AS: Blokade Iran di Selat Hormuz Sama dengan 'Senjata Nuklir Ekonomi'
Whiesa Daniswara April 28, 2026 10:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) menggunakan istilah "senjata nuklir" ketika menggambarkan dampak dari blokade yang diberlakukan Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menuduh Iran menggunakan Selat Hormuz sebagai “senjata nuklir ekonomi” untuk menekan dunia.

Ia menilai langkah Teheran mengendalikan jalur energi vital tersebut berpotensi menciptakan preseden berbahaya bagi stabilitas global.

Dalam wawancara dengan Fox News, Rubio menyatakan bahwa pembukaan Selat Hormuz tidak dapat disertai syarat sepihak dari Iran.

“Jika yang mereka maksud dengan membuka selat adalah harus berkoordinasi dengan Iran atau meminta izin mereka, itu bukanlah pembukaan,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).

Ia menegaskan bahwa selat tersebut merupakan perairan internasional, bukan wilayah yang dapat dikendalikan satu negara.

Rubio juga memperingatkan bahwa dominasi Iran atas Selat Hormuz dapat berdampak luas terhadap pasokan energi dunia. Ia menyebut jalur tersebut sebagai titik krusial yang mengalirkan sebagian besar minyak global.

“Ini setara dengan senjata nuklir ekonomi yang mereka coba gunakan terhadap dunia,” katanya, menyoroti potensi tekanan ekonomi yang dapat ditimbulkan jika akses selat dibatasi.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan, termasuk gangguan berulang terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Rubio menuding Iran tidak hanya berupaya mengendalikan wilayahnya, tetapi juga ingin memperluas pengaruh di Timur Tengah.

Baca juga: AS Tak Lagi Digubris, Iran Pilih Putar Haluan ke Asia Tawarkan Aliansi Pertahanan Baru

Ia bahkan menyinggung klaim Iran yang disebut “membual” mampu menyandera hingga seperempat pasokan energi dunia.

Selain isu energi, Rubio menegaskan bahwa program nuklir Iran tetap menjadi perhatian utama Washington. 

“Masalah nuklir adalah alasan kita berada dalam situasi ini sejak awal,” ujarnya. 

Ia menolak kemungkinan adanya tokoh moderat dalam kepemimpinan Iran dan memperingatkan bahwa Teheran pada akhirnya akan berupaya memiliki senjata nuklir.

Lebih lanjut, Rubio menilai setiap kesepakatan dengan Iran harus mencakup pembatasan tegas terhadap program nuklirnya.

Menurutnya, jika Iran memiliki senjata nuklir, maka negara tersebut akan semakin sulit dibendung dalam mendukung kelompok-kelompok di kawasan seperti Hizbullah dan Hamas.

Sementara itu, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Presiden AS, Donald Trump, telah meninjau proposal terbaru Iran terkait pembukaan Selat Hormuz dan penghentian konflik.

Namun, laporan menyebutkan bahwa Trump belum puas dengan tawaran tersebut, terutama karena tidak secara langsung menyentuh pembongkaran program nuklir Iran.

Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa pihaknya tidak berupaya mengembangkan senjata nuklir dan menolak tuntutan AS untuk menghentikan program nuklirnya.

Blokade Iran di Selat Hormuz Mengguncang Harga Minyak

Harga minyak naik pada hari Selasa, dengan minyak mentah Brent mencapai sekitar 111 USD per barel, setelah naik 2,8 persen pada hari Senin, sementara minyak mentah West Texas Intermediate melampaui 97 USD, karena pemerintahan AS mempertimbangkan proposal baru dari Teheran untuk mengakhiri perselisihan tersebut.

Terlepas dari upaya diplomatik, blokade laut di Selat Hormuz tetap lebih ketat dari sebelumnya, dan jalur air yang dilalui seperlima pasokan energi dunia itu telah menjadi seperti jalur mati, menimbulkan kekhawatiran serius tentang krisis inflasi global yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ketegangan pasar masih berlanjut meski Presiden AS Donald Trump dikabarkan mengadakan pertemuan khusus untuk membahas proposal Iran. Namun, ia tetap menegaskan tidak akan melanggar “garis merah”, terutama terkait pencegahan pengembangan nuklir Iran.

Di sisi lain, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz hampir berhenti total, sehingga pasokan minyak dan gas global terganggu. Akibatnya, harga energi naik tajam dan kekhawatiran inflasi dunia semakin besar.

Secara diplomatik, Iran melalui Menlu Abbas Araqchi menyampaikan syarat penyelesaian konflik, seperti pencabutan blokade laut AS, aturan baru pelayaran, dan jaminan tidak ada serangan militer. Namun, AS masih meragukan tawaran tersebut.

Menurut laporan The Wall Street Journal, AS akan menyiapkan usulan tandingan, sementara isu utama tetap pada penolakan Iran untuk menghentikan pengayaan uranium. Menlu AS Marco Rubio juga menegaskan bahwa kendali Iran atas Selat Hormuz tidak dapat diterima.

Sementara itu, blokade laut semakin ketat. Pasukan AS bahkan mencegat kapal tanker Iran di dekat Sri Lanka dan memaksa mereka berbalik. Kondisi ini membuat Iran kesulitan menyimpan minyak, bahkan produksi mulai berkurang.

Para analis menilai jika situasi ini berlanjut, kekurangan pasokan bisa berlangsung lama. Namun, jika terjadi kesepakatan, harga energi bisa turun dengan cepat.

Perang AS-Israel Vs Iran

Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari, yang memicu pecahnya konflik baru di kawasan Timur Tengah.

Dalam serangan tersebut, pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas, lalu digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, setelah mendapat persetujuan Majelis Ahli Ulama Iran.

Serangan itu terjadi dua hari setelah perundingan nuklir antara AS dan Iran di Jenewa. Selama ini, AS dan Israel menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran bersikeras bahwa programnya hanya untuk kepentingan energi sipil.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke Israel serta pangkalan militer AS di sejumlah negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Iran juga menghentikan perundingan nuklir dan memblokade Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia, yang memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran krisis energi global.

Pada hari ke-40 konflik, tepatnya 7 April, AS dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan mulai 8 April. Kedua pihak kembali berunding pada 11 April 2026 di Islamabad, namun belum mencapai kesepakatan damai karena masih ada isu krusial yang belum terselesaikan.

Hingga kini, konflik tersebut dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 1.900 orang menurut Al Jazeera. Setelah kegagalan perundingan, AS memperketat blokade terhadap jalur pelayaran Iran di Selat Hormuz.

Rencana pertemuan lanjutan pada 22 April di Islamabad batal setelah Iran menolak hadir. Pada 25 April, AS berupaya mengirim delegasi ke Islamabad untuk membuka peluang negosiasi, namun Iran menolak pembicaraan langsung dengan AS.

Hari Minggu lalu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan pihak mediator di Pakistan untuk menyampaikan proposal baru Iran, sementara AS membatalkan kunjungan delegasinya ke Islamabad pada hari Sabtu.

Iran mempertahankan tuntutannya, di antaranya penghentian serangan AS-Israel, pencabutan blokade kapal, serta penghapusan sanksi. Di sisi lain, AS bersikeras pada proposalnya untuk penghentian program nuklir Iran, pembukaan kembali Selat Hormuz, pengurangan pengaruh militer Iran di kawasan, serta jaminan keamanan bagi sekutu-sekutunya.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.