar informasi, Trump ingin Iran menghentikan program nuklir yang sudah lama mereka jalani.
Namun, dalam proposal damai yang diajukan, Iran enggan membicarakan itu sembari berjanji akan kembali membuka Selat Hormuz seperti sebelum perang terjadi.