Serapan Petroganik Tertinggi Kedua Nasional, Bojonegoro Dorong Pertanian yang Ramah Lingkungan
Alga W April 28, 2026 09:14 PM

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Misbahul Munir

TRIBUNJATIM.COM, BOJONEGORO - Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terus mendorong peningkatan produktivitas pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Salah satunya dalam penggunaan pupuk organik.

Baca juga: Bupati Kediri Mas Dhito Ancam Suspend Dapur SPPG Tempurejo Jika Hasil Lab MBG Bermasalah

Dalam dua tahun terakhir, daerah ini tercatat sebagai penyerap pupuk organik (petroganik) terbesar kedua di Indonesia.

Hal itu mengemuka dalam kegiatan Gebyar Petroganik 2026 yang digelar di Bojonegoro, Selasa (28/4/2026).

Ketua himpunan mitra produsen pupuk organik (Himpo) Jawa Timur, Wahyu Aryo menyebut, tren penggunaan pupuk organik di Bojonegoro terus meningkat dalam dua tahun terakhir.

"Bojonegoro ini serapan pupuk organik petroganiknya tertinggi kedua di Indonesia. Data dua tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan," ujar Wahyu.

Menurut dia, tren tersebut menjadi indikasi bahwa petani mulai memahami dampak jangka panjang penggunaan pupuk kimia terhadap kualitas lahan.

Peralihan ke pupuk organik dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan sektor pertanian.

Atas capaian ini, Manajer Jatim 1 Regional 3A PT Pupuk Indonesia, Sutikno Wahyu Dinas Adi Prakoso, memberikan apresiasi kepada stakeholder serta seluruh pihak yang terlibat dalam distribusi pupuk bersubsidi.

Wahyu juga memastikan ketersediaan pupuk untuk petani di Bojonegoro dalam kondisi aman menjelang musim tanam berikutnya.

"Stok pupuk bersubsidi di gudang penyangga lini tiga di Bojonegoro cukup untuk memenuhi kebutuhan musim tanam ketiga," kata dia.

Di lain sisi, Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, mengemukakan bahwa penggunaan pupuk organik turut berdampak pada peningkatan hasil panen.

Menurut Nurul, saat ini produksi pertanian di Bojonegoro semakin meningkat dari yang semula 710.000 ton menjadi 864.000 ton dalam setahun terakhir.

"Ini menunjukkan bahwa kesadaran petani dalam menjaga hara tanah melalui pupuk organik berbanding lurus dengan peningkatan hasil produksi," ujar Nurul.

Namun demikian, Nurul menyebut, terdapat tantangan serius terkait regenerasi petani.

Berdasarkan data yang ada menunjukkan jumlah petani di Bojonegoro terus menurun, tercatat pada tahun 2013 ada 356.484 orang bekerja sebagai petani.

Sementara pada tahun 2024 jumlahnya hanya menjadi 191.588 orang.

Mereka mayoritas berusia di atas 60 tahun.

Kondisi ini, kata Nurul, menjadi kekhawatiran terhadap keberlanjutan sektor pertanian di masa depan.

"Saat ini tantangannya pada regenerasi petani. Bagaimana generasi muda bisa tertarik kembali ke sektor pertanian, ini menjadi tantangan besar," kata Nurul.

Sebagai upaya menjawab persoalan tersebut, lanjut Nurul, saat ini pemerintah daerah mendorong inovasi pertanian moderen.

Salah satunya dengan penggunaan alat modern seperti transplanter untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja sekaligus meningkatkan efisiensi produksi.

"Sekarang mencari tenaga tanam dan perawatan itu sulit. Maka mekanisasi atau penggunaan alat modern menjadi solusi agar pertanian tetap produktif dan lebih menarik bagi generasi muda," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.