Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Fatimatuz Zahroh
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mencari solusi guna mengatasi masalah banjir tahunan yang terjadi di kawasan Bengawan Jero Kabupaten Lamongan.
Bagaimana tidak, masalah banjir di kawasan ini cukup berat. Bahkan banjir yang terjadi di sana bisa menggenang hingga empat bulan lamanya dan merendam lebih dari 20 desa.
Plt Kepala Dinas PU Cipta Karya Provinsi Jawa Timur I Nyoman Gunadi menegaskan bahwa secara topografi, kawasan Bengawan Jero adalah cekungan seperti mangkok. Sehingga jika terjadi banjir maka mekanisme yang dilakukan harus menggunakan pompa.
“Namun begitu skema bagaimana mengeluarkan air ini sebenarnya sudah ada sistem yang sedang disusun dan terus berprogres oleh pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten,” kata Nyoman pada Tribun Jatim Network, Selasa (28/4/2026).
Sejumlah opsi solusi yang ada diantaranya ada hasil kajian dari JICA Jepang, yang menyatakan banjir bisa diatasi dengan melakukan normalisasi atau pelebaran sungai Blawi, Malang, Corong, dan juga Mireng.
Serta normalisasi sungai Dinoyo, Keputran, Wangen, dan juga Manyar. Akan tetapi opsi tersebut memakan waktu yang lama dan juga kebutuhan anggaran yang besar.
“Namun ada opsi solusi yang perlu kita dorong bersama-sama yang lebih cepat yaitu penuntasan Jabung Ring Dyke. Jadi tanggul Jabung ini sudah dimulai proyeknya sejak tahun 2012, tapi sampai saat ini belum selesai,” tegasnya.
“Padahal ini cukup efektif untuk menurunkan risiko banjir di kawasan Bengawan Jero karena kapasitasnya yang besar dan menjadi sodetan untuk mengalirkan debit air sungai Bengawan Solo ke laut,” imbuhnya.
Sekretaris Dinas PU SDA Jatim Fauzy Nasruddin menambahkan Jabung Ring Dyke dibangun dengan anggaran pusat melalui BBWS Bengawan Solo. Tanggul ini memiliki kapasitas sekitar 30 juta meter kubik.
Dengan adanya Jabung Ring Dyke ini akan mampu mengambil air sekitar 300 meter kubik per detik dari Bendungan Babat, nantinya terus dibuang ke arah laut. Sehingga air itu tidak turun ke bawah ke muara daerah Ujung Pangkah.
“Sebenarnya Jabung Ring Dyke ini sudah berprogres sangat banyak. Dari 24,4 kilometer panjang total, yang belum terbangun hanya 2 kilometer (penutupnya) dan penambahan peninggian sekitar 1,3 kilometer,” kata Fauzy.
“Tahun ini dari BBWS Solo menganggarkan sekitar Rp 58 miliar, ini untuk penyelesaian. Tanggulnya tinggal sedikit. Kalau ini sudah ketutup, sebenarnya secara teknis airnya bisa masuk, karena ada 4 pintu air,” tegasnya.
Jika tanggul ini rampung maka akan membuat muka air yang di sungai utama Bengawan Solo akan turun dan pintu Kuro bisa dioperasikan secara gravitasi.
Hanya permasalahannya di tengah daerah tanggul itu masih ada masyarakat yang beraktivitas untuk keperluan pertanian dan kini proses penyelesaian kerohiman. Hal itu yang membuat proyek ini terkendala.
“Maka dari itu secara peraturan sudah kita dorong bagaimana memberikan uang kerohiman kepada mereka. Dan ini dilakukan bertahap sebenarnya sudah,” ujarnya.
Pihaknya berharap masalah sosial ini segera diselesaikan karena sebenarnya setiap tahun ini BBWS Bengawan Solo sudah menyediakan uang sekitar Rp 50 miliar hingga Rp 60 miliar. Akan tetapi uang itu tidak terserap karena proses sosialnya yang tak junjung selesai.
“Kita pernah di tahun 2022-2023 sudah sampai sosialisasi untuk pembayaran, ternyata ada kelompok masyarakat lain yang ingin mendapatkan kerohiman yang sama sehingga proses itu restart dari awal gitu,” ulasnya.
“Jadi harapannya yang tahun ini kita akan bantu BBWS Solo untuk memperpanjang penloknya (penetapan lokasi), kemudian mereka juga bisa memproses segera uang kerohiman dari yang gelombang dua ini,” imbuh Fauzy.
Dengan bantuan penyelesaian, pihaknya berharap semua segera klir dan proyek fisik bisa segera dimulai dan pembangunan tanggul segera selesai. Sebab jika semua selesai, maka pengerjaan fisik bisa dilakukan dalam waktu kurang dari dua tahun dan permasalahan banjir di Bengawan Jero bisa segera teratasi.
“Ini judulnya mengurangi risiko ya. Karena Jabung Ring Dyke ini bisa ngambil 300 kubik air per detik untuk dibuang ke laut. Posisi sekarang kalau di Sembayat Barrage itu mengalir antara 600 sampai 800 kubik per detik, makanya pintu Kuro akan sering tertutup, airnya enggak bisa keluar,” ujarnya
“Kalau itu bisa kita kurangi 300 sehingga yang lewat di Sembayat nanti sekitar 300 sampai 400, pintunya akan lebih sering terbuka. Artinya begitu hujan air akan langsung keluar. Minimal bisa lebih cepat surut,” pungkasnya.