TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS- Kabupaten Banyumas mulai menunjukkan arah baru pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular.
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke TPA BLE di Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, menjadi momentum penguatan sistem pengelolaan sampah terpadu dari hulu hingga hilir.
Kepala UPTD TPST BLE Kaliori, Kecamatan Kalibagor, Edy Nugroho, memaparkan data pengelolaan sampah di Kabupaten Banyumas menunjukkan total timbulan sampah rumah tangga dan sejenisnya mencapai 738,84 ton per hari.
Dari jumlah tersebut, 574,52 ton per hari atau sekitar 77,76 persen telah berhasil dikelola.
"Sementara itu, masih terdapat 164,32 ton per hari atau 22,24 persen sampah yang belum terkelola.
Sampah yang belum tertangani tersebut tersebar di 15 kecamatan, dengan konsentrasi utama berada di wilayah perbatasan dengan kabupaten lain," katanya kepada Tribunbanyumas.com, Selasa (28/4/2026) saat berada di TPA BLE di Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor.
Data ini juga menggambarkan adanya alur pengelolaan sampah terpadu yang dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga, sebagai bagian dari sistem penanganan sampah di Banyumas.
Baca juga: Dikerahkan untuk Menyambut Presiden, Pelajar Purwokerto Rela Berjam-jam Menunggu Kepanasan
Tahap Hulu, Dimulai dari Rumah Tangga
Tahap hulu pengelolaan sampah di Kabupaten Banyumas dimulai dari sumber utama, yaitu rumah tangga.
Sampah yang dihasilkan dari rumah tangga terlebih dahulu melalui proses pemilahan di tingkat rumah tangga.
Setelah dipilah, sampah kemudian diolah secara mandiri dari sumbernya.
Pengolahan ini mencakup beberapa langkah, yaitu memilah sampah dari rumah, mengurangi jumlah sampah, menggunakan kembali barang yang masih bisa dimanfaatkan, serta menyalurkan sampah melalui bank sampah.
Sementara itu, sampah yang tidak dapat ditangani di tingkat sumber akan diangkut oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) menuju fasilitas pengelolaan, seperti TPST, TPS3R, atau PDU, untuk penanganan lebih lanjut.
Diolah Berbasis Masyarakat
Tahap tengah dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Banyumas dilakukan berbasis masyarakat di fasilitas TPST, TPS3R, dan PDU.
Sampah yang sebelumnya tidak tertangani di tingkat sumber kemudian diangkut oleh KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) menuju fasilitas tersebut.
Setibanya di lokasi, sampah menjalani proses pemilahan menggunakan tenaga kerja dan bantuan mesin.
Sampah kemudian dikelompokkan menjadi empat kategori utama, yaitu organik bernilai tinggi (organik high value), anorganik bernilai tinggi (anorganik high value), anorganik bernilai rendah (anorganik low value), serta residu.
Setiap kategori selanjutnya masuk ke tahap proses pengolahan.
"Sampah organik diolah menjadi kompos atau pakan maggot.
Sampah anorganik bernilai tinggi diproses menjadi bijih plastik atau bahan daur ulang lainnya.
Sementara anorganik bernilai rendah dan residu diolah menjadi RDF (Refuse Derived Fuel), termasuk RDF dari residu," jelasnya.
Untuk mendukung proses tersebut, fasilitas utama yang tersedia di KSM meliputi conveyor pemilahan, mesin pemilahan, mesin pencacah, bangunan fasilitas, serta kendaraan operasional.
Tahap ini menjadi penghubung penting dalam alur pengelolaan sampah, sebelum sampah masuk ke proses pengolahan lanjutan di fasilitas berikutnya.
Tahap Hilir, Diproses di TPST BLE
Tahap hilir pengelolaan sampah di Kabupaten Banyumas difokuskan pada pola distribusi dan pengolahan sampah di TPST BLE.
Sampah residu yang berasal dari KSM terlebih dahulu diangkut menuju fasilitas TPST BLE, kemudian melalui proses penimbangan sebelum masuk ke tahap pengolahan.
Di tahap ini, sampah diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, yaitu residu sampah, residu murni, anorganik low value, serta bubur sampah organik.
Selanjutnya, masing-masing jenis sampah menjalani proses pengolahan lanjutan.
Residu sampah dipilah, sedangkan residu murni dicacah untuk dijadikan RDF (Refuse Derived Fuel).
"Sampah anorganik bernilai rendah juga diolah menjadi produk seperti RDF dan paving blok.
Sementara itu, bubur sampah organik dimanfaatkan menjadi maggot dan RDF," jelasnya.
Untuk mendukung proses tersebut, TPST BLE dilengkapi dengan berbagai fasilitas utama, antara lain pre shredder, tromol screen, pencacah organik, mesin pembersih sampah, serta mesin conveyor.
Tahap hilir ini menghasilkan produk bernilai ekonomi dan menjadi bagian dari strategi ekonomi sirkular, di mana sampah diolah kembali menjadi sumber daya yang bermanfaat.
Hasilkan Produk Bernilai Tinggi
Tahap keempat dalam sistem pengelolaan sampah di Kabupaten Banyumas adalah pengembangan produk akhir.
Pada tahap ini, sedang dilakukan kajian dan ujicoba pemilahan plastik sebelum dijadikan RDF, untuk kemudian diolah menjadi bijih plastik KW-2.
Bijih plastik tersebut direncanakan dikembangkan menjadi berbagai produk, di antaranya lantai palet dan ballpoint (pulpen).
"Untuk produk lantai palet, telah dilakukan pembicaraan intens dengan Pemerintah Wali Kota Ipoh, Malaysia, terkait rencana kerja sama antara Perusda Ipoh dan Perusda Banyumas.
Kerja sama ini mencakup investasi mesin dari Ipoh, serta komitmen bahwa hasil produksi lantai palet akan dibeli oleh pihak tersebut," jelasnya.
Sementara itu, bijih plastik KW-2 juga akan dimanfaatkan untuk memproduksi komponen ballpoint, meliputi bagian tutup depan, tutup belakang, dan badan.
Secara keseluruhan, pengembangan produk akhir ini bertujuan meningkatkan nilai tambah sampah melalui pemanfaatan sebagai sumber daya, menciptakan nilai ekonomi, mendukung energi alternatif, membuka lapangan kerja hijau, serta menghasilkan produk bernilai tinggi yang dapat bersaing di pasar lokal maupun global. (jti)