TRIBUNTRENDS.COM - Kisah duka kembali menyelimuti keluarga korban tewas dalam kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur.
Salah satu korban, Nurhayati, meninggalkan cerita memilukan yang diungkapkan oleh pihak keluarga.
Suami korban disebut sempat merasakan firasat tidak enak sebelum kabar duka itu benar-benar datang.
Peristiwa tragis yang terjadi pada Senin (27/4/2026) sekitar pukul 20.55 WIB tersebut merenggut nyawa Nurhayati yang saat itu menjadi penumpang KRL.
Sebelum Nurhayati pergi, Halimah mengaku sempat melarang sang ibu.
Halimah meminta agar Nurhayati menunda perjalanannya ke Cikarang.
Alasannya, kata Halimah, Nurhayati lebih baik menjenguk adiknya di hari libur saja.
Tapi larangan dari anaknya itu tak diindahkan Nurhayati.
"Saya bilang 'ntar aja mah, Jumat, biar sekalian sama saya'. Tapi mama tetap minta berangkat malam itu juga. Habis maghrib berangkat dari rumah," ujar Halimah.
Dalam insiden tersebut, Halimah bercerita bahwa hanya sang ibu yang tewas.
Sementara adik dan keponakannya berhasil menyelamatkan diri.
Baca juga: Mengira Sudah Meninggal, Sausan Selamat dari Tabrakan KA, Badan Tertumpuk: Terlalu Menyeramkan
"Sama adik saya, sama ponakan. Alhamdulillah adek sama ponakan sehat, selamat. Kalau dari cerita adik saya, menyelamatkan diri dari jendela kereta," imbuh Halimah.
Sembari menahan tangis, Halimah menceritakan kesaksian adiknya saat mengalami tabrakan tersebut.
Hingga akhirnya terungkap penyebab Nurhayati tak berhasil diselamatkan.
"Kalau mama kan badannya besar jadi enggak bisa lewat jendela kata adik saya tuh. Kata adik 'mama belum bisa dievakuasi, makanya aku minta tolong sama yang lain'. Karena udah kelamaan kali ya, udah kehabisan oksigen mama di dalam kereta itu, kan di dalam kereta gelap, enggak ada hawa," kata Halimah.
Setali tiga uang dengan sang anak, suami Nurhayati juga mengurai kepiluan yang sama.
Suami korban mengaku sempat punya firasat tak enak sebelum Nurhayati meregang nyawa akibat tabrakan kereta.
Kendati demikian, suami korban mencoba untuk mengikhlaskan takdir tersebut.
"Kalau firasat sih yang Allah menunjukkan tuh, firasat ada tapi kita enggak sampaikan ke keluarga. Karena semua kehendak Allah SWT. Karena kalau kita cerita juga enggak ada yang percaya ada yang enggak, kayak ketiban cicak atau apa," ujar suami korban.
"Anak-anak yang lain itu sempat melarang, jangan bertiga berangkat, nanti aja minggu sama-sama jenguk tempat anak yang sakit," sambungnya.
Kini ditinggal sang mama untuk selamanya, Halimah mengurai sosok Nurhayati semasa hidup.
Almarhumah ternyata adalah sosok yang aktif bermasyarakat serta kerap menebarkan kebaikan kepada banyak orang.
"Mama salah satu kader jumantik di wilayah, udah lama. Aktif juga di pengajian muslimat. Banyak kegiatannya. Makanya teman-teman mama hari ini banyak yang datang untuk takziah ke rumah. Kaget juga mereka, semalam masih ketemu, sekarang udah enggak ada," kata Halimah.
Baca juga: Dedi Mulyadi Sebut Pemerintah Jabar Akan Biayai RS & Beri Santunan Korban Kecelakaan Kereta Bekasi
Sebelumnya diwartakan, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengurai fakta baru terkait jumlah korban dalam insiden tersebut.
Berdasarkan data terbaru hingga pukul 08.45 WIB, tercatat 14 orang meninggal dunia akibat insiden tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur.
“Tercatat 14 orang meninggal dunia. Korban meninggal dunia telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut,” kata Bobby dalam keterangan resmi, Selasa (28/4/2026).
Sementara itu, 84 korban luka telah mendapatkan penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan, antara lain RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, serta RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat.
Diungkapkan Bobby, seluruh upaya difokuskan pada penanganan korban dengan mengutamakan keselamatan dan kondisi setiap penumpang.
Proses evakuasi dan penanganan dilakukan secara hati-hati karena terdapat korban yang membutuhkan penanganan khusus.
Setiap langkah dilakukan dengan pertimbangan medis dan keselamatan agar penanganan dapat berjalan optimal.
KAI memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan maksimal.
Untuk diketahui, seluruh biaya pengobatan bagi korban luka serta biaya pemakaman bagi korban meninggal dunia ditanggung sepenuhnya oleh asuransi dan KAI.
(TribunTrends.com/TribunnewsBogor.com)