LUKA di Leher & Wajah Sebabkan Sukma Meninggal Dunia, Anak di Songan Tewas Dikeroyok 3 Anjing Liar!
Anak Agung Seri Kusniarti April 28, 2026 11:03 PM

TRIBUN-BALI.COM - Nasib tragis dialami seorang anak berusia 4 tahun di Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Adalah Ni Made Sukma Diatmika, asal Banjar Ulun Danu, Desa Songan yang diduga tewas karena bagian lehernya digigit anjing pada Senin (27/4). 

Bahkan rupanya korban tewas bukan karena digigit seekor anjing, melainkan diduga ada sekitar tiga ekor anjing liar. Kerabat korban, I Nyoman Muliawan mengatakan, lokasi kejadian berada di warung ibu korban yang berada di jalur pendakian Gunung Batur, yang dikenal sepi. Saat itu, seusai dimandikan ibunya, korban mendengar ada anjing ribut, lalu iapun keluar untuk melihat.

Muliawan menuturkan tidak ada yang tahu secara percis terkait bagaimana korban bisa digigit. Namun informasinya, ada yang melihat anak tersebut dikerubungi sekitar tiga ekor anjing.

Di mana semua anjing tersebut merupakan anjing liar. “Katanya ada yang melihat ada sekitar 3 ekor yang mengerubuti korban. Salah satu bulunya dilihat warna putih,” ucapnya, Selasa (28/4).

Baca juga: KEBUTUHAN 3.000 Telur per Hari, Program MBG Jadi Peluang Besar Usaha Desa 

Baca juga: JEMBATAN Bilukpoh Bakal Dibangun Ulang, Struktur Direncanakan di Sebelah Utara dan Lebih Tinggi

Pasca kejadian itu, korban yang merupakan anak paling bungsu dari lima saudara ini, mengalami luka serius pada leher dan wajah. “Setelah dilarikan ke rumah sakit, dinyatakan meninggal dunia,” ujarnya.

Pasca dinyatakan meninggal, pada Senin (27/4) sekitar pukul 22.00 Wita, jenazah korban telah dimakamkan di Setra Desa Songan. “Kami tidak menyangka kalau korban akan pergi dengan secepat itu, dan dengan jalan yang memilukan,” ujarnya dengan nada sedih.

Masyarakat yang resah dengan adanya anjing liar di seputaran lokasi, meminta dinas terkait melakukan eliminasi. Sebanyak sembilan ekor anjing liar telah dieliminasi oleh Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP2) Bangli per Selasa (28/4).

Sementara itu, instansi terkait di Pemkab Bangli dan aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait hal ini. Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Bangli, I Dewa Gede Oka Darsana saat dikonfirmasi, Selasa (28/4) membenarkan adanya peristiwa tersebut. Kata dia, kejadian tersebut terjadi pada Senin (27/4) kemarin. “Ya benar, kejadiannya terjadi kemarin,” ujarnya. 

Diketahui bahwa anak tersebut digigit anjing saat bermain di depan warung. Korban mengalami luka serius di leher dan wajah.

Oka Darsana menjelaskan, kejadian terjadi pada Senin (27/4) sekitar pukul 16.30 Wita. Saat itu, kata dia, korban setelah mandi bersama ibunya, langsung pergi bermain di depan warung. Sementara anak tersebut ditinggal mandi oleh ibunya. 

“Pasien sehabis dimandikan oleh ibunya main di depan warung, dan ditinggal mandi oleh ibunya sekitar 10 menit. Sehabis mandi, ibunya sudah melihat anaknya terkapar di depan warung yang saat itu sudah ada anjing disampingnya,” ungkap Oka Darsana.

Diduga saat digigit anjing, anaknya telah menangis minta tolong. Namun karena saat itu sedang hujan lebat, sehingga tangisannya tidak terdengar. “Saat itu hujan sangat deras sehingga tidak kedengaran suara anaknya saat digigit anjing,” ujarnya.

Pasca kejadian itu, sekitar pukul 16.30 Wita, korban langsung dibawa ke Puskesmas Kintamani V, untuk mendapatkan pertolongan dan selanjutnya di rujuk ke RSUD Bangli. “Tiba di IGD RSUD Bangli pukul 18.05 Wita, kondisi pasien sangat lemah, tidak sadar, nadi sangat lemah, dan mengalami henti jantung,” ungkapnya.

Saat itu, pihak medis telah memberikan tindakan resusitasi. Namun pasien tidak ada respon dan dinyatakan meninggal pukul 18.20 Wita. “Ditemukan luka robek diduga karena gigitan anjing yang luas di sekitar leher dan wajah yang mengakibatkan perdarahan massif,” ungkap Oka Darsana.

