Selamatkan Anak dari Gerbong, Sofia Kehilangan Sang Ibu dalam Tragedi KRL di Bekasi Timur
Malvyandie Haryadi April 28, 2026 10:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Waktu menunjukkan sekira pukul 19.00 WIB pada Senin (27/4/2026).

Sofia bersama putrinya yang berusia lima tahun dan ibundanya, Nuryati berangkat menuju stasiun Kereta Rel Listrik (KRL).

Sofia dan keluarganya lalu masuk ke gerbong KRL yang berisi penumpang laki-laki dan perempuan.

KRL yang ditumpangi Sophia dan keluarganya berangkat sekira pukul 20.00 WIB menuju Cikarang, tempat kembarannya yang sedang sakit tinggal.

Dalam perjalanan itu, KRL yang ditumpangi Sofia sempat terhenti sekira pukul 21.00 WIB di Stasiun Bekasi Timur.

Saat berhenti, ia mendengar pengumuman bahwa KRL mengalami gangguan karena ada mobil tertemper KRL di peron sebelah.

Pintu gerbong yang ditumpanginya sempat terbuka.

Sejumlah penumpang yang penasaran terlihat keluar dari gerbong.

Mereka ingin tahu, apa yang sedang terjadi.

Setelah itu, para penumpang kembali diimbau masuk.

Pintu gerbong KRL yang ditumpanginya tertutup.

Sejurus kemudian ia dan penumpang di gerbong itu merasakan guncangan seperti ada sesuatu yang menabrak.

Lampu padam.

Lalu para penumpang panik karena pintu masih tertutup.

Dalam keadaan panik itu, Sofia melihat salah satu jendela gerbong terbuka, tapi tidak tahu siapa dan bagaimana jendela itu bisa dibuka.

Sofia lalu mengeluarkan balitanya keluar lewat jendela.

Namun di tengah kepanikannya dan para penumpang lain, pikirannya hanya tertuju satu orang yakni ibunya, Nurhayati.

Pasalnya, ia ingat ibunya punya riwayat penyakit jantung.

Tak lama, petugas keamanan datang dan membuka pintu.

Setelah itu para penumpang di gerbong itu keluar satu per satu.

Kisah itu diceritakan Sofia di rumah duka lingkungan RT 04 RW 08 Kelurahan Utan Panjang, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat pada Selasa (28/4/2026).

"Saya langsung seret orang tua saya keluar. Dari situ mungkin dia syok ya. Terus, enggak lama kemudian dia pingsan, jatuh. Di situ saya udah panik.  Karena yang lain fokusnya ke gerbong yang tertabrak itu," tuturnya.

Sebelum pingsan, Nuryati masih sempat sadar sebentar dan berbicara dengan Sofia.

Sofia lalu berupaya menenangkannya.

"Ya sudah tenang, sabar-sabar," kata Sofia mengulang percakapannya dengan Nuryati.

"Persis sekian detik mungkin saya menengok keadaan, Mamah langsung tiba-tiba jatuh, di sini (menunjuk bibir) berdarah terus pingsan, masih sadar, cuma ya mungkin pertolongannya kurang, minim ya," imbuhnya.

Saat Nuryati pingsan, Sofia menunggu pertolongan datang dan sambil terus mendoakan ibunya itu.

Setelah pertolongan datang, Nuryati dibawa ke lantai dua Stasiun Bekasi Timur.

Di sana, Sofia melihat sudah banyak korban lain.

Setelah itu, petugas menelpon ambulans.

Sekira pukul 21.30 WIB, Sofia dan Nuryati kemudian dibawa ambulans ke RSUD Bekasi untuk memastikan kondisi ibunya itu.

"Saya ngomong ke sopir ambulansnya dibawa ke RSUD, saya langsung mengabari keluarga untuk ke RSUD. Enggak lama dinyatakan tidak ada (meninggal) dunia," ujarnya.

Sofia mengaku belum berani naik KRL lagi setelah kejadian itu.

Baginya, pengalaman itu membekas.

"Mungkin belum ya, masih terngiang-ngiang. Ya mungkin masih bisa naik (KRL), cuma untuk saat ini tidak dulu," ucap dia dengan suara bergetar.

Nuryati meninggalkan delapan orang anak dan enam orang cucu.

Setelah disalatkan di Musala Al Ikhlas yang tak jauh dari rumahnya, jenazah Nuryati kemudian dibawa ambulans menuju tempat peristirahatan terakhirnya di TPU Karet Bivak Jakarta.

Lantunan kalimat tahlil dari keluarga dan pelayat mengiringi perjalanannya menuju pusara.

Kecelakaan KRL Vs Argo

Kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA jarak jauh Argo Anggrek terjadi di sekitar Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 malam.

Insiden bermula ketika terjadi gangguan di jalur rel setelah sebuah kendaraan diduga tertemper kereta, yang kemudian memicu situasi tidak normal di lintasan.

Dalam kondisi tersebut, KRL yang sedang berhenti atau berjalan lambat mengalami benturan, yang menyebabkan kepanikan di dalam gerbong.

Benturan tersebut mengakibatkan listrik di gerbong padam dan penumpang terjebak karena pintu tidak langsung terbuka.

Sejumlah penumpang berupaya menyelamatkan diri, bahkan ada yang keluar melalui jendela. Petugas kemudian datang untuk membuka pintu dan mengevakuasi penumpang satu per satu dari dalam kereta.

Akibat kejadian ini, dilaporkan 15 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Selain korban jiwa, insiden ini juga menimbulkan trauma bagi para penumpang serta gangguan operasional perjalanan kereta di jalur tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.