TRIBUNBATAM.id, BATAM - Dua dari tiga guru di Sekolah Djuwita Batam mengalami trauma mendalam dan disebut enggan kembali mengajar setelah mengalami intimidasi dari sejumlah pria yang diduga preman, yang dibawa oleh seorang wali murid.
Sumber TribunBatam.id menyebutkan, pascakejadian tersebut kondisi psikologis para guru sangat terguncang. Mereka bahkan terus menangis usai insiden itu.
Melihat kondisi tersebut, pihak sekolah yang khawatir akhirnya mengambil langkah dengan membawa kedua guru tersebut ke psikiater untuk mendapatkan penanganan.
"Mereka terus menangis. Selama ini mereka hanya mengajar anak-anak kecil, bahkan usianya di bawah tiga tahun. Tidak pernah menghadapi situasi seperti ini, apalagi sampai diintimidasi dan dipaksa seperti itu," ujar sumber tersebut.
Selama ini, para guru tersebut terbiasa berinteraksi dengan anak-anak yang masih balita, yang dikenal polos dan menggemaskan. Situasi mencekam seperti yang mereka alami menjadi pengalaman yang sangat mengguncang.
Untuk pertama kalinya mereka dihadapkan pada tekanan dan intimidasi dari orang dewasa dengan sikap agresif, hingga membuat mereka ketakutan dan mengalami trauma.
Trauma itu semakin membekas saat mengingat kejadian di dalam ruangan, ketika mereka dipaksa menandatangani sesuatu dan disodori makanan secara paksa ke arah mulut mereka.
Baca juga: Penyebab Perundungan di SMKN 1 Bintan Terungkap, Korban Dianiaya Karena Lambat Kumpulkan Tugas
Aksi premanisme terjadi di salah satu sekolah swasta ternama di Kota Batam. Sekolah Djuwita yang berada di kawasan Batam Centre didatangi sejumlah pria yang diduga preman dan melakukan intimidasi terhadap tiga guru Play Group di sekolah tersebut.
Saat ini, para pelaku intimidasi tersebut telah diperiksa oleh Satreskrim Polresta Barelang.
Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol Debby Tri Andreastian, saat dikonfirmasi pada Selasa (28/4/2026) sore, membenarkan adanya kasus tersebut.
Ia mengatakan, pihak sekolah telah membuat laporan polisi dan kasus ini sudah ditangani oleh Unit Jatanras Polresta Barelang.
"Sudah ada laporannya. Kami juga telah memeriksa sejumlah orang dan meminta keterangan dari pelapor. Saat ini kasus masih dalam proses penyidikan," ujar Debby.
Berdasarkan keterangan sementara, peristiwa itu terjadi pada Selasa, 21 April 2026 sekitar pukul 13.45 WIB. Sejumlah pria tersebut datang ke Sekolah Juwita bersama seorang wali murid berinisial S.
Diketahui, anak dari S sebelumnya enggan masuk sekolah selama dua hari. Saat diantar ke sekolah, anak tersebut kembali menangis di gerbang dan menolak mengikuti kegiatan belajar.
Melihat hal itu, ibu dari S diduga tidak terima dan meluapkan kemarahannya dengan mendatangi pihak sekolah. Namun, ia tidak datang sendiri, melainkan membawa sejumlah pria yang kemudian diduga melakukan intimidasi.
Setibanya di sekolah, tiga guru dikumpulkan dalam satu ruangan. Mereka terdiri dari guru yang mengajar anak tersebut, mantan guru yang pernah mengajarnya, serta satu guru lainnya.
Aksi tersebut terekam kamera CCTV. Dalam rekaman, terlihat ibu dari S mengenakan pakaian berwarna hijau, berjalan mondar-mandir sambil merokok elektrik (vape) di hadapan para guru.
Gerak-geriknya menunjukkan emosi, bahkan beberapa kali ia terlihat menunjuk-nunjuk para guru saat berbicara.
Yang lebih memprihatinkan, dalam rekaman tersebut ia juga terlihat membawa sebungkus nasi Padang dan menyodorkannya secara paksa ke arah mulut para guru saat situasi berlangsung tegang.
Di bagian akhir video, sejumlah pria berbadan besar dan bertato turut masuk ke ruangan dan mendekati para guru.
Mereka diduga melakukan intimidasi, bahkan menggeser meja di hadapan guru-guru tersebut seolah menunjukkan tekanan. (Tribunbatam.id/Setiawan_koe)