Tim lintas sektor di Pemkab Bangli juga telah menindaklanjuti kasus ini. Oka Darsana mengatakan, pihaknya bersama Dinas PKP2 Bangli, serta pihak kecamatan dan Puskesmas sedang turun ke lokasi kejadian, untuk memastikan kejadian tersebut.

“Hari ini (kemarin) tim dari Dinkes, Dinas PKP, Kecamatan, dan Puskesmas sedang turun melakukan penelusuran,” ujarnya. Terkait apakah anjing itu rabies atau tidak, pihaknya masih menunggu hasil penelusuran dan penyelidikan tim di lapangan. “Hal ini masih kita selidiki,” jelasnya.

Dalam mengantisipasi rabies, pihak terkait melakukan eliminasi terhadap anjing di seputar rumah duka. Pasca kejadian tersebut, Dinas PKP Bangli melakukan eliminasi terhadap sejumlah anjing di sekitar TKP.

“Tim PKP Bangli sudah melakukan eliminasi terbatas pada anjing di sekitar rumah duka, 9 ekor sudah dieliminasi. Tim di sekitar rumah duka sudah melakukan KIE untuk penanggulangan rabies termasuk edukasi agar anak di bawah umur perlu pengawasan yang baik,” jelas Oka Darsana.

Kepala Dinas PKP Bangli, I Wayan Sarma mengatakan, pihaknya bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangli telah turun ke Tempat Kejadian Perkara (TKP). Di sana, pihaknya mendapati warga setempat resah terhadap keberadaan anjing liar di seputaran lokasi.

Merekapun meminta agar anjing liar tersebut dieliminasi. Dan, pihaknya telah melakukan eliminasi. Total ada sembilan ekor anjing liar yang telah dieliminasi.

“Tidak ada indikasi rabies. Eliminasi dilakukan atas permintaan masyarakat untuk mengurangi risiko penularan rabies dan gangguan keamanan,” ujarnya. (weg)

Vaksinasi - Pelaksanaan vaksinasi di wilayah Jalan Pulau Obi dan Jalan Pulau Komodo, Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng, Selasa (28/4/2026). Vaksinasi ini menindaklanjuti kasus gigitan anjing yang memakan hingga 19 korban.
Vaksinasi - Pelaksanaan vaksinasi di wilayah Jalan Pulau Obi dan Jalan Pulau Komodo, Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng, Selasa (28/4/2026). Vaksinasi ini menindaklanjuti kasus gigitan anjing yang memakan hingga 19 korban. (Tribun Bali/ISTIMEWA)

96 HPR di Buleleng Mulai Di-VAR

Sementara itu, teror gigitan anjing yang menggigit 19 orang di Kelurahan Banyuning, Kecamatan/Kabupaten Buleleng telah ditindaklanjuti. Sejumlah hewan penular rabies (HPR) telah disuntik vaksin anti rabies, untuk menekan kasus gigitan serupa. 

Pelaksanaan vaksinasi telah dilakukan pada Sabtu (25/4), pasca kasus gigitan pertama. Kegiatan ini terus berlanjut hingga Selasa (28/4). 

Kasi Pemerintahan Kelurahan Banyuning, Putu Novi Mahendra, mengatakan pelaksanaan vaksinasi anjing difokuskan pada dua lokasi. Yakni jalan Pulau Obi dan jalan Pulau Komodo.

“Alasannya karena dua lokasi ini termasuk tempat terjadinya kasus gigitan pertama. Selain juga karena banyaknya permintaan vaksinasi,” ucap Novi.

Lokasi vaksinasi pertama fokus di sekitar pasar Banyuning. Total anjing yang telah divaksin sebanyak 48 ekor. Sedangkan pada vaksinasi kedua, tercatat sudah 96 anjing dan tiga ekor kucing yang divaksin. 

“Kami melaksanakan vaksinasi terhadap hewan peliharaan secara door to door, maupun yang diliarkan,” ujarnya.

Pelaksanaan vaksinasi melibatkan instansi terkait. Mulai dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikaanan (DPKPP) Buleleng, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Kepala Lingkungan dan Linmas. 

Walaupun hingga kini total 147 HPR telah divaksin, Novi mengatakan jumlah tersebut belum mencakup seluruhnya. Sebab secara total, wilayah Banyuning terdiri dari enam lingkungan.

“Rencana ke depan tentu vaksinasi akan menyasar lingkungan sisanya. Kami akan koordinasi dengan kepala lingkungan setempat, agar pelaksanaan vaksinasi bisa dipusatkan di satu titik. Jadi masyarakat yang proaktif membawa peliharaannya,” pungkasnya. (mer)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.