TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Universitas Hasanuddin (Unhas) kini ikut mengelola Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG).
SPPG ini berlokasi di samping Masjid Ikhtiar, Kampus Unhas Tamalanrea, Jl Perintis Kemerdekaan Km 10.
Mulai hari ini, Selasa (28/4/2026), SPPG Unhas resmi beroperasi.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) RI Dadan Hindayana datang langsung meresmikan SPPG Unhas.
Dadan Hindayana menghitung satu SPPG wajib melayani 3 ribu penerima.
"Butuh 5 ton beras per bulan. Itu artinya 10 ton gabah giling. Ini harus dihasilkan 2 hektar lahan padi. Jadi pak rektor kalau ingin beras dipasok produksi Unhas, harus punya minimal 2 hektar panen padi per bulan," kata Dadan Handayana dihadapan Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa.
Kemudian sebagai lauk utama, telur jadi piliah SPPG.
Sumber protein ini dibutuhkan 3 ribu butir setiap satu kali makan.
"Ayam betina meletakkan 0,8 telur per hari, Jadi kalua ingin punya 3 ribu telur. Kurang lebih harus ada 3.700 ayam, luruskan aja 4 ribu," ujar Dadan.
Sehingga Unhas disebutnya butuh 4 kendang ayam petelur.
Dengan asumsi bahwa, setiap kendang ada seribu ekor ayam petelur.
Setiap ayam juga membutuhkan asupan pakan.
Dadan kembali menghitung dibutuhkan 18 hektar luas panen pakan jagung.
"18 Hektar luas panen jangung dengan asumsi 6 ton per hektar pipilan kering" jelas Dadan.
Kebutuhan inilah diperlukan SPPG Unhas apabila ingin menyediakan bahan baku secara mandiri.
Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa menegaskan SPPG ini tidak hanya memproduksi makanan bergizi bagi sekolah-sekolah, tetapi juga menjadi wadah pemberdayaan sumber daya internal kampus.
Seluruh proses, mulai dari penyediaan bahan baku yang berasal dari produk unggulan Unhas.
Sampai ke tahap distribusi, dirancang melibatkan para ahli gizi, dosen, dan tenaga kependidikan.
“SPPG ini kita dorong agar seluruh prosesnya berbasis pada kekuatan internal Unhas, termasuk pelibatan para ahli gizi. Kita ingin memastikan bahwa setiap produk yang dihasilkan tidak hanya berkualitas, tetapi juga memberikan jaminan pemenuhan gizi bagi masyarakat,” ujar Prof. JJ.
Dapur ini dirancang untuk menjadi ruang belajar kontekstual bagi mahasiswa, dosen, dan tenaga ahli.
Nantinya terintegrasi aktivitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat terintegrasi secara langsung dengan proses produksi.
Mahasiswa gizi, teknologi pangan, hingga ekonomi kreatif dapat terlibat dalam setiap tahapan.
Mulai dari formulasi menu, uji kualitas, hingga manajemen distribusi.