Ekonomi Lampung Tumbuh 5,28 Persen, Sekdaprov Tekankan Pentingnya Hilirisasi
Reny Fitriani April 28, 2026 05:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Pemerintah Provinsi Lampung terus mendorong penguatan transformasi ekonomi daerah melalui hilirisasi komoditas strategis guna meningkatkan nilai tambah dan daya saing.

Komitmen tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Semester I 2026 yang digelar Bank Indonesia di Pesawaran, Selasa (28/4/2026).

Kegiatan bertema “Perspektif Pemerintah Provinsi Lampung terhadap Hilirisasi Komoditas Strategis” ini menjadi ruang strategis memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, pelaku usaha, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto mengatakan, forum tersebut merupakan bagian dari peran Bank Indonesia sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam mendukung pengembangan ekonomi dan keuangan.

“Melalui forum ini, kami berharap seluruh pihak dapat memberikan kontribusi terbaik bagi perekonomian daerah, sekaligus memperkuat pemahaman kondisi ekonomi Lampung saat ini dan prospeknya ke depan,” ujarnya.

Baca Juga: Gubernur Sebut Lampung Jadi Kunci Pangan, Dorong Hilirisasi Demi Kesejahteraan Petani

Dalam paparannya, Marindo menyebut kondisi ekonomi Lampung menunjukkan kinerja positif.

Pertumbuhan ekonomi tahun 2025 tercatat sebesar 5,28 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 4,57 persen dan melampaui rata-rata nasional.

Menurutnya, capaian tersebut ditopang sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebagai tulang punggung perekonomian daerah.

Selain itu, inflasi Lampung juga terkendali di kisaran 2,5 persen, tingkat pengangguran sebesar 4,14 persen, serta angka kemiskinan menurun menjadi 9,6 persen.

Meski demikian, Marindo menegaskan perlunya transformasi ekonomi agar Lampung tidak hanya bergantung pada sektor primer, melainkan mampu menciptakan nilai tambah melalui hilirisasi.

“Sektor pertanian harus beranjak dari sekadar penyedia bahan baku menjadi penggerak industri hilirisasi. Yang kita dorong adalah transformasi menuju pertanian modern,” katanya.

Ia menambahkan, tantangan utama saat ini adalah masih besarnya porsi komoditas yang dijual dalam bentuk mentah atau setengah jadi, sehingga nilai tambah lebih banyak dinikmati di luar daerah.

Untuk itu, Pemprov Lampung mendorong hilirisasi berbasis desa melalui program Desaku Maju yang dirancang sebagai ekosistem ekonomi desa dari hulu hingga hilir.

Program tersebut meliputi penyediaan pupuk hayati cair, bantuan dryer pertanian, penguatan vokasi dan kapasitas SDM desa, hingga pembangunan infrastruktur jalan desa guna mendukung distribusi dan efisiensi rantai pasok.

“Kalau ekonomi Lampung ingin tumbuh kuat, maka desa harus tumbuh. Hilirisasi harus menghadirkan nilai tambah yang dinikmati langsung oleh petani,” tegasnya.

Marindo juga mencontohkan inovasi hilirisasi yang mulai berkembang, seperti pengolahan singkong menjadi tepung mocaf di Pringsewu, serta penguatan model bisnis komoditas strategis yang dapat direplikasi di daerah lain.

Ia turut mengapresiasi peran Bank Indonesia dalam mendampingi pemerintah daerah dan masyarakat mengembangkan model bisnis serta integrasi ekonomi komoditas.

Dengan kolaborasi yang kuat, Lampung diyakini mampu menjadi daerah yang tidak hanya unggul sebagai produsen komoditas, tetapi juga kuat dalam pengolahan dan distribusi, serta berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional.

(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.