TRIBUNPRIANGAN.COM - Wartawan Kompas TV, Nur Ainia Eka Rahmadhynna, menjadi salah satu dari 15 korban tewas dalam kecelakaan tragis antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/4/2026), setelah sebelumnya sempat dinyatakan hilang dan dicari oleh keluarga.
Kabar duka ini diketahui melalui unggahan dari akun X Kompas TV, pada Selasa (28/4/2026).
"Nur Ainia Eka Rahmadhynna (KompasTV News Production Support Departement). Seluruh jajaran direksi dan karyawan KompasTV mengucapkan turut berduka cita atas berpulangnya almarhumah rekan kami dalam musibah kecelakaan KRL Bekasi."
"Semoga almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan bagi keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan," demikian ucapan duka dari KompasTV.
Baca juga: Buntut Kecelakaan Maut KRL Ditabrak Argo Bromo, 2 Perjalanan KA yang Lewat Tasikmalaya Dibatalkan
Sebelumnya, pihak KompasTV sempat mengunggah poster terkait terputusnya kontak dengan Nur Ainia.
Sosok yang berdomisili di kawasan Tambun Selatan, Bekasi, ini sempat dikabarkan tidak diketahui kabarnya sesaat setelah kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur tersebut terjadi.
Adik Nur Ainia, Luthfi Dwi Fajar Riansyah, juga mengaku sempat mencari keberadaan sang kakak.
Dia mengatakan mencari kakaknya di beberapa rumah sakit di Bekasi. Namun, upaya yang dilakukan tidak membuahkan hasil.
Ian menyebut ciri-ciri Nur Aina memakai kemeja biru muda, sweater berwarna merah, dan celana jins biru
"Saya dari semalam nyari-nyari nggak ada dan untuk ciri-cirinya pakai baju kayak kemeja entah itu putih atau biru muda. Yang jelas dia memakai sweater maroon atau pink lalu jins warna biru muda," katanya dikutip dari YouTube Kompas TV.
Dia mengatakan Nur Ainia selalu turun di Stasiun Tambun saat pulang kerja.
"(Turun) Di Tambun Selatan. Saya juga tiap hari yang antar jemput," ujarnya.
Ian menceritakan kakaknya memiliki kebiasaan untuk mengabarinya sebelum kereta yang ditumpanginya tiba di Stasiun Tambun.
Namun, saat insiden kecelakaan kereta pada kemarin malam, dia mengatakan Nur Aina tidak memberikan kabar sama sekali.
"Kakak saya itu kalau pulang selalu ngabarin saya 20 menit sebelum sampai Stasiun Tambun Selatan. Cuma selama sejam kemarin, nggak ada kabar," cerita Ian sambil menangis.
Mengetahui hal tersebut, Ian berinisiatif untuk menghubungi kakaknya. Dalam momen itu, ponsel Nur Aina masih dalam kondisi aktif.
"Kalau ditelpon itu berdering sama chat WA biasa juga check list dua. Terus pas di RS, ada sempat minta bantuan dari anggota polisi juga untuk dilacak keberadaan HP-nya itu masih berada di sekitar (stasiun) Bekasi Timur," tuturnya.
Korban Tewas 15 Orang
Sebelumnya, Polda Metro Jauya mencatat jumlah korban tewas dalam kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur mencapai 15 orang.
"Iya, ada 15 (korban) meninggal dunia," kata Kabid Dokkes Polda Metro Jaya, Kombes Pol Martinus Ginting di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa.
Dia menuturkan total ada 10 jenazah yang belum teridentifikasi identitasnya.
Sementara, Kepala Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Brigjen Pol Prima Heru, menuturkan pihaknya menerima tujuh data antemortem dari keluarga korban.
“Keluarga yang sudah melaporkan ke posko antemortem sampai saat ini sebanyak tujuh keluarga,” kata Prima ditemui di kesempatan yang sama.
Dia mengungkapkan jenazah pertama tiba di rumah sakit sekira pukul 03.00 WIB dan disusul jenazah selanjutnya pada pukul 07.00 WIB.
Prima mengungkapkan proses identifikasi ditargetkan akan selesai hari ini dengan cara mencocokan menggunakan foto korban yang terlihat gigi dan berkas korban seperti ijazah yang tercantum sidik jarinya.(*)