TRIBUNJABAR.ID - Anak Nurlaela (39), korban meninggal kecelakaan maut KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur, menceritakan momen komunikasi terakhir dengan korban.
Anak tunggal almarhum Nurlaela tersebut menceritakannya pada Dedi Mulyadi saat sang Gubernur Jawa Barat melayat ke kediamannya di Kampung Ceger, RT 02/RW 02, Desa Tanjungbaru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi pada Selasa (28/4/2026) sore.
Kecelakaan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek tersebut terjadi di sekitar Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026).
Baca juga: Perjalanan KA Parahyangan Batal Imbas Kecelakaan, Jumlah Penumpang Transportasi Lain Masih Normal
Anak korban bercerita, dirinya sempat mengirim pesan WhatsApp pada sang ibu sekitar pukul 17.30 WIB. Pesan itu pun masih sempat dibalas oleh sang ibu.
"Kamu ada kontak ibu engga, WA apa," tanya Dedi Mulyadi.
Anak Nurlaela menjawab dirinya menanyakan keberadaan ibunya dan kapan pulang.
"Iya, mamah dimana. Iya (dijawab) masih di sekolah pulang malam," ujar anak almarhumah.
Dedi Mulyadi pun menanyakan apakah sang anak minta dibelikan sesuatu pada sang ibu kala itu.
Sang anak menjawab tidak.
Anak korban bercerita dirinya tidak membalas pesan sang ibu yang bilang akan pulang malam.
Menurutnya, sang ibu memang kerap pulang malam jika ada kegiatan di sekolah.
Sayangnya, hari itu, hingga hampir tengah malam, Nurlaela tak juga sampai ke rumah.
Suami Nurlaela mengatakan hal tersebut tak biasa, mengingat sang istri biasanya jam 10 sudah ada di rumah meski ada kegiatan di sekolah.
"Kalau ada kegiatan, jam 9 atau 10 itu sudah pulang. Ini belum pulang-pulang juga," ungkap sang suami.
Baca juga: Siang Ini Dedi Mulyadi Temui Korban Tabrakan KRL di Bekasi, Siapkan Santunan Rp50 Juta
Sebelumnya, saat Nurlaela berangkat bekerja, ada hal tak biasa, yaitu sang istri tidak salam untuk pamit pada dirinya.
Nurlaela justru pamit pada bibinya yang rumahnya bersebelahan.
"Engga (pamit) tapi ke bibi pamit. Soalnya saya langsung masuk ke dalam habis keluarin motor," ceritanya di depan Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi menyatakan mengangkat anak Nurlaela, korban kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, sebagai anak asuhnya.
Hal tersebut disampaikan Dedi Mulyadi saat bertakziah ke rumah duka korban Nurlaela di Kabupaten Bekasi, Selasa (28/4/2026).
Nurlaela sendiri adalah guru SD berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang sehari-hari mengajar di SD Pejagan 11, Pulogebang, Jakarta Timur.
Ia tercatat sebagai warga Kampung Ceger, RT 02/RW 02, Desa Tanjungbaru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi.
Dalam insiden tabrakan kereta api yang melibatkan Commuter Line Cikarang dan Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam, Nurlaela menjadi salah satu korban meninggal dunia.
Baca juga: Setelah Commuter Line Ditabrak, Tubuh Penumpang Menumpuk, Cerita Korban Selamat Tabrakan Kereta Api
Dalam video yang dibagikan, Dedi Mulyadi turut mendoakan Nurlaela.
Dedi Mulyadi menyatakan bahwa ia mengangkat anak laki-laki Nurlaela sebagai anak asuhnya untuk menjamin pendidikannya di masa depan.
"Anak Bu Guru-nya sekarang menjadi anak saya, nanti sekolahnya ikut dalam program pendidikan saya," ucap Dedi Mulyadi.
Lebih lanjut, Dedi Mulyadi juga menuturkan bahwa Nurlaela gugur setelah pulang dari melaksanakan pekerjaannya.